Sanggar Karimun Justru Wakili Anambas

0
1253
TAMPIL: Inilah salah satu penampilan penari di parad tari tingkat Provinsi Kepri, tahun lalu. f-dok/tanjungpinang pos

Ketua DKKR Sebut Parade Tari Provinsi Sarat Kolusi

Sejak dikabarkan tim delegasi Kepri terancam gagal berangkat ke Sumatera Utara untuk mengikuti lomba parade tari, hubungan Dewan Kesenian Kepulauan Riau (DKKR) dengan Pemprov Kepri, kian tak harmonis.

TANJUNGPINANG – HAL itu terjadi lantaran Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, TS. Arif Fadillah ingkarnya janji kepada pengurus DKKR. Pagelaran acara ini dituding sarat kolusi. Ketua DKKR, Husnizar Hood kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (21/7). ”Aku dapat temuan bahwa tata tertib parade tari yang akan dilaksanakan Sabtu nanti sudah diacak-acak. Aku tahu karena aku adalah orang yang buat tata tertib pertama kali parade tari tersebut,” ujarnya.

Alasannya disebutkan Nizar bahwa salah satu yang harus dipatuhi oleh masing-masing daerah adalah dengan mengirimkan tim sanggar yang memang berasal dari daerah tersebut. Tujuannya untuk menggali potensi yang terdapat di masing-masing daerah. ”Tak ada ceritanya sebuah daerah diganti dengan sanggar yang berasal dari daerah lain,” berang Nizar yang menyebutkan bahwa Sanggar Saujana dari Kabupaten Karimun sudah menggunakan jatah dari Anambas.

”Kalau hal ini dibiarkan, bisa kacau pentas laga seni tari. Bisa saja nanti ke depan Tanjungpinang bayar sanggar terbaik punya Bali atau sewa sanggar luar lainnya. Bukan seperti itu kompetisi yang kita harapkan. Tari itu seni. Seni itu ada ruhnya yang bisa dinikmati oleh manusia,” terangnya secara terbuka.

Nizar menduga, melenggangnya sanggar dari Karimun tersebut membawa nama Anambas karena indikasi Sekda dan Gubernurnya sekampung. ”Jangan karena Sekda dan Gubernur orang karimun, Kasi dan Kadisnya juga orang Karimun sehingga dalam konteks parade tari inipun mau di Karimunisasi. Ini lomba, bukan pertunjukan, aku juga orang Karimun, tapi malu dengan kenyataan pahit seperti ini,” papar Wakil Ketua II DPRD Kepri ini.

Dilanjutkannya, untuk tahun depan, Nizar akan mengawal lebih ketat penggunaan anggaran yang akan digelinding ke Pemerintahan Provinsi Kepri. ”Harusnya disinilah peran Dinas Kebudayaan provinsi sebagai koordinator untuk melihat perkembangan daerah. Dicari penyebab kenapa tidak mengirim. Masalahnya apa karena anggaran atau pembinaan, atau jangan-jangan memang tidak ada karya,” tegasnya.

Untuk diketahui bersama, di perhelatan parade tari yang menjadi agenda Pemrov Kepri, masing-masing daerah diwajibkan mengirim utusan maksimal 2 grup untuk dilaga mencari yang terbaik. ”Inilah nasib kalau Kadisnya tidak paham mengurus kebudayaan sementara pemerintahannya seperti orang kebingungan, kalau begini ceritanya DKKR siap membangkang,” tegasnya meniru ungkapan serupa pada judul buku karya RDK.

Dari pengamatan Tanjungpinang Pos, Sanggar Saujana adalah sanggar yang kalah dalam pentas serupa di Kabupaten Karimun, namun diberi kelonggaran oleh Pemrov untuk mewakili Anambas. Hal tersebut dinilai Nizar sudah merendahkan para kontestan lain yang sudah bertungkus-lumus berjuang menjadi yang terbaik. Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kepri, Yatim Mustafa dan Kepala Seksi Pertunjukan, Irwanto, S.Km tidak berhasil dikonfirmasi.

Saat beberapa kali wartawan koran ini menghubungi nomor teleponnya, tapi tidak aktif. Parade tari ini akan digelar di Lapangan Pamedan, Tanjungpinang, Sabtu (22/7) hingga Senin (24/7). Agendanya Parade Tari Daerah Tingkat Provinsi Kepri.(YOAN S)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here