Rudi Tak Restui Pabrik Plastik

0
496
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam, melakukan penyegelan terhadap perusahaan pengolahan sampah plastik, PT San Hai, di Tanjunguncang. Walikota Batam Rudi juga tak merestui pabrik itu.

BATAM – Penutupan dilakukan, karena tidak ada dokumen dan izin lingkungan. Selain itu, perusahaan ini juga mempekerjakan tenaga kerja asing hampir 30 persen.

Menanggapi penyegelan yang dilakukan anak buahnya itu, Wali Kota Batam, HM Rudi, Jumat (8/3) di Batam, mengaku belum mendapat konfirmasi dari Kadis DLH, Herman R. Namun Rudi sendiri mengaku, tidak setuju pengoperasian pabrik plastik di Batam.

”Kalau Herman sudah kembali, akan saya minta penjelasan. Hari ini Herman Rozi dipanggil ke Jakarta,” kata Rudi, terkait penyegelan perusahaan itu.

Rudi mengungkapkan dirinya tidak setuju dengan pengoperasian pabrik pengolahan plastik di Batam. Sementara dari rekaman yang beredar sekarang menunjukkan, jika pengoperasion itu atas perintah seorang pengusaha.

Baca Juga :  Gubernur Papua Barat: Kita Sepakat Damai, Damai Itu Indah

”Rekaman sudah beredar, wawancara orang di PT itu, dia juga atas perintah orang (beroperasi). Ini (pabrik plastik) mengancam generasi kalian (mendatang),” cetus Rudi.

Dijelaskan Rudi, plastik harus dilebur dan akan menghasilkan limbah. Limbah ini yang dikhawatirkan bisa merusak ekosistem. Walau plastik bisa dilebur, namun ditegaskan jika plastik tidak bisa dihancurkan.

”Tidak bisa hangus. Diolah sedemikian rupa pun, termasuk dimasak akan menghasilkan limbah. Kalau limbah bisa dibuang ke laut,” ujarnya mewanti-wanti.

Diingatkan Rudi, sejak awal dia sudah merekomendasikan agar tidak diterima pabrik pengolahan plastik. Selain itu, dipertanyakan juga keberadaan pabrik plastik yang menyerap sedikit tenaga. Itu pun banyak tenaga kerja asing dari Cina yang dipekerjakan.

”Banyak TKA dari Cina. Serapan (tenaga kerja) lokal sangat sedikit,” imbuh dia.

Baca Juga :  Pemkab Natuna Minta Jatah Gas ke Pusat

Sementara Kepala Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady mengaku sudah mengetahui penyegelan perusahaan itu. Dia juga sudah meminta anak buahnya untuk turun ke lapangan, untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya.

”Tenaga kerja asing sudah saya suruh selidiki, sudah ada tim di lapangan. UU kita membolehkan, tapi (jabatan) level tertentu,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya, Rabu (6/3), DLH Batam menyegel PT San Hai, yang bergerak di bidang industri pengolahan sampah plastik, yang didaur ulang menjadi bijih plastik. Menurut Herman, perusahaan ini mulai beroperasi di awal 2019. Namun belum memiliki dokumen lingkungan dan izin lingkungan.

Pihaknya diakui, melakukan penyegelan terhadap bahan baku, alat produksi, dan hasil produksi. Disegel sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Penyegelan dilakukan, karena menggunakan bahan baku berupa skrap plastik impor.

Baca Juga :  200 UMKM Promosikan Usaha di KSM

”Informasi yang diberikan, bahan baku yang lebih menyerupai sampah ini didapat dari Eropa, Australia,” jelas Herman.

Selain itu perusahaan juga melakukan pencucian bahan baku sehingga menimbulkan air limbah dan tidak dikelola dengan benar.

Kegiatan ini dinilai berpotensi mencemari air lingkungan. ”Mereka beroperasi pukul 08.00-16.00 dan 16.00-24.00. Sludge IPAL ditimbun di sebelah workshop. Sisa bahan baku di lapangan kurang lebih 200 ton,” imbuhnya.

Sementara terkait tenaga kerja, disebutkan jika perusahaan ini memiliki karyawan sekitar 70 orang. Sebanyak 20 di antaranya merupakan warga negara Tiongkok yang berkerja di sana.(MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here