Ribuan Penumpang Penuhi KM Bukit Raya

0
450
ANTRE: Penumpang saat memadati pelabuhan ketika hendak menaiki kapal KM Bukit Raya bersandar di selat lampa. f-HARDIANSYAH/tanjungpinang pos

NATUNA – Ribuan penumpang berebut menaiki kapal penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) KM Bukit Raya yang melayani rute Natuna-Surabaya. Terbatasnya transportasi yang melayani rute Natuna, penumpang rela berdesakan di lorong kapal agar bisa pulang ke kampung halaman merayakan lebaran Id ul Fitri.

Parman, seorang penumpang tujuan Pontianak mengatakan ia bersama keluarganya tidak punya pilihan untuk menggunakan transportasi selain kapal. Pasalnya, untuk transportasi pesawat udara yang disubsidi pemerintah yakni Trigana Air sudah tidak beroperasi untuk melayani rute Natuna-Pontianak.

”Sekarang dari Natuna ke Pontianak tidak ada jalur udara. Akhirnya saya beserta keluarga rela desak-desakan naik kapal, dari pada tidak mudik,” ujar Parman, kemarin. Ia menambahkan, jika transportasi di wilayah pulau mencukupi maka penumpang tidak akan berebut menaiki kapal. Menurutnya, pemerintah daerah tidak memiliki progres untuk mengatasi momen hari besar seperti lebaran untuk transportasi.

”Harusnya pemerintah sadar dengan geografis wilayahnya yang didominasi laut. Untuk itu, sarana utama yang lebih dulu dibangun harusnya transportasi. Karena penunjang perenomian Kepri adalah transportasi,” jelasnya. Untuk jalur udara, yang sebelumnya pernah ada kini tidak lagi beroperasi dikarenakan biaya penerbangan mahal. Sehingga, pemerintah tidak mampu bertahan lama untuk mensubsidi maskapai.

Hal berbeda disampaikan oleh Doni, seorang warga Serasan yang mengatakan, mungkin bagi warga yang kampung halamannya diluar Kabupaten Natuna masih bisa bisa menggunakan transportasi udara.
Namun, bagi warga yang berada Kecamatan Serasan, Midai maupun Subi harus pasrah hanya menggunakan tranaportasi laut saja.

”Kita warga Serasan selalu bersabar, walau dari sebelum Natuna menjadi Kabupaten belum pernah merasakan naik tranportasi udara. Setiap lebaran, kami hanya bisa menggunakan transportasi laut saja,” ungkapnya. Doni berharap, landasan pesawat yang ada di Kecamatan subi bekas peninggalan jaman penjajahan Jepang bisa dimanfaatkan ke depannya untuk bandara sipil.

Jika bisa, sudah pasti banyak warga Serasan, Midai maupun Subi bisa menikmati transportasi udara jarak dekat. ”Landasan bekas penjajahan Jepang itu berpotensi dapat digunakan ke depannya. Jika memang pemerintah mau memperbaikinya, sudah pasti banyak warga yang terbantukan,” harapnya. (cr25)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here