Rela Tinggalkan Jabatan Bupati dan Ketua Partai

0
139

Menimang Empat Kursi DPD dari Kepri

Kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapil Provinsi Kepulauan Riau hanya empat kursi. Calon yang diumumkan KPU RI saat ini berjumlah 13 orang. Pelbagai cara untuk merebut kursi tersebut. Misalnya beberapa calon merapat ke salah satu partai politik saat kampaye. Berharap suara partai meleleh untuk calon DPD.

TANJUNGPINANG – Dari 13 calon DPD tersebut ada beberapa nama yang merupakan petinggi parpol. Misalnya, Dharma Setiawan yang menjabat Ketua DPD PAN Tanjungpinang. Lalu ada nama Alfin, Ketua PKS Tanjungpinang. Syahrial sebagai Wakil Ketua DPC PDIP Tanjungpinang. Lalu ada nama Sukri Fahrial, Surya Makmur dan Hardi Hood yang merupakan pengurus Hanura dan Demokrat.

Syahrial misalnya, mengakui dia memberanikan diri menjadi calon DPD karena yakin dengan perolehan besarnya suara PDIP di tiap pemilu. ”Selama ini DPD yang nempel dengan PDIP belum terlihat. Alhamdulillah saya mendapatkan dukungan dari partai untuk maju melalui DPD dan meninggalkan pengurus DPC PDIP Tanjungpinang.

Besarnya perolehan suara PDIP pada pemilu 2014 diharapkan sejalan dengan perolehan suara DPD yang didukung PDIP. Misalnya pada pemilu 2014, suara PDIP untuk DPR RI melebihi 120 ribu sehingga PDIP mendapatkan satu kursi untuk DPR RI. Jika suara PDIP tetap sama atau meningkat saat pemilu 2019, mudah-mudahan suara saya juga kena dampak. ”Karena kita sudah berhitung soal ini,” ujar Syahrial belum lama ini di Tanjungpinang.

Dia melihat suara PDIP dari tiap pemilu di Kepri kali ini sangat banyak. Oleh karena itu, keyakinanya, pemilih PDIP akan memilih dirinya yang sudah disetujui oleh partai ketika mencalonkan DPD. Syahrial saat ini fokus melakukan sosialisasi di Natuna, Anambas sebagai kampung halamannya.

Model calon DPD merapat dengan kampanye partai juga dialami oleh Ria Saptarika ketika mengikuti pemilu. Ria yang sebelumnya kader PKS dianggap banyak kalangan dipilih oleh kader PKS se Kepri. Hal itu bisa saja menyebabkan Ria mendapatkan suara terbanyak di DPD. Ada hubungan suara PKS dan suara dirinya sebagai calon DPD. Walaupun di DPR-RI, PKS tidak mendapatkan kursi. Ria pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Kepri dan Wakil Walikota Batam dari PKS.

Sementara Haripinto caleg satu-satunya dari etnis Tionghoa. Posisi Haripinto sebagai incumbent lebih memudahkan dia untuk mendekati pemilih. Sebelumnya Haripinto merupakan anggota DPRD Provinsi Kepri.

Sedangkan Hardi Hood, anggota DPD dari Kepri yang sudah dua periode menjadi senator tetap yakin dia bertahan. Hardi termasuk senator peraih jumlah suara nomor dua di Kepri di bawah Ria Saptarika di tahun 2014. Hardi juga menjabat sebagai penasehat Partai Demokrat Kepri dan menyatakan mundur dari kepengurusan saat MK memutuskan DPD harus bebas dari pengurus partai. ”Kita berusaha dan mudah mudahan lolos,” kata Hardi belum lama ini. Bikin sampai jadi salah satu tema gerakan relawan Hardi yang sudah menyebar di seluruh Kepri.

Selain Hardi, Surya Makmur juga berasal dari Demokrat. Bahkan Surya 10 tahun menjadi anggota DPRD Provinsi Kepri. Ia merupakan Wakil Ketua Demokrat Kepri. Di pemilu 2019, ia akan bertarung di DPD bersama dengan 12 calon lainnya yang beragam latar belakang. Selain Surya ada Sukri Fahrial yang juga anggota DPRD Provinsi Kepri selama dua periode dan pernah menjadi anggota DPRD Kota Batam satu periode. Di jajaran suku Minang, Sukri tidak asing lagi.

Sedangkan di PAN, Dharma Setiawan merupakan Ketua DPD PAN Tanjungpinang. Ia berlatar belakang pengusaha dan ingin mengabdikan diri di bidang politik melalui jalur DPD. Di beberapa kesempatan disebutkan, Dharma ingin mengabdikan dirinya untuk Kepri melalui jalur non partai karena dirinya sudah yakin dengan kemampuan yang dimiliki untuk menjadi wakil senator di Senayan.

Tentu Dharma bukan tidak mungkin akan menggunakan jaringan yang dimiliki PAN se Kepri untuk memuluskan langkahnya.

Nama yang tak kalah populer di Kepri mencalonkan DPD dari partai adalah Alias Wello. Bupati Lingga ini mencalonkan DPD untuk berjuang lebih maksimal di Jakarta. Alias Wello merupakan politisi Partai Nasdem. Ia menjadi bupati Lingga menggunakan Partai Nasdem dan tercatat sebagai kader Nasdem. Dengan banyaknya calon anggota DPD dari parpol, maka peta persaingan menggunakan jaringan parpol tidak dapat dihindari. Alias Wello rela melepaskan jabatan bupati Lingga guna bertarung merebutkan empat kursi DPR dari Kepri. Sedangkan Dharma dan Alfin melepaskan jabatan strategis mereka di partai untuk berjuang merebut kursi.(Patria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here