Sarjana Kepri Kalah Saing di Industri

0
100
Pekerja di salah satu perusahaan di kawasan Lobam Bintan sedang bekerja. f-istimewa

TANJUNGPINANG – Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Rafky Rasyid menilai Kepri saat ini kondisinya hampir sama dengan daerah lain di Indonesia. Permasalahan utama adalah di perguruan tinggi salah satu tidak sinkronnya kurikulum di perguruan tinggi dengan industri yang ada.

Namun, ini terus dibenahi dengan melakukan magang industri dan komunikasi serta kerjasama dengan dunia usaha. Satu lagi, kalau di Kepri yang jadi kelemahan adalah penguasaan bahasa asing oleh lulusan sarjana masih minim. Terutama bahasa Inggris, jadi ketika melamar ke perusahan asing, misalnya saat ini paling dominan di Kota Batam otomatis mereka ditolak.

Sementara itu, Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang Endri Sanopaka merilis daftar lulusan perguruan tinggi Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri berdasarkan data Kopertis tahun 2017 ada sekitar 2000 orang untuk Tanjungpinang.

”Kalau di Kepri berdasarkan data dari Kopertis jumlah lulusan di 2017 ada sekitar 5.134 orang. Hanya saja dari jumlah lulusan tersebut, tidak semuanya menjadi pengangguran, karena karakteristik mahasiswa di Kepri dan khususnya di Tanjungpinang, sebagian sudah bekerja pada saat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa,” terang Endri Sanopaka, Rabu (27/6) kemarin.

Bahkan, sambung dia lulusan perguruan tinggi di Kepri saat ini memiliki karakteristik yang juga tidak semuanya harus menjadi pekerja, karena ada bidang yang pure sains (atau murni ilmu pengetahuan).

Misalnya, ada yang bidangnya memang vokasi seperti politeknik atau Diploma III yang memang dipersiapkan untuk dapat menjadi pekerja dalam bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan tenaga teknis.

Hal tersebut, menurut dia, sudah diatur dalam Perpres No 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagaimana Pasal 2 (2) dikelompokkan bahwa D1-D3 itu akan mengisi jabatan operator dan jabatan teknis atau analis.
Sedangkan pada pendidikan S1 jenjangnya untuk jabatan teknis dan analis.

”Jadi sebenarnya tidak semestinya bahwa semua lulusan perguruan tinggi khususnya yang pendidikan S1 itu harus jadi pekerja, melainkan menjadi analis itu berpotensi untuk membuka lapangan pekerjaan, terutama dalam bidang jasa ataupun bidang pekerjaan manufaktur,” terang Endri.

Sambung, seharusnya perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusannya dengan mendesain kurikulum yang siap menangkap ataupun merebut peluang lapangan usaha, bukan merebut lapangan pekerjaan.

Terutama yang harus didorong pada lulusan S1 adalah memiliki motivasi dan keberanian untuk menjadi wirausahawan muda yang membuka lapangan pekerjaan, minimal para lulusan itu dapat menyerap satu orang pekerja sebagai asistennya dengan jenjang pendidikan yang lebih rendah, dengan demikian akan dapat membantu mengurangi jumlah pengangguran.

”Intinya perguruan tinggi harus mampu memotivasi para mahasiswanya agar menjadi lulusan yang dapat merebut peluang dengan memanfaatkan teknologi revolusi industri generasi,” tambahnya. (ais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here