Santri Bisa Mengaji dan Berdiplomasi

0
355
VISITASI KE LUAR NEGERI: Rombongan santri PPM Al-Kautsar di Kantor Kedubes Indonesia di Singapura.

Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Tanjungpinang

SANTRI hari ini tidak sama dengan hari kemarin. Perkembangan teknologi yang melesat tak terbendung, menjadi keniscayaan yang tak dapat dikesampingkan. Sebutlah jikalau tak peduli dan tak mau ambil berat, bisa-bisa tertinggal amat jauh di belakang. Dan karena itu, wawasan cakrawala harus dilebarkan. Menyerap modernitas tanpa pernah menerabas batas.

Di Pondok Pesantren Modern (PPM) Al-Kautsar hal itu sudah tercermin sejak bangun pagi. Santri usia 12-15 tahun tidak lagi boleh manja. Mereka harus siap melatih disiplin sejak membuka mata. Harus mau dan sanggup menunaikan salat Subuh berjamaah. Tak peduli seberapa dingin air di kulit pada dini hari.

Kantuk yang masih tersisa di pelupuk mata tidak lantas boleh membuat mereka terlena. Setiap pagi mereka diajak menghafal sekaligus menambah perbendaharaan kosakata bahasa asing. Arab dan Inggris. Bahasa pertama digunakan untuk mempermudah pemahaman pembelajaran agama, sedangkan bahasa kedua, seperti yang sudah disebutkan tadi, untuk menjemput modernitas di depan mata.

“Jadi santri kami tidak cuma pandai mengaji, tapi juga harus berani berdiplomasi sampai ke luar negeri,” ungkap Kyai Supeno selaku pengasuh PPM Al-Kautasar Tanjungpinang.

Kemampuan itu penguasaan bahasa asing itu juga, sambung Kyai Supeno, yang dilatih setiap hari. Bukan cuma dalam kelas saja, melainkan dalam percakapan sehari-hari seluruh santri dan guru-guru yang mengajar pun harus menggunakan bahasa Arab atau Inggris untuk berinteraksi. Dengan begitu, keterampilan berbahasa jadi mutlak tidak boleh sekadar di atas kertas.

“Tetapi mereka juga harus bisa mengucapkannya. Ilmu tanpa praktik tidak ada artinya,” ungkap Kyai Supeno.

Pembiasaan ini berbuah manis. Dari tahun ke tahun prestasi kerap dibawa pulang ke pesantren yang berada di Jalan Sidomulyo Tanjungpinang Timur ini. Utamanya berkenaan lomba-lomba pidato bahasa Arab atau Inggris yang nyaris setiap tahun dikomeptisikan. Santri-santri PPM Al-Kautsar selalu mampu hadir sebagai peserta tangguh. Tentu itu semua turut disandingkan dengan keterampilan non akademis yang juga dijadwalkan di sela-sela kegiatan di pesantren.

Kyai Supeno menuturkan, guna menambah pengalaman dan cakrawala santri-santrinya, dilaksanakan juga beragam program berkelindan. Sebut saja visitasi kedutaan besar Indonesia di Singapura atau ke sekolah-sekolah rekanan di negeri jiran. Pernah juga, kata dia, pesantrennya menerima kunjungan balasan pelajar dari Singapura.

“Di situ, saya melihat santri saya punya kepercayaan diri yang tinggi untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Santri zaman sekarang tidak cukup kalau sekadar pintar mengaji,” katanya.

Keseimbangan dalam pembelajaran agama dan ilmu modern adalah kunci di balik melahirkan generasi santri yang siap menyambut kemajuan zaman di hari depan. Ditambah pula kedisiplinan yang, kata Kyai Supeno, juga jadi modal penting dalam menjalani kehidupan sebenarnya usai masuk dunia profesional yang sebenarnya.

“Kami menyiapkan itu. Seluruh santri harus punya disiplin dan tanggung jawab yang tinggi. Serta sudah pasti keilmuan agama dan umum yang memadai,” tekannya.

Apa yang dicitakan selama lebih dari 10 tahun ini berujung pada semakin meningkatnya minat belajar di pesantren. Kini, di PPM Al-Kautsar sudah ada lebih dari 140 santri yang mukim dan menuntut ilmu setingkat sekolah menengah pertama. Menariknya, tidak cuma dari seputaran Tanjungpinang. Ada yang dari Bintan, Batam, Lingga, hingga Karimun.

“Itu menunjukkan pesantren di kota ini secara kualitas bisa bersaing dengan sekolah lain pada umumnya,” pungkas Kyai Supeno. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here