Rp 15 Miliar untuk Sanitasi & SPAM

0
214
Inilah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kampung Bugis yang dibangun Pemko Tanjungpinang tahun lalu dengan dana DAK. f-raymon/tanjungpinang pos

Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang Kota Tanjungpinang, bagian Bidang Cipta Karya (CK) menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp 15 miliar lebih, tahun ini.

TANJUNGPINANG – DAK tersebut untuk melanjutkan pembangunan sanitasi dan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Sekitar Rp 11 miliar untuk pembangunan sanitasi dan sekitar Rp 4,5 miliar untuk pembangunan SPAM di tiga lokasi berbeda. Menurut Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PU Kota Tanjungpinang, M Irfan, pembangunan sanitasi terpadu sebagai solusi mengatasi pencemaran limbah rumah tangga.

Di tahun ini akan dilaksanakan di 10 kelurahan, dengan 22 pembangunan sanitasi. Satu sanitasi untuk kebutuhan 50 Kartu Keluarga (KK). Dicontohkannya, di kawasan Kampung Bugis khususnya pesisir, tahun ini akan dibangun empat sanitasi. Pembangunan sanitasi di Kampung Bugis tahun ini, dinilai belum bisa menyelesaikan 100 persen kebutuhan warga di sana. Namun setidaknya sudah mengurangi.

”Saya rasa dibangun 10 sanitasi lagi di kawasan Kampung Bugis belum menyelesaikan, karena di sana lebih dari 700 kepala keluarga (KK). Tapi setidaknya sudah mengurangi, karena nantinya 200 KK sanitasinya terintegrasi,” ujarnya saat meninjau lokasi pembangunan sanitasi tahun lalu, Kamis (15/3).

Ia turun bersama stafnya Koko Sitorus sekaligus untuk meninjau lahan pembangunan sanitasi tahun ini. Menurutnya, kendala penuntasan sanitasi di Kampung Bugis dan beberapa lokasi lainnya di Tanjungpinang akibat minimnya lahan.

Padahal lahan yang nantinya dihibahkan untuk pembangunan bukan serta merta milik pemerintah, melainkan masih bisa digunakan masyarakat sekitar. Selain itu, ia menuturkan, pembangunan sanitasi bukan hanya di kawasan pesisir namun juga ada darat. Seperti yang dilakukan di kawasan RT1 dan RT2, RWVI, Kelurahan Bukit Cermin. Pembangunnya dilakukan 2017 lalu.

Di kawasan itu telah dibangun dua buah sanitasi berukuran empat kali enam meter. Lahannya merupakan hibah dari masyarakat yang juga bisa dimanfaatkan kembali. Diantaranya bisa dijadikan tempat bersantai, warung dan bahkan tempat pertemuan warga.

Dijelaskannya, program sanitasi ini dikelola oleh masyarakat bersama-sama, sama dengan proses pembangunannya. Yakni, melalui rapat bersama masyarakat, membentuk Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) sanitasi. Ini yang bertugas memelihara dan bahkan menentukan iuran.

Sambung dia, sesuai kesepakatan masyarakat ada yang menetapkan iuran Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per bulan. Dari dana ini digunakan untuk membayar obat, yang membuat air tinja menjadi air yang tak mencemari lingkungan. Sedangkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) memiliki peranan penting di awal pembangunan. KSM dibentuk untuk ikut merencanakan, melaksanakan, mengawasi kegiatan pembangunan.

”Setelah pembangunan selesai baru membentuk KPP melalui SK Kelurahan yang bertugas mengawasi sanitasi. Mereka yang bertugas juga mengusulkan harga atas kesepakatan masyarakat,” terangnya.

Sedangkan pembangunan SPAM tahun ini dilakukan di tiga lokasi. Diantaranya Kampung Bulang, Kampung Kolam, Gang Salam, Kelurahan Sungai Jang dan Pinang Kencana. Pembangunan SPAM di Kampung Bulang dan Kampung Bulang merupakan sumur bor. Diperkirakan dalamnya sekitar 120 meter. Sedangkan di Pinang Kencana merupakan embung. Proses pekerjaannya lebih mudah.

Ia menuturkan, pembangunan SPAM sudah termasuk sambungan selang ke rumah-rumah masyarakat lengkap dengan meterannya. Sehingga pengelola yang nantinya dibentuk, mudah menghitung iuran masyarakat per bulannya. Pengelolaannya hampir sama dengan sanitasi, dibentuk oleh masyarakat namun di bawah koordinasi UPTD SPAM yang sudah dibentuk Pemko.

Pekerjaan ini sudah dilakukan di beberapa tempat sejak tahun lalu. Masyarakat sudah bisa menikmati air lebih mudah juga lebih murah. ”Tarif yang disepakati setiap lokasi berbeda-beda, antara Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kubik atau 1.000 liter,” ungkapnya. Sambung dia, ini jauh lebih murah bila membeli air tangki yang diperkirakan Rp 50 ribu per kubik.

Hal senada disampaikan warga Kampung Kolam, Kelurahan Sungai Jang, Jamsi, bahwa keberadaan sanitasi membuat lingkungan warga pesisir lebih bersih dan diharapkan berdampak kepada kesehatan masyarakat lebih baik. Terkait rencana pembangunan sumur bor di kawasan itu sudah di ketahui, ia atas nama pribadi dan masyarakat mengaku sangat senang.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, menilai air masih menjadi kebutuhan utama yang diinginkan. ”Kami bersyukur jika sumur bor jadi dibangun tahun ini, karena biaya kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari sangat mahal. Kami biasa harus beli per tangki,” terangnya.

Irfan menambahkan, pembangunan belum di mulai. Kini masih tahap sosialisasi dan pembentukan KSM untuk sanitasi persiapan berkas sebelum lelang pembangunan sumur bor. Warga setempat agar pembangunan SPAN dan sanitasi agar segera dilakukan, agar warga setempat bisa memanfaatkan.

Dan, warga juga minta, pembangunan ini benar-benar diawasi bersama agar pembangunanya sesuai dengan harapan masyarakat bersama. Bisa difungsikan dengan baik dan sama merawatnya agar tetap bisa difungsikan.(DESI LIZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here