Satker PKP akan Bangun Septic Tank Apung

0
994
Masyarakat Kampung Bugis bergotong royong bersih sampah lautF-SUHARDI./Tanjungpinang pos

Maret, Kampung Bugis Dibenahi

Program penanganan kawasan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kampung Bugis dan Tanjungunggat akan segera dilaksanakan Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman (Satker PKP) Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi Kepri.

Tanjungpinang – Rencananya, pekerjaan akan dimulai pertengahan Maret dengan pembangunan dua sumur bor di Kampung Bugis. Hal ini dikatakan Kepala Satker PKP Kepri, Herlan kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (6/3).

Ia menuturkan, alokasi anggaran yang disiapkan untuk penanganan di dua daerah itu sekitar Rp 20 miliar. Anggaran ini dipergunakan untuk membangun sumur bor, sanitasi dan pelantar.

”Anggaran ini tidak akan menyelesaikan program Kotaku. Tapi sudah bisa mengurangi dari sebelumnya sangat kumuh nantinya menurun menjadi sedang. Setelah itu dibenahi lagi menjadi tanpa kumuh dan akhirnya statusnya bisa naik lagi menjadi kawasan layak huni,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lomba Balita Sehat Meriah

Herlan menyarankan, untuk membebaskan kawasan kumuh di Tanjungpinang perlu sharing anggaran. Bukan hanya dari APBN, melalui PKP Kepri melainkan juga perlu tambahan dari APBD Pemko Tanjungpinang dan bila perlu dari APBD Provinsi Kepri.

Sesuai Perwako, ada tujuh kawasan permukiman kumuh di Kota Tanjungpinang. Yaitu Pelantar Sulawesi, Pantai Impian, Lembah Purnama, Suka Berenang, Tanjung Unggat, Kampung Bugis dan Kawasan Senggarang.

Sebagai tahap awal, Satker PKP Kementerian PU di Kepri membantu mengatasi kawasan kumuh di dua lokasi yakni di Kampung Bugis dan Tanjungunggat. Untuk Kampung Bugis ada beberapa pekerjaan yaitu, sumur bor, sanitasi dan pembangunan pelantar. Sedangkan di Tanjungunggat hanya pembangunan pelantar.

Baca Juga :  Warga Makin Sengsara

Program sanitasi di Kampung Bugis nantinya menjadi pilot project di Kepri yaitu pembangunan septic tank apung.
Didesain mengapung yang terbuat dari fiber dan memiliki kompartemen yang lengkap dan mampu mengelola limbah tinja secara otomatis.

Satu septick tank apung dibuat untuk menampung tinja dari 5-10 rumah. ”Nantinya limbah tinja yang sudah masuk septic tank apung setelah diolah, keluar dalam berbentuk air,” ungkapnya.

Dituturkannya, mereka juga sudah komunikasi dengan Pemko melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tanjungpinang akan memanfaatkan limbahnya dengan mengembangkan hidroponik.

Baca Juga :  Dinas Bikin Inseminasi Buatan Ternak Sapi

”Kalau rencana ini bisa direalisasikan BLH Tanjungpinang, bagus juga sehingga bermanfaat. Jadi tinja diolah menjadi pupuk untuk tanaman hidroponik,” paparnya.

Tujuan kegiatan ini adalah dalam rangka percepatan penanganan kawasan Kumuh dan gerakan 100-0-100 yang artinya 100 persen akses air minum, 0 persen kawasan kumuh dan 100 persen sanitasi layak. (dlp)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here