Sapi Kepri Bertambah 6.039 Ekor

0
942
POTONG SAPI: Warga Tanjungpinang saat memotong sapi di Tepilaut beberapa waktu lalu.f-martunas/tanjungpinang pos

DOMPAK – Jumlah sapi di Kepri tahun 2017 ini bakal bertambah 6.039 ekor. Penambahan ini dari jumlah anak sapi yang lahir.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Pemprov Kepri Ahmad Izhar mengatakan, tahun ini Kepri mendapatkan bantuan program Sapi indukan wajib bunting (Siwab) Kementerian Pertanian.
Ini merupakan program Kementan dalam upaya khusus (upsus) yang bertujuan meningkatkan populasi dan produksi ternak di Indonesia.

”Kalau se-Indonesia jutaan. Tapi kita di Kepri hanya dapat 6.039 ekor. Kita pusatkan di Natuna, Anambas, Lingga (NAL),” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos.

Ia menjelaskan, program Siwab ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi reproduksi sapi betina dan cara insemenisasi. Induk sapi akan disuntik agar bunting. Penyuntikan induk sapi ini akan dilakukan petugas terlatih dari provinsi dengan bantuan Kementan. ”Kita sudah ada tenaganya. Mereka itu orang terlatih,” tambahnya.

Baca Juga :  Penumpang Boat Putra Kepri Berhasil Dievakuasi

Ia mengatakan, meski program ini sudah dijalankan, bukan berarti kebutuhan sapi di Kepri langsung terpenuhi. Apalagi yang bertambah itu adalah anak sapi dan butuh waktu memeliharanya hingga dewasa dan siap panen.

Dijelaskannya, kebutuhan sapi di Tanjungpinang rata-rata 3 ekor satu hari untuk daging sapi segar. Saat acara keagamaan, jumlah kebutuhan sapi segar naik drastis bahkan bisa sampai 100 ekor sehari. Ia mengatakan, naiknya harga daging sapi segar saat hari keagamaan dikarenakan banyak bagian dalam sapi yang tidak laku pada saat itu.

Baca Juga :  Siswa Doakan 1.000 Botol Air

”Padahal itu kan ikut dibeli. Makanya, harga dagingnya dinaikkan. Kalau tidak, mereka rugi. Malah saya pernah tanyakan ini ke pedagang kenapa harganya naik. Kata dia, kalau pemerintah mau subsidi Rp 5 juta per ekor, harganya normal,” tambahnya.

Adapun bagian yang tidak laku saat hari besar itu adalah, tulang, usus, jeroan, limpa dan babat. Yang laku hanya daging, hati dan jantung.
Karena banyak bagian yang tidak laku, maka pedagang menaikkan harga untuk menutupi yang tidak laku.

”Itu makanya naik. Kalau memang tulang, usus, jeroan, limpa dan babat laku saat itu, harganya pasti normal,” tambahnya.

Sekedar diketahui, upaya khusus Siwab tahun 2017 merupakan salah satu upaya yang dilaksanakan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Baca Juga :  Hari ini, Festival Syair Internasional Dibuka

Program Siwab 2017 ini dilaksanakan melalui inseminasi di 33 provinsi dan dibagi menjadi tiga bagian yakni, daerah sentra sapi yang pemeliharaannya dilaksanakan secara intensif, daerah sentra peternakan dengan sistem pemeliharaan semi intensif dan daerah pemeliharaan ekstensif dengan total populasi betina sebanyak 700.000 ekor.

Untuk mendukung keberhasilan Siwab ini, akan dilaksanakan beberapa kegiatan pendukung lainnya seperti penanaman rumput sekitar 13.000 Ha, penyediaan sumber air serta obat-obatan hingga vaksin untuk meningkatkan kesehatan hewan. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here