Satpol Tutup Rebel Net

0
514
Satpol PP Tanjungpinang saat menutup usaha warnet Rebel Net di kawasan Sumatara, Rabu (19/9). F-istimewa

Kasus Anak Memprihatinkan

Satpol PP Tanjungpinang didampingi pihak kepolisian dan TNI, menutup warung internet (Warnet) Rebel Net. Warnet ini berlokasi di simpang tiga lampu merah Jalan Tugu Pahlawan dan Jalan Sumatera, Rabu (19/9).

TANJUNGPINANG – Saat akan ditutup terjadi adu mulut antara petugas dengan pengelola warnet. Penutupan warnet tersebut menjadi tontonan warga dan pihak terkait. Warga kebetulan melintas di sekitar lokasi, turun dari kendaraanya melihat langsung penutupan warnet tersebut. Setelah diberikan penjelasan, akhirnya pengelola menerima tempat usahanya ditutup total.

Kepala Satpol PP Kota Tanjungpinang, Efendy mengatakan, Satpol PP Kota Tanjungpinang menutup total usaha warnet Rebel Net tentu punya alasan. Pertama, pemilik warnet Rebel Net selalu mengabaikan teguran, yang selalu disampaikan oleh Anggota Satpol PP Kota Tanjungpinang.

Teguran yang selalu disampaikan terhadap melebihi jam operasi buka usaha warnet tersebut. Karena operasi buka warnet melebihi jam 12.00 malam.

Kemudian, warnet tersebut selalu menerima peserta didik masih menggunakan seragam sekolah. Padahal, pemerintah sudah melarang peserta didik yang masih mengenakan seragam sekolah masuk ke warnet.

”Setiap patroli, kita selalu menemukan peserta didik mengenakan seragam sekolah duduk di tempat warnet tersebut,” kata Efendy kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (19/8).

Selain itu, Satpol PP Kota Tanjungpinang sering menerima surat masuk dari masyarakat. Inti surat tersebut, bahwa warnet Rebel Net selalu berisi peserta didik.

Tidak hanya itu. Warnet tersebut dijadikan tempat pertemuan peserta didik. Pertemuan mereka sampai melakukan hal-hal yang mengarah kepada tindakan asusila.

Perbuatan yang tidak layak sudah lama terhembus ditengah masyarakat. Sehingga meresahkan masyarakat setempat.

”Sudah tiga kali kita berikan surat teguran. Dua kali pemilik usaha warnet membuat surat perjanjian. Tapi, masih juga melanggar. Jadi, kita tutup total usaha warnet Rebel Net,” tegas dia.

Seharusnya, lanjut dia, pemilik usaha warnet juga bisa mendidik peserta didik di Tanjungpinang. Bukan malah merusak peserta didik tersebut.

”Ini miris sekali,” ucap dia. Sebelum beroperasi, kata dia, pasti pemilik usaha warnet mengurus izin ke pemerintah. Saat mengurus izin, tentu ada persyaratan yang perlu dipenuhi.

Namun, pemilik usaha warnet bisa penuhi syarat tersebut. Misalnya, tempat usaha warnet harus terang menderang. Artinya, tidak dibenarkan menggunakan lampu redup alias remang.

Selain itu, pemerintah tidak mengizinkan pemilik warnet untuk menyekat ruangan ditempat usahanya. Seperti sekatan kamar.

Tidak boleh menerima peserta didik mengenakan seragam sekolah. Tapi, masih juga menerima peserta didik mengenakan seragam sekolah.

”Padahal, sudah jelas-jelas pemerintah melarang itu. Masih juga memperbolehkan,” sebut dia.

Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemprov Kepri mencatat kasus kekerasan terhadap anak di Provinsi Kepri Tahun 2018 terdapat 119 anak dengan rincian, Bintan 7 anak, karimun 3 anak, lingga 9 anak, natuna 9 anak, batam 63 anak dan Tanjungpinang 28 anak.

Sedangkan jika dibandingkan tahun 2017, khusus Kota Tanjungpinang, DP3APM Kota Tanjungpinang, mencatat ada sebanyak 74 kasus terhadap anak terjadi di Kota Tanjungpinang. Dari jumlah tersebut, 54 anak sebagai korban dan 20 anak sebagai pelaku yang terlibat sebagai pelaku pencurian.(ANDRI-SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here