Ruang Udara Natuna Dikontrol Negara Asing

0
3342
LATIHAN: Dua unit pesawat tempur Indonesia saat latihan pengamanan udara di Natuna, belum lama ini. f-dok/tanjungpinang pos

NATUNA – Natuna sudah dijadikan salah satu basis pertahanan RI dengan memperkuat angkatan militer di sana. Namun, dari segi kedaulatan wilayah informasi penerbangan atau Flight Information Region (FIR), ruang udara Natuna belum seutuhnya dikelola Indonesia. Dua negara tetangga masih turut serta yakni Malaysia dan Singapura.

Khusus untuk ruang udara Natuna, keberadaan masih belum berdaulat seutuhnya ke dalam NKRI lantaran terdapat tiga otoritas negara yang berkuasa atas ruang udara itu. Indonesia memiliki kewenangan atas udara Natuna pada batas ketinggian 4.000 fit, Malaysia 4.000-20.000 fit dan Singapura 20.000 fit ke atas. Komandan Lanud RSA Natuna, Kolonel Pnb. Azhar Aditama mengatakan, beberapa hal yang menjadi fokus TNI AU belakangan ini, di antaranya upaya pengambilalihan regional udara Natuna berupa FIR dari Malaysia dan Singapura untuk sepenuhnya bisa terintegarasi ke dalam kedaulatan NKRI.

Baca Juga :  MTQ Harus Bisa Membumikan Alquran

Ia menjelaskan FIR adalah wilayah ruang udara tertentu yang menyediakan layanan informasi penerbangan dan layanan peringatan. Mestinya, sebagai negara yang berdaulat, Indonesia berkuasa sepenuhnya atas ruang udaranya sendiri. Jangan seperti sekarang ini, ruang udara Natuna masih dikuasai Malaysia dan Singapura pada ketinggian tertentu.  ”Kalau kita terbang di atas ketinggian 4.000 kaki, harus minta izin dan bayar ke negara tetangga itu. Seharusnya ini tidak terjadi,” kata Kolonel Azhar, Senin (31/7) lalu.

Namun begitu, sambung Kolonel Azhar, Indonesia dalam hal ini pemerintah dan TNI AU tidak tinggal diam begitu saja. Saat ini berbagai langkah pengambilalihan kewenangan atas ruang udara itu mulai diupayakan. Persayaratan-persyaratan fisik yang berupa sarana dan prasarana dengan berbagai jenisnya mulai disiapkan. Demikian juga personel yang memiliki spesifikasi dalam hal kontrol udara juga turut disiapkan.

Dalam upaya ini, TNI AU menggandeng Air Navigation (AirNav) Indonesia untuk membangun kontrol udara yang akan dipusatkan di Lanud RSA Natuna. ”Kita sedang melengkapi sarananya. Terakhir TNI AU akan bekerjasama dengan Airnav untuk menyiapkan kontrol udara sebagai salah satu syarat pengambil alihan,” jelasnya.

Baca Juga :  Lahan Dikuasai Perusahaan, Warga Lapor ke Presiden

Menurutnya, potensi pendapatan negara cukup tinggi bila ruang udara Natuna bisa dikuasai seutuhnya oleh NKRI karena udara Natuna termasuk wilayah yang super sibuk di mana terdapat ratusan penerbangan yang melintas di wilayah itu setiap harinya. ”Sangat merugikan bila ruang udara kita jadi salah satu sumber pendapatan negara lain. Bisa dibayangkan betapa besar keuntungan dari ruang udara Natuna karena setiap hari ada 300 lebih penerbangan yang melintas melalui ruang udara Natuna. Semua penerbangan ini harus bayar ke Malaysia atau Singapura, tergantung ketinggian terbangnya,” ungkapnya.

Selain bernilai kedaulatan yang utuh dan bernilai pendapatan negara, keberadaan FIR juga memiliki manfaat besar dalam hal keamanan wilayah udara. Dengannya kebijakan keamanan negara bisa diterapkan sepenuhnya. ”FIR memiliki multi nilai, di situ ada kedaulatan yang utuh, ada pendapatan dan kontrol keamanan. Makanya pemerintah fokus menyelesaikannya. Targetnya 2019 FIR sudah bisa diambilalih,” tutupnya.

Baca Juga :  Serangan Siber Kian Menggila

Hal ini disampaikan Kolonel Azhar saat menggelar coffee morning dengan sejumlah wartawan di ruang VIP Bandara Lanud RSA. Kegiatan ini untuk menjalin keakraban dengan awak media. Acara itu dihadiri oleh seluruh pejabat dan perwira Lanud RSA. Keakraban pun sontak terjadi antara Danlanud dan Pejabat Lanud lainnya dengan wartawan melalui makan bersama dan diskusi ringan. (cr25)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here