Rumahnya Mirip Kandang Ayam di Tengah Kota

0
696
Gubuk: Zailani mengenakan seragam kerjanya di depan gubuk tempat tinggalnya. F-yoan/tanjungpinang pos

Ketabahan Zailani Menghadapi Hidup dari Memulung

Gubuk rapuh itu masih tetap berdiri, meski ada ratusan celah lobang di atapnya yang terbuat dari tumpukan karung dan kantong plastik. Di dalam gubuk itu ada nyawa renta yang berdetak.

TANJUNGPINANG – Lingkungan di sekitar gubuk itu adalah orang-orang berkecukupan. Bahkan, ada beberapa rumah yang berjarak tidak sampai 20 meter dari gubuk kumuh tersebut berada merupakan kediaman ASN dengan golongan mumpuni di lingkungan Pemko. Dalam penjelajahan Tanjungpinang Pos, lokasinya tepat berada di jantung Kota Tanjungpinang. Rutenya cukup mudah dijangkau, karena gubuk yang berada di perbatasan Rawasari-Tanjung Unggat itu merupakan satu-satunya rumah yang mirip kandang ayam ketimbang tempat tinggal.

Di dalamnya, tinggal seorang renta bersama si bungsu yang hanya mampu mengenyam pendidikan dasar, itupun tidak tuntas. Aroma menyengat dari ribuan jenis sampah langsung menyapa hidung awak media yang sedang memarkirkan kendaraan tepat di hadapan gubuk. Suasana hening hanya terdengar sayup ngeong anak kucing di celah-celah kardus. Adalah Zailani (65), yang sedang terlelap pulas merajut mimpi di tengah tumpukan sampah yang menjadi alas tidurnya. Seorang remaja, yang belakangan diketahui bernama Zainal, merupakan si bungsu yang masih setia menemani sang ayah yang sigap menyapa wartawan.

”Kejap ye Bang, bapak lagi tidur, kami bangunkan dulu,” kata lelaki yang dikarunia wajah bersih berhidung bangir tersebut. Sempat terlintas untuk mencegah terganggunya istirahat, namun belum sempat kalimat itu terucap, Zailani sudah duduk di pinggiran pintu yang terbuat dari sisa-sia dahan pohon.

”Maaflah ye lame nunggu, atok tetidur. Soalnye bejage malam sampai subuh,” ucapnya dengan nada khas melayu. Ya… Zailani di usianya yang renta masih semangat mengais rezeki. Untungnya dia diberikan belas kasihan sebagai petugas jaga malam di parkiran laut jaya.

”Belasan tahun atok pemulung, sekarang jage parkir. Gaji atok cume Rp 500 ribu, cukup tak cukuplah, sebab nak mulung lah tak kuat lagi, kadang si bungsu (Zainal, red) yang bantu-bantu juga,” ucap mantan petugas kebersihan di era Kota Administratif Tanjungpinang ini.

Wajah lelaki tegar itu tampak rapuh ketika ingatannya menyibak musibah yang menimpanya, tanpa sadar, airmata lelaki tabah itu menetes ke tanah, “Dah puluhan tahun atok hidup macam begini, pahit manis hidup sudah ditelan, tapi mengapalah cobaan tak habis-habis, umur sudah semakin tua, bimbang rasanya mau mati kalau keadaan seperti ini, apa jadinya nasib si bungsu,” tuturnya yang mengaku musibah kebakaran pernah menimpa kediamannya yang berjarak hanya beberapa depa dari gubuknya saat ini. Ditambah lagi, pin kaki yang bersarang di betis kiri si bungsu sudah belasan tahun tidak dicabut, karena keterbatasan biaya operasi, sementara kekasih hidupnya, sudah lebih dahulu berpulang kepada sang pencipta.

Untuk kerja, Zailani merangkul tenaga ekstra untuk berjalan kaki sejauh 5 Km, dulu pernah dia mempunyai harta berupa sepeda yang dibeli dari hasil tabungannya memulung. Tetapi, waktu telah menjadikan harta berharga milik zailani itu karatan dimana-mana. “Kalau selagi bisa dikayuh, atok kayuh, tapi sepeda tu sudah berkarat, dah jadi besi tua,” terangnya sambil menunjukkan ke arah sepeda tua yang dipenuhi warna karat tergantung didahan pohon. Bibir keriput itu bertutur pelan, mengucapkan harap yang mungkin mustahil baginya.

”Kalau boleh bermohon, Atok cuma ingin sepetak rumah sederhana untuk berteduh, biarlah tak ada listrikpun tak apa, yang penting tidak sejuk kalau malam, dan tidak basah kalau hujan,” ujarnya dengan ragu ketika ditanya tentang harapan terbesarnya. Takut terlalu berat harapan yang minta, Zailani melanjutkan dengan mantab.

”Kalau tidak terkabulpun tak masalahlah, yang penting atok bise kumpul duit beli atap, dapat 4 keping seng jadilah supaye lelap tidur,” ujarnya dengan sederhana. Gubuk rapuh tersebut memang tidak bisa dilakukan bedah rumah, karena sesuai aturan yang berlaku, tanah tempat tonggak pondasi rumah haruslah milik sendiri. Sementara saat ini, gubuk itupun berdiri atas belas kasihan orang yang memberikan tumpangan lahan sementara waktu.

Namun demikian, ada solusi sederhana yang bisa mewujudkan keinginan lelaki renta tersebut, yakni kemurahan hati Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk menghibahkan sepetak rumah sederhana, paling tidak jauh lebih istimewa dari gubuknya saat ini. Sementara nasib si bungsu, diberikan laluan untuk tetap melanjutkan pendidikan demi merajut mimpi sederhana yang lebih layak, karena sesuangguhnya nasib manusia tidak ada siapapun yang bisa menebak.(YOAN)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here