Saking Lembut, Bisa Diseruput

0
553
Rahayu Wulandari menunjukkan silky pudding kreasinya. f-cano untuk tanjungpinang pos

Silky Pudding Mommy Queen, Tanjungpinang

INOVASI adalah kunci. Dewasa ini, menjalankan bisnis tidak bisa cuma lekas berpuas pada segala yang sudah. Namun, harus diperkuat dari waktu ke waktu. Dengan apa? Tidak lain dan bukan dengan sentuhan inovatif dan kreatif. Sebab memilih bertahan pada suatu yang ada pada arus adalah indikasi awal sebuah bisnis bisa hangus.

Rahayu Wulandari meyakini hal tersebut. Di tangan perempuan 32 tahun ini, puding tidak boleh mandek di sendok. Menurutnya, cara menikmatinya bisa dilakukan dengan ragam pilihan. Konvensional sudah mengamini puding mesti dalam mangkuk dan disendok sebelum ke mulut. Lantas siapa yang membayangkan jika kelak puding sebenarnya bisa meninggalkan sendok dan cukup dengan diseruput?

“Karena zaman juga sudah berkembang sangat cepat. Masa puding juga cuma begitu-begitu saja,” kata Ayu, awal pekan lalu.

Ide ini bermula 2016 silam. Ayu berkisah, kala itu menjajakan puding buatannya dengan mangkuk pada sebuah bazar ekonomi kreatif di lapangan Pamedan. Kala itu, Ayu melihat sendiri dengan sepasang matanya betapa repot pelanggannya menikmati puding buatannya. Apalagi sambil menikmati sebuah pameran dan menonton konser musik. Betapa pemandangan itu menjadi pikiran sendiri bagi Ayu selama berhari-hari.

Dari situ, daya kreatif dan inovatif Ayu semakin terasah menemukan cara lain menikmati puding yang lebih menyenangkan. Kalau menggunakan mangkuk, kata Ayu, memang mudah ketika mengudapnya sembari duduk santai. Lain cerita bagi konsumen yang sedang dalam arus mobilitas tinggi.

“Saya terpikir kenapa tidak dimasukkan dalam botol saja pudingnya,” kata Ayu.

Ide ini Ayu seriusi. Tentu karena berbeda medium wadah, harus ada penyesuaian bahan baku. Ayu amat memahami itu. Susah jikalau puding tetap mengandalkan bubuk agar-agar. Sepasang tangan Ayu di dapurnya pun berkreasi dengan menggunakan susu. Walhasil, puding yang semula dalam mangkuk bisa berpindah ke dalam botol.

“Teksturnya jadi semakin lembut, jadi bisa diseruput pakai pipet. Kalau belum habis, bisa ditutup lagi botolnya. Jadi tidak repot dalam mengonsumsi puding,” bebernya.

Karena mengusung kelembutan yang menyegarkan ini, Ayu menamai puding racikannya ini dengan Silky Pudding Mommy Queen, yang bila diterjemahkan secara bebas bisa bermakna puding selembut sutra.

Setelah hampir dua tahun memproduksi puding dalam botol, semakin bertambah pula kreativitas Ayu dalam menyajikan rasa puding selembut sutra ini. Ada rasa mangga, taro, teh hijau, red velvet, cokelat, strawberi, hingga bubblegum. “Yang paling digemari rasa mangga dan green tea,” ungkap Ayu.

Walau bernama silky alias selembut sutra, upaya Ayu merintis bisnis kuliner rumahan ini tidak sepenuhnya mulus. Ada lika-liku yang harus ditempuh agar semakin bangkit dan bisa bertahan sampai hari ini.

Bazar ke Bazar
Di balik kelembutan tekstur puding, ada perjuangan dan kesungguhan Ayu mewujudkan keinginan menghasilkan uang dari rumah sembari merawat anaknya. Semua itu, diakuinya dalam sebuah frasa: jatuh bangun.

Keinginan ini memang sudah membaja dalam dada. Ayu berani menanggalkan ‘seragam cokelat’ yang sudah dikenakan lebih dari 10 tahun. Menjadi tenaga honorer pada sebuah instansi pemerintahan nyatanya tidak menjamin sebuah kebahagiaan.

“Sebenarnya berat karena sudah 10 tahun mengabdi,” ungkapnya.

Tapi, berat memang hanya di kepala. Ayu lantas menjalani rutinitas baru sebagai ibu rumah tangga. Keinginan merintis usaha selalu ada, tapi ia ingin sesuatu yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya di seantero kota. “Gak mau niru usaha orang,” begitu keyakinan Ayu.

Kesukaan mengudap dan membikin puding lantas memberanikannya menjajal peruntungan di ranah bisnis kuliner rumahan. Selain memasarkan dari mulut ke mulut dan melalui media sosial, Ayu memperluas pasar Silky Pudding Mommy Queen juga lewat bazar ke bazar. Baginya, tampil di sebuah bazar bukan cuma tentang menjual barang, melainkan titik pertemuan dan komunikasi secara langsung antara penjual dan konsumen.

“Sampai sekarang, saya sudah ikut bazar sebanyak lima kali,” kata Ayu.

Dari perjalanan bazar ke bazar ini pula yang membuat Ayu berkesempatan menginovasi puding racikannya yang semula berwadah mangkuk berganti dalam botol. Tanpa terasa inovasi ini menunjang langkah panjang Ayu menjaga eksistensi Silky Pudding Mommy Queen selama hampir dua tahun terakhir.

Soal persaingan pasar, Ayu tidak pernah memusingkannya. Baginya, tugas produsen adalah memastikan komoditas produksi dengan kualitas yang terjaga. Bukan melulu iri dan kecil hati melihat usaha yang lain. “Saya yakin, rezeki tidak mungkin tertukar,” pungkas Ayu yang kini juga lebih fokus pada pemasaran di ranah media sosial Facebook dan Instagram. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here