Ricuh, Demonstran Ditembak Gas Air Mata

0
648
RATUSAN Mahasiswa UMRAH membakar ban saat berdemo di kampus UMRAH di Dompak, Selasa (20/2). Aksi unjuk rasa ini berlangsung ricuh.f-suhardi/tanjungpinang pos

DOMPAK – Polisi terpaksa menembakkan gas air mata ketika aksi demontrasi mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang berakhir ricuh di Kampus UMRAH di Dompak, Senin (20/2).

Polisi juga mengamankan tiga mahasiswa yang dianggap sebagai provokator kericuhan demo tersebut. Ketiganya dibawa ke dalam Gedung Rektorat UMRAH yakni Presma UMRAH bernama Muhammad Saputra, Suaeb, dan Robito Alam.

Aksi unjuk rasa para mahasiswa UMRAH tak terkendali. Petugas kepolisian yang berjaga di luar lingkungan kampus pun terpaksa masuk untuk membubarkan aksi.

Massa yang sebelumnya berorasi hingga melakukan aksi bakar ban di depan gedung rektorat kampus, memaksa masuk ke dalam.

Selain itu, aksi saling lempar juga terjadi saat unjuk rasa tersebut. Kondisi unjuk rasa yang awalnya kondusif pun berubah ricuh. Puluhan petugas berseragam lengkap pun diturunkan untuk membubarkan aksi secara paksa. Namun, massa pun semakin ricuh.

Tak hanya sampai di situ, petugas kepolisian sempat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Kondisi yang semula kondusif pun berubah mencekam. Aksi dorong, pun mewarnai unjuk rasa kali ini.

Baca Juga :  Hancurkan Tembok Penghambat Prestasi Siswa

Polisi pun akhirnya menurunkan water canon untuk membubarkan paksa massa. Para mahasiswa perlahan mundur hingga keluar lingkungan kampus.

Sementara, Kabag Ops Polres Tanjungpinang, Kompol Afdal mengungkapkan, dalam aksi tersebut sejumlah mahasiswa diamankan. Diduga ketiga menjadi provokator dalam ricuhnya aksi unjuk rasa.

”Kita mengamankan karena diduga mereka memprovokasi terjadinya kericuhan,” katanya.

Rektor UMRAH Prof Syafsir Akhlus menyebutkan, atas tuntutan dari mahasiswa pada tanggal 12 Februari lalu, pihaknya akan penuhi diantara tuntutan permintaan maaf dari rektor, kemudian meminta transparasi keuangan, meminta didatangkan Gubernur Kepri dan menteri ke kampus.

”Di hari yang sama saya langsung mengirimkan surat kepada Menteri dan Gubernur dan meminta kehadiran mereka. Namun surat tersebut belum dibalas,” katanya.

Ia melanjutkan, sedangkan untuk transparansi keuangan sudah diproses dan sekarang sudah diunggah di website UMRAH. ”Sudah bisa dilihat di sana, untuk kasus korupsi di UMRAH diserahkan sesuai fakta persidangan,” jelasnya.

Sebelumnya, ratusan mahasiswa UMRAH kembali melakukan aksi unjuk rasa di halaman Kantor Rektorat, kampus kawasan Dompak, Tanjungpinang.

Tuntutan para mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan dan organisasi kemahasiswaaan tersebut masih sama. Yakni, meminta pertanggungjawaban rektor terhadap banyak kasus korupsi yang terjadi di lingkungan kampus.

Baca Juga :  Pejabat Galau, Ragu Tenderkan Proyek

Kasus korupsi itu telah menimbulkan kerugian negara mencapai puluhan miliar rupiah. Diantaranya, proyek pembangunan gedung ruang belajar Fakultas Ekonomi yang dianggarkan pada 2012 lalu dan nyatanya mangkrak.

Lalu ditambah lagi kasus korupsi pengadaan sarana dan prasarana (Sarpras) Program Integritas Sistem Akademik dan Administrasi (PISAA) UMRAH dengan alokasi dana Rp 30 miliar dari APBN 2015. Hingga telah menyeret Wakil Rektor, Heri Suryadi sebagai tersangka.

”UMRAH ini merupakan institusi pendidikan yang bertujuan mencetak generasi menjadi berguna dan berpendidikan. Bukan malah menjadi sarana memperkaya para petinggi di dalamnya,” teriak salah satu orator pendemo.

”Kami menuntut rektor bertanggungjawab,” tegasnya kembali.

Terkait hal ini, Dosen UMRAH, Suradji menyayangkan sikap polisi yang mengambil langkah aktif dengan menyiramkan gas air mata. ”Saya yakin adik-adik mahasiswa tidak mungkin merusak gedung kampus. Itukan dibangun dari iuran semester mereka. Mereka pasti akan menahan diri, polisi tak perlu masuk melakukan aksi itu,” tuturnya.

Baca Juga :  Pulang Imlek, Mobil Heri Terguling

Ia menambahkan sesuai dengan Perkap nomor 01 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, menggunakan gas air mata merupakan fase kelima. Itu setelah polisi memberikan peringatan agar pendemo tidak anarkis, tidak provokasi dan rusuk yang disampaikan secara lisan.

Ia menilai, mahasiswa tak ada satupun yang mempersentai diri sedangkan polisi lengkap. Kenapa harus menggunakan gas air mata yang membuat suasana mencekam.

Ia berharap polisi bisa menahan diri, apalagi unjuk rasanya dilaksanakan di kampus. Hal senada disampaikan Koordinator Lapangan Unjuk Rasa, Nandes bahwa beberapa rekannya ada yang terluka karena di pukul dan mata perih karena gas air mata. ”Kami kecewa dengan sikap polisi yang membukarkan unjuk rasa mahasiswa dengan langkah-langkah itu,” terangnya.

Ditanya terkait langkah ke depan masih akan melakukan komunikasi dan menunggu hasil atau jawaban dari rektor terkait tuntutan. (dlp/ray)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here