Rumah Warga Roboh

0
205
Rumah milik keluarga Deslizar dan Asmawati Jalan Kota Piring, Gang Putri Riau rata dengan tanah, Jumat (22/2) kemarin. F-ANDRI/TANJUGNPINANG POS

Gagal Dapat Program RTLH

Rumah milik keluarga Deslizar yang tinggal Jalan Kota Piring, Gang Putri Riau 5, Lorong 9, RT3/RW7, Kelurahan Melayu Kota Piring, roboh dan rata dengan tanah, Jumat (22/2) pukul 05.00 WIB.

TANJUNGPINANG – Miris, rumahnya roboh termakan usia setelah tidak mendapatkan program bedah rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari pemerintah.

Rumahnya seluruhnya terbuat kayu. Ukurannya hanya 4×6 meter dibangun sejak tahun 2005. Setiap ada Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah (Musrenbang) Deslizar, bersama istrinya Asmawati selalu mengusulkan kepada pemerintah supaya rumahnya dimasukan dalam program bedah rumah atau RTLH. Tujuanya, agar rumahnya diperbaiki oleh negara.

Ia tidak mampu memperbaiki rumahnya sendiri karena pekerjaanya hanya tukang ojek. Usalnnya agar rumahnya masuk RTLH dari dana APBN maupun dana APBD selalu ditolak pemerintah. RTLH setiap tahun ada. Dananya, bersumber dana dari APBN. Tahun ini saja ada 300 lebih rumah RTLH dikerjakan.

Karena keterbaasan uang, sejak dibangun rumahnya tidak pernah ganti tiang. Ia juga sebagai peserta Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Lurah Melayu Kota Piring, Feri Ismana mengatakan, pada saat rumah warganya roboh, penghuninya tidak berada di dalam rumah.

”Benar. Itu rumah warga kita roboh karena termakan usia,” kata Feri Ismana kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (22/2).

Feri bersyukur, tidak ada korban jiwa atas robohnya rumah milik warga Kelurahan Melayu Kota Piring. Saat itu, menurut keterangan pemilik rumah sudah bangun tidur. Karena diantara mereka berdua ingin mandi. Jadi, mereka sempat keluar rumah, setelah tahu bangunan rumah miliknya mau roboh. Mereka tinggal di rumah hanya sepasang suami istri, tanpa anak.

Atas kejadian tersebut, warga sekitar serta pihak kepolisian sempat membantu mengambil barang yang dinilai berharga oleh pemilik rumah.

Salah satunya pakaian dan barang berharga lainnya. Setelah itu, pemilik rumah sempat mencari nafkah. Karena pekerjaan pemilik rumah sebagai tukang ojek.

”Sekarang mereka mengungsi di rumah saudaranya,” ucap dia.

Rumah bisa roboh, katanya, murni dikarenakan kayu yang dijadikan bahan bangunan rumah sudah rapuh. Karena rumah dibangun sejak 2005 lalu, sampai sekarang roboh.

Jadi, rumahnya roboh bukan disebabkan kena angin kencang, maupun disebabkan arus deras gelombang di perairan sungai tersebut. Karena rumah yang dibangunnya di pinggiran aliran sungai.

Sebelum roboh, lanjut dia, warga disekitar sudah mengingatkan kepada pemilik rumah. Agar bangunan rumah dibaguskan lagi. Sehingga rumah bisa berdiri dengan kokoh dan kuat. Tapi, teguran warga tidak diindahkan oleh pemilik rumah.

Ia katakan, pihaknya sudah sering mengajukan atau mengusulkan rumah milik Deslizar dan Asmawati melalui Musrenbang. Namun, usulan tersebut juga tidak dikabulkan.

Pasalnya, terkendala dengan administrasi masalah lahan. Sebab, lahan yang digunakan untuk bangun rumah bukan milik Deslizar dan Asmawati. ”Dia itu numpang lahan warga,” terangnya.

Rencananya, pihaknya akan mengadakan gotong-royong dengan warga sekitar. Gotong-royong yang diadakan untuk membantu membangun rumah untuk dijadikan tempat tinggal Deslizar dan Asmawati.

”Mudah-mudahan ada warga yang peduli untuk menyumbang bahan bangunan, seperti kayu dan sebagainya. Kita tetap mengusulkan ke Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana atas kejadian rumah roboh ini. Hanya ini yang kita bisa lakukan untuk membantu warga tersebut,” sebut dia. Ia juga berharap agar warga kita mendapatkan bantuan dari donatur. (ANDRI-ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here