Satker Bangun Tiga Tangki Tinja Apung

0
569
Inilah kondisi salah satu rumah warga yang tinggal di kawasan pelantar.f-raymon/tanjungpinang pos

Program penanganan kawasan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kampung Bugis dan Tanjungunggat segera dikerjakan. Proyek APBN dikerjakan Satker Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP) Kementerian Pekerjaan Umum.

TANJUNGPINANG – Untuk tahap awal Satker PKP akan membangun tiga tangki tinja atau septic tank untuk lokasi yang berbeda-beda. Satu septic tank nantinya akan terhubung untuk lima rumah warga yang tinggal di pelantar. Program ini merupakan pilot project nasional.

Rencananya, pekerjaan akan dimulai pertengahan Maret. Satker PKP juga akan bangun dua sumur bor di Kampung Bugis. Hal ini dikatakan Kepala Satker PKP Kepri, Herlan kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (6/3).

Ia menuturkan, alokasi anggaran yang disiapkan untuk penanganan di dua daerah itu sekitar Rp 20 miliar. Anggaran ini dipergunakan untuk membangun sumur bor, sanitasi dan pelantar.

Baca Juga :  Polres Terapkan SIM Online

”Anggaran ini tidak akan menyelesaikan program Kotaku. Tapi sudah bisa mengurangi dari sebelumnya sangat kumuh nantinya menurun menjadi sedang. Setelah itu dibenahi lagi menjadi tanpa kumuh dan akhirnya statusnya bisa naik lagi menjadi kawasan layak huni,” ungkapnya.

Herlan menyarankan, untuk membebaskan kawasan kumuh di Tanjungpinang perlu sharing anggaran. Bukan hanya dari APBN, melalui PKP Kepri melainkan juga perlu tambahan dari APBD Pemko Tanjungpinang dan bila perlu dari APBD Provinsi Kepri. Sesuai Perwako, ada tujuh kawasan permukiman kumuh di Kota Tanjungpinang. Yaitu Pelantar Sulawesi, Pantai Impian, Lembah Purnama, Suka Berenang, Tanjungunggat, Kampung Bugis dan Kawasan Senggarang.

Baca Juga :  Puskesmas Batu 10 Masuk Nominasi KLA

Sebagai tahap awal, Satker PKP Kementerian PU di Kepri membantu mengatasi kawasan kumuh di dua lokasi yakni di Kampung Bugis dan Tanjungunggat.

Untuk Kampung Bugis ada beberapa pekerjaan yaitu, sumur bor, sanitasi dan pembangunan pelantar. Sedangkan di Tanjungunggat hanya pembangunan pelantar. Program sanitasi di Kampung Bugis nantinya menjadi pilot project di Kepri yaitu pembangunan septic tank apung.

Didesain septic tank mengapung yang terbuat dari fiber dan memiliki kompartemen yang lengkap dan mampu mengelola limbah tinja secara otomatis.

Satu septick tank apung dibuat untuk menampung tinja dari 5-10 rumah. ”Nantinya limbah tinja yang sudah masuk septic tank apung setelah diolah, keluar dalam berbentuk air,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gubernur, Sekdaprov dan Wako Bahas Reklamasi Tepilaut

Dituturkannya, mereka juga sudah komunikasi dengan Pemko melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tanjungpinang akan memanfaatkan limbahnya dengan mengembangkan hidroponik.

”Kalau rencana ini bisa direalisasikan BLH Tanjungpinang, bagus juga sehingga bermanfaat. Jadi tinja diolah menjadi pupuk untuk tanaman hidroponik,” paparnya.

Tujuan kegiatan ini adalah dalam rangka percepatan penanganan kawasan Kumuh dan gerakan 100-0-100 yang artinya 100 persen akses air minum, 0 persen kawasan kumuh dan 100 persen sanitasi layak.(DESI-ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here