Remahan (debris) Plastik jadi Makanan Biota Laut Kita

1
1298
Dr. Agung Dhamar Syakti

Oleh: Dr. Agung Dhamar Syakti
Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Majalah Science terbitan 2015 menuliskan Indonesia adalah negara kedua setelah China penyumbang sampah plastik di laut. Dari 5.4 juta ton sampah plastik per tahun yang dihasilkan, 0.5-1.5 juta metrik ton sampah plastik mencemari pesisir nusantara. Setiap individu di Indonesia diperkirakan menghasilkan limbah 0.5 kg dimana 10 %- nya adalah plastik. Plastik-plastik ini 83 %-nya tidak terkelola ataupun terolah. Perkiraan ini hanya menghitung 187.2 juta masyarakat Indonesia tinggal 50 km dari wilayah pesisir.

Plastik sangat sulit terdegradasi namun penyinaran oleh matahari, arus, pasang, gelombang, gigitan hewan dan bahkan mikroba dapat meremahkan plastik menjadi bentuk debris atau remahan yang lebih kecil yang jutru akan meningkatkan resiko dampak negatif akibat dimakannya remahan plastik akibat kekeliruan biota laut dalam memburu makanannya. Biota laut seperti penyu, singa laut, lumba-lumba, paus, avertebrata dan berbagai jenis ikan dapat terjebak dalam sampah-sampah berupa jaring dari nilon, sehingga dapat membuatnya terbunuh baik karena tidak dapat mencari makan atau menjadi mangsa yang mudah bagi predatornya. Tentunya, keberadaan sampah plastik di laut juga mengurangi nilai keindahan suatu situs.

Di perairan laut, sampah plastik dikatakan dapat melepas senyawa kimia aditif yang beracun, seperti nonylphenols, polybrominated diphenyl ethers, phthalates, dan bisphenol A yang digunakan sebagai bahan campuran atau tambahan (plasticizers) sebagai akibat reaksi fotooksidasi cahaya matahari terhadap debris plastik. Senyawa kimia yang terlepas dari plastik debris ini, jika termakan oleh ikan misalnya, efek bahan kimianya dapat mempengaruhi perkembangan dan reproduksi ikan akibat gangguan hormon endokrin. Gangguan ini yang bahkan dapat menyebabkan perubahan jenis kelamin pada ikan atau lebih dikenal sebagai imposex.

Terkait ukuran debris, semakin kecil ukuran remahan semakin tinggi rasio luasan permukaan plastik dan meningkatkan peluang plastik menjerap bahan bahan pencemar lain seperti pestisida, polychlorinatedbiphenyl, polycyclic aromatic hydrocarbons dan logam berat. Bahan-bahan pencemar tersebut diketahui bersifat pencetus kanker (karsinogenik), menyebabkan mutasi genetik (mutagenik), dan merusak embrio (teratogenik) yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan biota bila masuk ke dalam tubuh. Bahan-bahan pencemar ini tersimpan dalam jaringan lemak dan organ hewan laut yang diteruskan kepada pemangsa yang memakannya dan secara terus-menerus menjadi lebih terkonsentrasi dalam jaringan tubuh hewan-hewan pemangsa yang kedudukannya lebih tinggi dalam rantai makanan (food chain).

Sebagai konsekuensinya, apex predator, dipuncak rantai makanan dengan masa hidup panjang akan mengakumulasi lebih banyak bahan toksik dalam sistem organnya, kondisi ini sering disebut sebagai biomagnifikasi. Dapat dibayangkan jika manusia sebagai apex predator tertinggi mengkonsumsi biota laut yang mengakumulasi remahan plastik. Singkatnya, efek sampah laut secara kimia cenderung meningkat seiring menurunnya ukuran partikel debris, sedangkan efek secara fisik meningkat seiring meningkatnya ukuran debris.

Dampak lain dari sampah plastik yang harus dimitigasi adalah peran sampah plastik sebagai vektor yang memfasilitasi perpindahan spesies dari dan ke daerah lain. Pendeknya, sampah plastik yang terapung di laut dapat menjadi plasticsphere bagi berbagai organisme seperti bakteri, diatom, alga, teritip, hidroid dan tunicates. Species allient ini dapat bersifat invasif ketika masuk ke dalam ekosistem baru sehingga menyebabkan perubahan dalam komposisi spesies atau bahkan kepunahan dari berbagai spesies pada ekosistem barunya.

Kejadian pencemaran laut oleh plastik di laut atau bahkan di samudra dilaporkan pertama kali pada jurnal ilmiah pada awal 1970-an. Di Indonesia, tidak lebih dari 5 publikasi pada jurnal bereputasi terkait sampah plastik di laut pernah dicatat pada era 70-80an, 40 tahun telah berlalu jumlah publikasi tidak pernah bertambah, permasalahan plastik di laut seperti hilang ditelan samudra. Memang demikian adanya, remahan sampah plastik berukuran kecil dapat terbawa arus dan terpusat pada gyre atau pusaran arus dunia. Salah satu yang fenomenal adalah “Great Pacific Garbage Patch” yang berjarak ribuan kilometer dari daratan terdekat menampung lebih dari 50.000 remahan plastik per km persegi dengan luasan dari sampah remahan plastik sebesar sepuluh kali luasan pulau Jawa. Laut memang sering disebut sebagai kuburan terakhir sampah !.

Strategi dan Kebijakan
Paradigma Nimby (not in my backyard) dalam membuang sampah harus dirubah, pengelolaan limbah ataupun sampah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu sampai ke hilir dengan melibatkan stakeholder dan shareholder terkait. Komponen sistem pengelolaan sampah plastik yang perlu diperkuat : Penyelarasan institusional dari pemangku kepentingan. Didalamnya ada peraturan dan perundangan, edukasi lingkungan, meningkatkan infrastruktur dan fasilitas serta layanan pengelolaan sampah plastik serta memastikan penegakan hukum lingkungan. Setelah infrastuktur fasilitas dan layanan terbangun peluang menjadikan sampah sebagai instrumen bisnis dapat ditingkatkan seperti dengan pembuatan Bank Sampah atau jasa pemanfaatan reuse dan recycle sampah plastik.

Meskipun dapat dikatakan seditik terlambat, Kementrian Koordinator bidang Kemaritiman dalam salah satu arah kebijakan riset dan iptek kelautan adalah berfokus kepada penguatan iptek maritim bidang observasi kelautan dimana kajian marine debris akan menjadi fokus saat ini mengingat telah menjadi issu dunia dan mencoreng nama Indonesia sebagai penyumbang polutan plastik terbesar kedua setelah China. Sebagai negara poros maritim, pengelolaan sumber daya laut dan pengembangan infrastruktur kelautan harus memitigasi potensi kejadian pencemaran laut di Kepulauan Nusantara ini bila tidak ingin terus menerus memberi makan biota laut kita dengan plastik, thus, bagaimana juga dengan Kepri? ***

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here