Sagu Sabu wujud Nyata Gerakan Literasi

0
888
Tengku Aspalinda, S.Pd

Oleh: Tengku Aspalinda, S.Pd
Guru MTsN Tanjungpinang

HUT PGRI ke-72 dan Hari Guru Nasional Tahun 2017 bertemakan “Membangitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja Untuk Penguatan Pendidikan Karakter”. Tema ini selaras program Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang mulai diluncurkan akhir tahun 2016 oleh media guru.

Program ini merupakan terobosan baru abad 21 dalam dunia pendidikan, Dalam hitungan kurun waktu satu tahun program Sagu sabu di bawah bendera media guru mampu melahirkan ratusan penulis baru dari kalangan guru di seluruh nusantara dan program ini didukung penuh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan gerakan ini untuk membangun kebiasaan menulis dan menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku dikalangan guru sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional (GLN).

Pendidikan dan literasi merupakan dua hal yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dan merupakan suatu kebutuhan bagi setiap individu, pelaksanaan pendidikan dalam upaya menumbuhkan budipekerti siswa , pemerintah melalaui Kemdikbud meluncurkan suatu gerakan literasi Sekolah, gerakan ini bertujuan agar warga sekolah (terutama guru dan siswa) memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi topik yang paling hangat didunia pendidikan di Indonesia, gencar diserukan di berbagai daerah di seluruh pelosok tanah air. Gerakan literasi menjadi menjadi suatu program yang harus diterapkan disetiap jenjang pendidikkan. Tujuan dari gerakan literasi ini meningkatkan budaya membaca dan menulis bagi seluruh warga sekolahhal ini dapat menumbuhkembangkan budi pekerti, menumbuhkan akhlak mulia.

Dilihat dari pelaksanaan dilapangan pada saat sekarang pembiasaan literasi ini masih berfokus kepada siswa, mengapa demikian pada prakteknya siswa di setiap jenjang pendidikan diharuskan membaca buku sebelum pelajaran dimulai, buku-buku yang dibaca pun bebas boleh fiksi maupun non fiksi, penerapan litersi ini sebenarnya sudah dilakukan sesuai juknis pelaksanaan GLS, dimana siswa diharapkan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan bahan bacaan selain buku pelajaran, semua itu tidak menyalahi gerakan literasi itu sendiri.

Apakah itu gerakan literasi yang diharapkan ?
Literasi bukan hanya sekedar membaca juga kemampuan menulis,guru adalah sosok yang selalu di gugu dan di tiru, guru juga tolok ukur suatu bangsa, dalam gerakan literasi ini guru sebagai indikator keberhasilan gerakan literasi itu sendiri. Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru. Sudah selayaknya setiap guru memilki kesadaran membudayakan litersi pada dirinya dengan cara mengasah kemampuan menyampaikan ide-ide, gagasan dalam bentuk tulisan.

Guru mulia karena karya,kata ini sangat pantas, sesuai dengan perkembangan zaman. Mengajar di depan kelas dengan metode, model dan segala strategi sudah menjadi menu setiap guru dan tak perlu diragukan, namun saat ini pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu ditingkatkan. Selain mengajar guru profesional adalah guru yang bisa menciptakan karya nyata, berinovasi dan menjawab tantangan masa depan dengan karyanya.

Pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 Oktober 2017 yang lalu baru saja selesai perhelatan akbar Desiminasi Nasional Literasi ajang Kesharlindung Diknas Kemdikbud, lahir guru-guru berprestasi yang diniai bukan keterampilan mengajarnya tapi karya tulisnnya (karya tulis dalam bentuk buku) ini merupakan satu ajang kompetensi yang luar biasa.

Banyaknya diantara guru masih berpikir menulis buku tidak mungkin dilakukan, jangan pernah berputus asa, guru adalah orang yang paling tepat untuk menghasilkan buku-buku yang menarik dan bermutu, kenapa demikian ?

Seorang guru yang mau mengasah kemampuan dirinya untuk menulis akan lahir karya yang indah, bermanfaat dan memiliki nilai-nilai yang mampu menumbuhkan karakter siswa-siswanya. Terlebih jika guru mau menuangkan ilmunya, pengalaman hidup dan ceritanya kedalam buku, buku-buku inilah yang kelak akan dibaca oleh siswa-siswanya maka kita yakin gerakan literasi tidak hanya sekedar program yang harus dijalankan dan hanya berfokus kepada sswa, tapi menjadi suatu yang nyata di dunia pendidikan kita. Satu guru satu buku maka guru akan menjadi pemimpin pasukan siswa-siswinya menuju garis finis literasi sesungguhnya.

Semua orang bisa menulis, jika ada kemauan itulah yang selalu dikatakan oleh CEO Mediaguru bapak Mohammad Ihsan setiap kali memotivasi para guru penulis, hal lain yang disampaikan beliau untuk renungan kita semua maka seseorang yang menulis demi memperpanjang usia, maksud yang ingin disampaikan beliau dengan menulis kita meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain yang dapat dijadikan ladang amal jariyah.Gajah mati meninggalkan gading,Harimau mati meninggalkan belang, Guru mati meninggalkan buku, maka menulislah sebelum mati.

Guru merupakan komponen penting dalam pendidikan maka Guru adalah profesi paling dekat dengan literasi, sudah saatnya para guru mempunyai kesadaran menjadikan budaya literasi menulis dan membaca menjadi suatu kebutuhan primer. Interaksi antara guru dengan siswa, prektek-praktek pembelajaran, perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu isu pendidikan, gagasan yang cemerlang merupakan ide menarik yang bisa dibukukan.

Manfaat terbesar menulisnya para guru dalam pengiat literasi dimana guru adalah orang-orang cerdas yang bisa mengabadikan pengalaman hidupnya berupa tulisan dalam bentuk buku-buku baru yang berisikan ide-ide cemerlang, gagasan serta pemikiran kreatif yang menggugah dan menjadi inspirasi sipembaca, tentunya siswa-siswi kita. Buku–buku guru inilah yang diharapkan kedepan mengisi perpustakaan-perputakaan sekolah.

Pengalaman yang didapat sebagai alumni mediaguru bergabung pada tanggal 23 September 2017 dan langsung mengikuti pelatihan menulis hanya dua hari saja, langsung dibimbing oleh CEO mediaguru Mohammad Ihsan dan Pemred Eko Prasetyo seorang mantan wartawan yang sukses menulis53 buku, luarbiasa ini adalah pelatihan tersingkat yang paling keren yang pernah saya alami, Satu guru satu buku bukan isapan jempol belaka.

Semua peserta ditantang untuk menyelesaikan naskah ( satu buku) dalam waktu satu bulan. Sampai hari ini sudah ribuan guru dari seluruh wilayah nusantara menandatangani komitmen kesiapan untuk menulis pada sepanduk yang tertulis Resolusi guru penulis 2017, Alhamdulilah terwujud sesuai yang diharapkan.

Menurut data yang dihimpun oleh mediaguru Indonesia tanggal 9November 2017 ada lima provinsi teratas guru-guru penulis di blog Gurusiana; Jawa Barat 2250, Jawa Tengah 2170, Jawa Timur 1968, DKI Jakarta 422 dan disusul Sumatera Barat 392. Dan lima Kabupaten / Kota teratas guru-guru Penulis ; Kabupaten purbalingga 378, Kota Surabaya 264, Kota Bandung 238, kabupaten Bandung Barat 231, dan Kabupaten Cianjur 227.

Dari data diatas jelas sekali bahwa pada saat ini guru-guru berlomba-lomba untuk bisa berkarya untuk berbagi walau tidak berprestasi,bekerja keras dan mandiriuntuk menghasilan tulisan sendiri, menulis jangan pernah mengharapan pamrih, niatkan menulis merupakan aktivitas dan introspeksi diri sehingga menjadi kebiasaan dalam pengembangan diri.

Pada setiap tanggal 25 November merupakan Hari Guru Nasional (HGN) dan diperingati juga sebagai hari ulang tahun PGRI dimana pada hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh guru di seluruh pelosok tanah air karena hari ini merupakan hari yang bersejarah yang mempersatukan seluruh guru di Indonesia dan peringatan hari guru setiap tahunnya merupakan penghargaan besar negara dan masyarakat terhadap jasa guru.

Pada peringatan Hari Guru Nasional tahun inimerupakan hari yang sangat spesial bagi guru-guru penulis seIndonesia, pada hari ini akan diadakan perhelatan terbesar “Temu Nasional Guru Penulis” merupakan penghargaan, penghormatan dan apresiasi tertinggi dari pihak pemimpin negeri bagi guru-guru penulis dalam gerakan literasi Nasional yang diadakan oleh MediaGuru dengan tema “ Aktif Berkarya, Menebar Inspirasi, Membangun Indonesia” pada kegiatan ini akan diluncurkan secara serentak ratusan buku-buku karya guru Se-Indonesia hasil gerakan Satu Guru Satu Buku (SAGUSABU).

Temu Nasional Guru Penulis merupakan ajang dimana guru penulis se Indonesia berdiskusi, berbagi dan bertukar pikiran yang membuka wawasan sehingga kedepan guru-guru dapat menghasilkan tulisan (buku) yang lebih berbobot dan bermanfaat, selain itu pertemuan ini mempererat silaturahmi dan memupuk rasa kebersamaan untuk mengembangkan litersi guru diseluruh pelosok negeri. Pertemuan ini juga bukan hasil seleksi melainkan hasil penempahan diri, bukan unjuk prestasi melainkan unjuk hasil karya guru penulis dari berbagai daerah.

Menulis itu berbagi, bukan untuk diri sendiri,berbagilah tulisan yang dituangkan dalam sebuah buku.Buku-buku ini kelak dibaca oleh siswa kita, maka kita mempunyai keyakinan yang sama bahwa peserta didik kita juga akan tumbuh akhlak dan karakter sehebat gurunya.

Sabu-sabu (Narkoba) menyebabkan seseorang kecanduan yang berbahaya pada dirinya, berbeda hal nya dengan SAGUSABU membuat seorang guru ketagihan menulis. Menulis ibaratkan rindu yang tiada bertepi, menyatu dalam pikiran dan hati. Mari bersama sebarkan Virus Menulis sebagai wujud nyata gerakan literasi.
“Salam Literasi”. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here