Rumah Veteran Dieksekusi, Penghuninya Ngamuk

0
249
Eksekusi tanah dan bangunan milik orang tua Kumalasari ricuh, Rabu (19/12). f-raymon/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Kumalasari, wanita muda anak seorang pejuang kemerdekaan (veteran) menangis histeris dan mengamuk karena rumahnya di Jalan Gatot Subroto Nomor 1, Kelurahan Kampung Bulang, dieksekusi oleh Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Rabu (19/12) sekitar pukul 10.30 WIB.

”Saya minta keadilan yang seadil-adilnya. Katanya kalian orang pengadilan,” ujar wanita muda itu sambil menangis di depan pintu rumahnya.

Wanita muda itu bersama, mamanya dan keluarga lainnya tampak berjaga-jaga di depan pintu agar pihak eksekutor dari Pengadilan Negeri Tanjungpinang tidak dapat mengesekusi rumahnya.

”Jangan seperti itu. Ukur dulu yang mana dan ada seberapa banyak yang mau dieksekusi,” katanya.

Kumalasari juga berteriak ”Tanpa veteran kalian tidak bisa merdeka. Tidak bisa ini, kalian ini siapa kalau tidak ada veteran. Kalian tidak bisa merdeka. Karena rumah ini rumah ayah saya veteran, ayah saya pejuang,” ujarnya.

Menghindari percekcokan di antara mereka dengan tim eksekusi yang dijaga oleh TNI dan pihak kepolisian, akhirnya tim melakukan rapat mendadak di dalam rumah tersebut. Di antaranya penasehat hukum Kumalasari, penasehat hukum Maya, Kodim dan pihak Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Sekitar 15 menit melakukan mediasi maka didapati kesepakatan barang-barang yang ada di dalam rumah berhasil di eksekusi pihak Pengadilan Negeri Tanjungpinang.

Juru Sita Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Agus Viantina mengatakan, eksekusi dilaksanakan berdasarkan penetapan yang mana mengembalikan dan menyerahkan kepada yang berhak. Awalnya Maya di Pengadilan Negeri Tanjungpinang tergugat I Komalasari, Bambang tergugat II dan Dariem tergugat III.

”Dari itu melakukan banding dari Kumalasari, Bambang dan Dariem terhadap perbandingan Maya,” katanya.

Lanjutnya, tidak saja itu mereka Kumalasari, Bambang dan Dariem melakukan kasasi dengan termohon Maya namun untuk hasil kasasi dimenangkan oleh Maya. Dalam eksekusi ini ada dua kios, dua rumah sewa dan satu rumah induk.

”Kasasinya sudah selesai pada tahun 2012 tapi masih ada perlawanan tetapi masih dimenangkan oleh Maya. Perkara ini sudah sejak tahun 2009,” jelasnya.

Penasehat Hukum dari Kumalasari, Colderia Sitinjak menuturkan, kita sedang mengajukan pelawanan dan sudah di register di Pengadilan Negeri Tanjungpinang maka kita mohon untuk penundaan dilakukan eksekusi. ”Itu dikarenakan masih ada akta yang belum di pecahkan dari sertifikat lama,” tuturnya.

Menurutnya, pokok permasalahan ini Kumalasari meminjam uang di bank Danamon sebanyak Rp96 juta lalu. Mereka sulit untuk membayar maka dikenalkan dengan Maya maka surat tersebut ditebus di bank.

”Tetapi surat tersebut tidak diserahkan kepada Kumalasari dan di pegang oleh Maya selain itu uang pinjaman tersebut terus naik menjadi Rp120 juta dan terus naik, per bulan bungannya itu 15 hingga 20 persen dari tahun 2008,” jelasnya.

Penasehat Hukum Rio Saputra dan Indra Kelana menjelaskan, kita pengajuan untuk eksekusi di tahun 2014 dan penetapan eksekusi itu di tahun 2017 lalu. Maka baru sekarang dilakukan eksekusi yang dilakukan oleh pihak Pengadilan Negeri Tanjungpinang. Kita mempersilahkan apabila ada perlawanan atas penetapan eksekusi ini kita tetap siap menghadapi.

”Alhamdulillah sudah di eksekusi, luasnya 882 meter persegi terhadap terhadap sebidang tanah dan bangunan sertifikat hak milik,” ujarnya. (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here