Ruang Pelestarian Arab Melayu Resmi Dibuka

0
889
FOTO BERSAMA: H Lis Darmansyah, Syahrul, Rida K Liamsi, Abdul Razak, Toto Sucipto bersama dengan tokoh masyarakat, foto bersama usai meresmikan Ruang Pelestarian Arab Melayu, Sabtu (5/8). F-YOAN/TANJUNGPINANG POS

Kelurahan Tanjungunggat melalui Karang Taruna berhasil menciptakan wadah pembelajaran kebudayan bernama Ruang Pelestarian Arab Melayu. Ruang Pelestarian Arab Melayu ini langsung diresmikan Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Sabtu (5/8).

TANJUNGPINANG – Dengan memenfaatkan ruangan pertemuan kelurahan, Ruang Pelestarian yang digagas oleh Rudy Irwansyah ini diyakini mampu menjadi pilar kebudayaan pada generasi mendatang.
Saat peresmian dihadiri sederet pejabat Pemko, Kepala Dinas, Ketua Lembaga Adat Melayu, pelaku adat hingga mendatangkan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya.

Acara peresmian tersebut belangsung hikmat dengan tema yang kental nuansa Melayu tradisional. Lurah Tanjungunggat, Said Fatulloh menyebutkan, ide mendirikan Ruang Pelestarian Arab Melayu dari Karang Taruna Tanjungunggat. Ruangan ini menjadi tempat pelajar belajar tentang Melayu. Baik kesenian, budaya dan Arab Melayu. ”Biar anak-anak Melayu tahu tentang sejarah, adat, bahasa dan semua yang berkaitan dengan Melayu,” kata Said.

Baca Juga :  Rumah Dinas Pimpinan Dewan Mulai Diperbaiki

Sementara itu, Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah memberikan apresiasi pada Karang Taruna Tanjungunggat dan Kelurahan Tanjungunggat, yang menciptakan inovasi untuk masyarakat. ”Ini langkah berani. Hebat. Banyak generasi muda tak paham budaya Melayu. Banyak contoh, seperti prosesi tepung tawar yang tak dipahami maknanya,” kata Lis yang melanjutkan bahwa identitas Melayu harus diciptakan.

Seperti pemberian nama jalan di Tanjungpinang. Kantor-kantor pemerintah idealnya diberi nama Melayu. ”Ini yang belum di Tanjungpinang. Lembaga Adat Melayu diminta pro aktif. Harapan kita ke depan bukan hanya Arab Melayu, tapi semua budaya Melayu harus dipelajari,” ujarnya.

Senada juga disampaikan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri, Toto Sucipto. Ia mengatakan upaya mendirikan kembali pilar budaya adalah salah satu siasat untuk menjaga eksistensinya ditengah-tengah masyarakat. Mengingat pencatatan karya budaya di Kepri masih minim.
Sejauh ini baru terdata sebanyak 79 karya budaya dengan rincian yang tercatat di Kemdikbud, baru 12 karya budaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. ”Data base Kemdikbud baru tercatat 7.241 karya budaya. Nah, Kepri baru mencatat 79 karya budaya. Dari jumlah itu, baru 12 karya budaya yang ditetapkan menjadi WBTB Indonesia. Masih sedikit sekali,” ungkap Toto.

Baca Juga :  Tahun Politik Diharapkan Ekonomi Membaik

Di hadapan Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Toto mengharapkan, segala komponen masyarakat, termasuk Karang Taruna aktif melakukan pencatatan karya budaya tak benda. Sebabnya, di Tanjungpinang masih banyak karya budaya yang belum dicatat. ”Saya contohkan banyak kuliner. Salah satunya epok-epok itu belum dicatatkan. Tanjak juga belum. Jangan kalau negara atau daerah lain mencatat, baru sibuk. Ayo catat dan catat. Formulir pencatatan dan penetapan ada di dinas kebudayaan, juga ada di Kantor BPNB Kepri. Di website kebudayaan Kemdikbud juga bisa diakses,” ujarnya.

Baca Juga :  Awal Desember, Operasi Pasar Dimulai

Untuk pengetahuan bersama, sejauh ini karya budaya yang telah ditetapkan jadi WBTB nasional sebanyak 444 karya budaya. Dari Kepri baru 12 karya budaya. ”Tahun 2017, Kepri usulkan 23 karya budaya. WBTB yang lolos hanya Tarian Bejenjang dari Lingga dan Tari Inai juga dari Lingga,” sebutnya.(YOAN)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here