Revitalisasi Moral Pemuda akan Kearifan Lokal Melayu

0
924
Puja Lestari Sitopu

Oleh: Puja Lestari Sitopu
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH Tanjungpinang

Kota Gurindam juga dikenal sebagai Negeri Melayu-nya Indonesia. Kebudayaan Melayu yang tertanam di sini identik dengan ajaran agama Islam. Dituturkan seperti itu dikarenakan provinsi yang beribukotakan Tanjungpinang ini sangat khas dengan budaya Melayu yang sangat kental di anut oleh penduduk baik dari segi bahasa dan adat istiadat.

Dimana hampir sama dengan budaya Melayu yang dianut oleh masyarakat di Malaysia yang merupakan Negeri Melayu nomor satu di Asia.

Di setiap daerah di Indonesia ini selalu memiliki cri khas tersendiri yang membedakanya dengan wilayah lainnya. Slah satunya yaitu kearifan lokal yang dijadikan sebagai pandangan hidup, ilmu pengetahuan dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dalam pemenuhan kebutuhannya.

Kearifan lokal dapat dimaknai sebagai sebuah sistem dan tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi dan lingkungan hidup di dalam masyarakat lokal dengan berdasarkan hal-hal yang positif.

Begitu juga dengan Kepulauan Riau, kearifan lokal di Kepri sangat kental dengan nilai-nilai Islam, sehingga budaya Islam terserap ke dalam budaya lokal di Kepulauan Riau. Dan hingga saat ini kearifan lokal itu masih dipraktikkan oleh masyarakat Melayu Kepri secara turun temurun dan diharapkan tetap terjaga dan tidak akan luntur yang membuat kearifan lokal Melayu itu punah. Adapun kearifan lokal yang masih dijalankan di Kepulauan Riau hingga saat ini di antaranya yaitu:

Baca Juga :  Menjaga Kebersihan Laut Itu Menguntungkan

Adat Bersandikan Syara’ dan Syara Bersandikan Kitabullah’
Yaitu yang memiliki makna bahwa hukum adat yang dilaksanakan harus bardasarkan hukuk agama dan hukum agama itu bersumber dari kitab suci Alquran. Dimana kita diajarkan agar dalam melakukan segala perbuatan atau pekerjaan selalu mengingat aturan adat dan agama. Tidak boleh berbuat sembarangan apalagi bertentangan dengan dengan apa yang telah diatur di dalam agama.

Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung
Yaitu yang memiliki arti bahwa dimana kita haruslah menghormati adat istiadat dimana kita tinggal. Dalam hal ini di dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau selalu memahami dan senantiasa mengikuti kebiasaan dan adat istiadat yang telah dijalankan secara turun temurun agar tidak dilupakan dan perlahan-lahan hilang dan tergeserkan akan budaya dari luar.

Gurindam 12
Yaitu ini merupakan sebuah karya seni dari seorang pahlawan nasional dan juga seorang sastrawan yang terkenal dari Tanah Melayu Kepulauan Riau yaitu Raja Ali Haji. Gurindam 12 ini merupakan salah satu kearifan lokal yang sangat identik dengan Melayu di Kepulauan Riau.

Isi dari Gurindam tersebut berisikan tentang nasihat dan aturan hidup di dalam masyarakat, penjelasan kepada masyarakat mengenai keagamaan, budi pekerti, pendidikan, moral dan tingkah laku. Dan melalui Gurindam ini diharapka masyarakat Melayu dapat hidup dengan baik sesuai sesuai aturan seperti isi dari Gurindam 12 ini.

Baca Juga :  2019, Pemilu Rumit yang Pernah Ada di Dunia

Berpancang Amanah Bersauh Marwah’
Ini merupakan lambang dan moto dari Kepulauan Riau dan memiliki arti yaitu tetap menjaga adat dan budaya guna menata masa depan yang lebih baik menuju cita cita luhur untuk mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat Kepulauan Riau.

Patah Tumbuh Gilang Berganti, Takkan Melayu Hilang di Bumi’
Ungkapan ini merupakan sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Laksamana Hang Tuah dan ungkapan ini memiliki makna dimana nilai-nilai budi pekerti yang luhur, nilai kepahlawanan harus diturunkan kepada generasi berikutnya yang akan mewarisi nilai-nilai tersebut dan proses pewarisan leluhur tidak akan putus di tengah jalan dan budaya Melayu tidak akan pernah hilang.

Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, tanpa kita sadari, gelombang globalisasi secara perlahan menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak akan musnahnya nilai-nilai lokal yang selama ini lokal yang selama ini menjadi tatanan hidup bagi masyarakat.

Kekhawatiran tersebut timbul akibat hilangnya kesadaran anggota masyarakat akan nilai-nilai keharmonisan yang terkandung dalam budaya yang di anut. Begitu halnya juga yang terjadi di Kepulauan Riau di mana nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini dijalankan sudah terbengkalai bagaikan kain kusut di gantungan yang terus menerus mangalami kemunduran.

Baca Juga :  Menyambut Indahnya Bulan Suci Ramadan

Dikarenakan seiring dengan fenomena globalisasi dan hadirnya berbagai industri di Kepulauan Riau. Jika hal ini terus berlanjut dikhawatirkan niai nilai kaerifan lokal di Negeri Melayu ini akan hilang dimakan oleh waktu karena kurangnya kesadaran masyarakat akan hal tersebut.

Dalam hal pelestarian nilai-nilai kearifan lokal tersebut yang diharapkan mengambil alih adalah peran para pemuda. Tetapi pada saat ini masih banyak pemuda yang tidak peduli akan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di daerahnya sendiri.

Dan kondisi seperti ini sangatlah memprihatinkan mengingat bahwa peran pemuda sekaranglah yang diharapkan agar kearifan lokal itu tetap terjaga dengan semangat jiwa muda yang masih membara di diri para pemuda. Pada saat ini, menurunya tingkat kepedulian pemuda akan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kebanggaan daerahnya. Para pemuda perlu melakukan revitalisasi.

Yang dimaksud dengan revitalisasi yaitu membangkitkan kembali proses, cara, dan perbuatan yang selama ini kurang berdaya. Dan pemuda yang memiliki semangat juang yang masih berkobar seharusnya menjadi agen dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ciri khas dari daerahnya.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here