Restropeksi: Tentang Relevansi Pendidikan Moral di Indonesia

0
1471
Immanuel Patar Maangaraja Aruan

Oleh: Immanuel Patar Maangaraja Aruan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut nilai-nilai etika menjadi semakin penting tatkala suatu sistem sosial semakin banyak dan beragam anggotanya. Itu muncul karena pertambahan penduduk, suasana ekonomi semakin kompetitif karena kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan sumber daya, dan peradaban semakin kompleks karena rekayasa dan teknologi.

Melihat kemungkinan terjadinya pelbagai bentuk konflik kepentingan antarindividu yang bisa membahayakan kelestarian komunitas, manusia telah berusaha mengatur dan membatasi kepentingan-kepentingan mereka sendiri. Dan mesti menciptakan organisasi yang berkenaan dengan kepentingan-kepentingan tersebut di komunikasikan, direncanakan, dan diatur. Organisasi itu kemudian disebut Negara, yang diharapkan dapat menerjemahkan kehendak bersama untuk menyelaraskan kepentingan dan melestarikan peradaban.

Wilayah perenungan, pengkajian, dan penghayatan tentang etika tidak banyak mengandung jawaban-jawaban “ya” atau “tidak”. Persoalan-persoalan etis memungkinkan berbagai macam alternative yang paling tepat, suatu pemahaman yang tidak hanya mensyaratkan pengetahuan teoritis dan rasionalitas nilai tetapi juga keterlibatan kognitif serta kepekaan rohani dan pengalaman empiris dalam memecahkan persoalan-persoalan moral.

Persoalan sesungguhnya adalah bahwa setiap orang tidak senantiasa dapat menyadari dan melihat dasar-dasar bagi tindakan bermoral dank arena itu seringkali mereka menyimpang dari kaidah-kaidah yang terdapat di dalam sistem nilai tersebut. Ini tidak hendak mengatakan bahwa kita tidak harus menempatkan dasar standar moral yang konsisten, tetapi justru untuk mengatakan bahwa setiap orang wajib berusaha untuk sedekat mungkin bertindak menurut kaidah-kaidah tadi. Dan untuk itu pemahaman dan penghayatan mengenai logika dan landasan berpikir bagi tindakan-tindakan yang bermoral memerlukan pembiasaan dan latihan kepekaan sejak dini. Disinilah pentingnya pendidikan moral dalam mempersiapkan manusia-manusia yang rasional tetapi sekaligus memiliki acuan moral dan naluri etis yang tinggi.

Salah satu kelemahan dalam pendidikan moral yang selama ini ditempuh ialah bahwa ancangan-ancangan yang dipergunakan dalam menguraikan gagasan-gagasan etis terkadang lebih indoktrinasi daripada pendidikan. Ajaran ajaran moral masih belum merangsang pemikiran kritis dan pelaksanaan secara konsekuen. Permasalahan yang dihadapi ialah bahwa manusia lebih mudah untuk belajar menghafal dan mengetahui daripada belajar menghayati dan menyesuaikan perilaku dengan ajaran-ajaran yang diberikan. Tampaknya sudah saatnya bahwa pendidikan moral tidak hanya dilakukan sebagai indoktrinisasi melainkan diseminasi.

Kurikulum pendidikan moral hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak hanya membahas teori-teori abstrak mengenai pentingnya nilai-nilai moral tetapi juga mengaitkannya dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung penghayatan nilai-nilai tersebut. Alangkah baiknya kalau sistem semacam ini diterapkan sejak Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Misalnya dalam sistem pengajaran di sekolah yang mengharuskan yang adanya kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, gotong royong membersihkan lingkungan permukiman kaum miskin dan ke panti asuhan. Hal yang sama juga dapat dilakukan para mahasiswa seperti pramuka, kemah kerja, studi banding, hinggah Kuliah Kerja Nyata, sehingga mereka dapat menghayati bahwa menolong orang lain merupakan sesuatu yang membahagiakan dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Hal pokok yang hendak diajarkan di dalam kegiatan-kegiatan yang langsung dengan masyarakat itu ialah terbentuknya empati dan kepribadian dalam diri setiap peserta didikan, sehingga persoalan-persoalan etis dapat dijawab dengan membentuk watak dan keberanian untuk bertindak secara benar. Dan tidak lupa juga bahwa tujuan dari pendidikan moral ialah hendak menanamkan dan mempertahankan nilai dan norma. Oleh karena itu, pendidikan moral harus menekankan pada kondisi yang akan menimbulkan penyimpangan ketimbang penyimpangan itu sendiri. Apabila hukuman atas penyimpangan itu menyangkut nilai, maka penerapannya harus tepat pada waktu dan proporsinya sehingga penumbuhan kesadaran akan pentingnya nilai yang menghindari kemungkinan adanya penyimpangan atau pelanggaran dapat terlaksana dengan baik. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here