Rp 2,2 Triliun Duit Baru Beredar

0
702
Gusti Raizal Eka Putra

BATAM – Sosialisasi penggunaan pecahan uang baru sangat efektif dilakukan menjelang lebaran. Hal itu terlihat dari tingginya penukaran uang pecahan rupiah selama Ramadan hingga Idul Fitri. bahkan jumlahnya d iatas perkiraan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri. Semula, BI memperkirakan penukaran pecahan rupiah sekitar Rp2,06 triliun. Realisasinya ternyata mencapai Rp2,2 triliun. Banyaknya penukaran pecahan rupiah itu, diperkirakan karena faktor pecahan uang rupiah baru.

Demikian diungkapkan Kepala BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Senin (10/7) di Batam. ”Pada bulan ramadhan dan idul fitri, ada peningkatan outflow atau uang keluar dari target. Sedikit diatas target dari Rp2,06 triliun target, realisasi 2,2 triliun” ungkapnya. Menurut Gusti, peningkatan penukaran uang pecahan selama ramadhan dan idul fitri itu, dikarenakan BI yang baru mengeluarkan uang pecahan baru. Dimana, pecahan uang baru yang dikeluarkan, Rp1000, 2000, 5000, 10.000, 20.000, 50.000 hingga 100 ribu.

Baca Juga :  BP Promosikan Wisata Batam

”Masyarakat sangat antusias untuk mendapat uang baru. Makanya transaksi penukaran uang, meningkat,” katanya. Ditanya stok uang pecahan baru, Gusti mengaku masih ada. ”Kita masih punya stok kalau dibutuhkan. Kan, pencetakan uang baru masih terus. Sejak kita terbitkan uang baru dicetak secara rutin. Secara alamiah uang barunya nanti akan menggantikan uang lama,” imbuhnya.

Sementara untuk inflasi, Gusti mengungkapkan pada Juni 2017, inflasi sebesar 1,04 persen (mtm) atau 4,73 persen (yoy). Inflasi itu meningkat dibanding Mei sebesar 0,54 persen. Secara tahunan, inflasi kepri pada Jui lebih tiggi dibanding inflasi nasional sebesar 0,69 persen. Kondisi itu dinilai karena kelompok komoditas administered price menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,91 persen. Diikuti volatile foods denga andil 0,15 persen.

Baca Juga :  RSBP Kerjasama Tangani Jantung dan Otak

”Aministered price bersumber dari tarif angkutan udara dan tarif listrik. Kelompok volatile food disumbang bayam, kacang panjang dan beras,” bebernya. Sementara untuk kelompok inti, mencatatkan deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) dibanding bulan sebelumnya. Andil terbesar disumbang komoditas minuman ringan dan meja kursi tamu. (MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here