Saingi Adiknya Judika, Bikin Album Baru

0
726
PENGUNJUNG mengabadikan foto Eric Sihotang di Lapangan Pamedan Tanjungpinang, Sabtu (5/5) malam. f-martunas/tanjungpinang pos

Eric Sihotang Tampil di Festival Budaya Batak Tanjungpinang

Ribuan pengunjung yang memadati Lapangan Pamedan langsung histeris ketika Eric Sihotang melantunkan lagunya dengan suara tinggi, Sabtu (5/5) malam di acara Festival Budaya Batak 2018.

TANJUNGPINANG – Artis Batak nasional yang juga kerap diundang tampil di luar negeri dan televisi nasional itu benar-benar membuat seluruh pengunjung tidak mau bergerak dari tempat duduknya.

Bliz kamera ponsel dan kamera profesional tak henti-hentinya mengabadikan momen itu. Abang Judika Sihotang ini pun mengajak semua pengunjung bernyanyi bersamanya.

Pengunjung juga diajak bernyanyi bersama lagu yang hits dengan judul ‘Jangan Salah Menilaiku’. Penampilannya yang juga kocak dan suaranya yang khas serta melengking membuat pengunjung tidak mau pulang meski sudah menjelang dinihari.Eric mengatakan, dirinya juga sedang menyaingi adiknya Judika Sihotang. Ia segera merilis album mini pop ‘Tolong Jaga Mantanku’.

Saat pengunjung meminta menyanyikan lagu dengan judul O Duma yang dipopulerkannya, Eric sempat berseloro. ”Duma sudah jadi anggi boru (adik ipar, red),” ujarnya sambil tertawa seraya menyanyikannya sepenggal.

Tampil juga artis Batak nasional lainnya Hardoni Sitohang. Ia merupakan pemain musik tradisional Batak dan pemain musik modern. Berbagai jenis alat musik bisa dimainkannya dengan profesional. Hardoni salah satu musisi yang melestarikan alat musik Batak yang hampir punah.

Malam itu, pengunjung juga sisuguhi dengan penampilan pasangan peraga busana dari lima puak suku Batak yakni, Toba, Karo, Simalungun, Dairi Pakpak dan Mandailing Angkola.

Kemudian, ada juga penampilan Generasi Muda Batak yang tampil membawakan koor Bahasa Batak yang sudah dikreasikan hingga membuat penonton tertegun mendengarnya.

Lantunan alat musik tradisional Batak Gondang Sabangunan juga membuat pengunjung terus merekamnya. Setelah 15 tahun lebih tidak pernah ditampilkan, baru inilah dimainkan kembali.

Sehingga kerinduan warga Batak khususnya terobati setelah mendengar Gondang Sabangunan yang memang dipakai untuk acara-acara besar Batak tersebut.

Pemain Gondang Sabangunan merupakan pengurus Sanggar Budaya Batak Saor Nauli Kota Tanjungpinang yang diketuai Marihot Purba alias Macam alias Marvel. Mereka semua pemain musik Batak se-Tanjungpinang.

Kolaborasi pemain musik lokal dengan pemain musik nasional Hardoni Sitohang membuat acara makin meriah. ”Saya sudah 37 tahun di Tanjungpinang ini, belum pernah menyaksikan yang seperti ini. Hebat,” ujar salah satu pengunjung yang sejak siang sampai dini hari tak bergerak dari lokasi acara.

Ada juga penampilan tortor (tari budaya Batak, red) anak-anak Batak. Siang harinya sudah digelar tortor sesuai adat masing-masing 5 puak Batak tersebut. Acara terus berlanjut hingga malam dengan kolaborasi artis Batak lokal dengan artis Batak Nasional.

Saat anak-anak mulai tampil, Penjabat Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza datang ke panggung bersama anggota DPRD Tanjungpinang yakni Petrus M Sitohang, Hot Asi Silitonga, Mimi Betty didampingi Plt Kadis Pariwisata Pemko Tanjungpinang Raja Kholidin.

Raja Ariza pun ikut manortor dan memberi saweran kepada anak-anak tersebut yang diikuti anggota dewan, Raja Kholidin termasuk orangtua dan pengunjung lainnya.

Setelah menyerahkan bantuan alat musik Batak tradisional secara simbolis kepada Ketua Sanggar Budaya Batak, Raja Ariza pun diulosi pengurus Rumpun Batak Bersatu (RBB) Kota Tanjungpinang.

Sebelum Raja Ariza di-ulosi, Petrus M Sitohang menjelaskan arti ulos yang diberikan kepada Raja Ariza. ”Ini ulos yang panjang dan banyak rabbu-nya. Sebagai tanda doa kami agar Pak Wali panjang umur dan keturunannya banyak,” jelas Petrus.

Dengan ulos yang lebar itu juga Raja Ariza dibawa dari panggung ke tempat duduknya diiringi musik Gondang Sabangunan.

Raja Ariza mengatakan, dirinya merupakan suku Melayu. ”Tapi malam ini, saya orang Batak. Dan saya sudah terbiasa bergaul dengan orang Batak. Karena ipar saya banyak orang Batak,” kata Raja Ariza yang membuat pengunjung tepuk tangan.

Raja Ariza juga mengatakan, pemerintah (Pemko Tanjungpinang dan DPRD Kota Tanjungpinang) bersama-sama dan sepakati menganggarkan APBD untuk menggelar acara itu.

Dan ke depan, dengan komitmen bersama, acara seperti ini bisa dijadikan agenda tahunan dan menjadi agenda wisata dengan nama Festival Nusantara. Sehingga, suku yang lain di Tanjungpinang bisa juga menggelar acara yang sama.

Raja Ariza mengatakan, dirinya sangat senang malam itu. Sebagai pimpinan kota ini, ia bangga dengan sambutan warga Batak kepadanya. Pengunjung yang datang membeludak dan menyambutnya penuh kekeluargaan.

”Malam ini kita seolah-olah berada di Medan, bukan di Pamedan. Dan istilah pendatang tidak ada lagi. Karena kita di sini sudah sama-sama warga Tanjungpinang. Kita sama-sama menjaga kota ini, membangun kota,” jelasnya.

Bulan Juni nanti, kata dia, akan ada pemilihan wali kota. Perbedaan pilihan hal biasa. ”Namun kita tetap bersatu. Bersama-sama menjaga kenyamanan kota, bersama membangun kota ini,” ajaknya.***

Raja Ariza juga mengatakan, antara Batak dan Melayu banyak persamaan. Nada lagu Batak ada yang sama dengan Melayu. Kemudian, alat musiknya juga demikian. Ada alat musik Melayu yang dipakai saat penabalan raja-raja dulu.

”Kalau di kita Batak, alat musik seperti ini (Gondang Sabangunan) dipakai untuk acara besar dan menyambut para ketua puak dan ketua marga,” jelasnya.

Ia mengatakan, persamaan lain Batak dengan Melayu adalah sama-sama ada pantun. Batak juga ada pantunnya dan biasa dipakai dalam acara adat. Sama seperti Melayu yang merupakan suku budaya yang penuh pantun.

Petrus menambahkan, dirinya bersama Hot Asi Silitonga, Ahmad Dani Pasaribu dan Borman Sirait merupakan anggota DPRD Kota Tanjungpinang yang menggagas acara itu. ”Terimakasih kepada pak wali kota dan jajaran. Terimakasih kepada seluruh sahabat-sahabat saya di DPRD Kota Tanjungpinang karena telah mendukung gagasan kami hingga akhirnya kegiatan ini disahkan dan hari ini kami bisa berkumpul bersama,” jelasnya.

Hot Asi Silitonga menambahkan, suku Batak sudah menyatu dengan warga lainnya di Tanjungpinang sejak puluhan tahun silam. Bahkan, dulunya banyak orang Batak yang jadi bidan dan guru di Tanjungpinang.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here