Satu Memalak, Satu Bela Kawan

0
388
DADANG memberi penjelasan kepada wartawan, kemarin. f-raymon sandy/tanjungpinang pos

Dua Siswi SMPN Tanjungpinang Baku Hantam, ViRAL DI MEDSOS

Dunia pendidikan Tanjungpinang tercoreng akibat ulah dua siswi SMPN 2 Tanjungpinang berkelahi hingga saling tendang.

TANJUNGPINANG – SEBENARNYA, kejadian itu tanggal 25 Agustus 2018 lalu saat pulang sekolah. Di tengah jalan, dua siswi ini tidak bisa menahan emosi dan akhirnya berkali.

Informasi di lapangan ada dua versi. Yang pertama, dua siswi ini disebut berkelahi karena saling ejek dan berujung pada perkelahian.

Informasi lainnya, perkelahian itu terjadi lantaran siswi Kelas IX (Kelas III) suka meminta duit pada adik kelasnya Kelas VII (Kelas I). Namun teman si korban tak terima dengan perbuatan kakak kelasnya tersebut.

Ia pun meminta agar jangan memalaknya lagi. Tapi kakak kelasnya tak terima. Perkelahian pun tak bisa dihindari di depan teman-temannya.

Saat itu, teman-teman mereka bukannya merelai. Malah banyak yang menonton sambil merekam. Video ini pun viral di media sosial pada, 26 Agustus lalu. Di video ini terlihat jelas nama sekolah mereka karena saat itu mengenakan seragam olahraga.

Video ini sempat menggemparkan warga Warga Tanjungpinang karena langsung beredar luas. Belakangan diketahui, perkelahian terjadi usai pulang sekolah di lapangan yang tak jauh dari sekolah, tepatnya di samping Hotel Pelangi Tanjungpinang.

Video perkelahian dua siswi SMPN 2 Tanjungpinang itu viral dan menjadi pembicaraan di media sosial. Aksi yang terekam kamera tersebut membuat pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang sibuk mengurusnya.

Kedua siswi tersebut berduel dan berkelahi hingga bergulingan dan saling jambak. Video berdurasi 30 detik tersebut sempat tersebar kemana-mana.

Kini para siswi diberikan sanksi tegas. Kepala Dinas Pendidikan, Dadang mengatakan, pihak sekolah mengambil langkah untuk memberikan sanksi kepada para siswa baik yang berkelahi, merekam dan menonton perkelahian.

”Sebenarnya di sekolah sudah dilarang membawa handphone. Namun handphone dititipkan di luar sekolah,” katanya saat dijumpai di SMPN 2 Tanjungpinang, Jumat (31/8).

Dadang menyebutkan, dua siswi pelaku perkelahian diberikan sanksi selama satu minggu. Mereka diperbolehkan belajar namun di ruangan khusus yang diawasi guru BP, guru agama, dinas perlindungan anak dan orang tuanya.

”Siswi perekam diberi sansi 5 hari serta siswa lain yang menonton aksi tersebut diberi sanksi masing-masing 3 hari,” jelasnya.

Ke depannya tidak boleh terjadi lagi hal memalukan seperti itu. Bagi yang memiliki rekaman tersebut untuk tidak menyebar luaskan video tersebut. Apabila ada lagi maka akan dilaporkan. ”Setop untuk menyebar luaskan video itu. Apabila masih ada, maka akan dikenakan undang-undang IT,” sebutnya.

Dadang menuturkan, siswa yang berkelahi ini Kelas 9. Salah satunya membela adik Kelas 7 yang diperas. Namun dikeranakan tidak senang, maka perkelahian itu terjadi.

Dadang mengatakan, setelah perkelahian itu, videonya tersebar pada 26 Agustus 2018 malam. Mendapat kabar itu, pada 27 Agustus 2018 Kepala SMPN 2 Tanjungpinang Hariyana langsung memanggil dua siswi yang berkelahi bersama orangtua masing-masing untuk menyelasaikan masalahnya.

Tidak hanya mereka saja, perekam dan penonton saat berkelahi semuanya sudah dipanggil pihak sekolah. Masalah ini sudah diselesaikan, 27 Agustus 2018. Tapi Jumat kemarin, beredar lagi videonya.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi mengaku sudah mendengar kabar tersebut. Ia mengatakan, perkelahian itu tidak dibenarkan karena melanggar hukum.

Kapolres menyampaikan, pihaknya akan koordinasi dengan pihak sekolah dan Disdik Tanjungpinang agar tidak terulang lagi kejadian yang sama.

Pengawasan dari pihak sekolah sudah masksimal. Karena setiap hari Jumat dilakukan bimbingan rohani untuk para siswa dan siswa.

”Semunya sudah diambil langkah-langkah. Kita akan tingkatkan pengawasan lagi baik dari sekolah dan orang tua,” tuturnya. Dadang mengharapkan, kepada semua kepala sekolah dan guru di Tanjungpinang untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan karakter kepada anak.

Siswa Kebanyakan
Anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang Petrus M Sitohang menyayangkan kejadian itu. Ia berharap, ini kejadian terakhir di Tanjungpinang. Saat ini guru-guru di sekolah negeri kesulitan mengawasi murid-muridnya karena jumlah siswa per kelas terlalu banyak.

Murid terlalu banyak mengakibatkan guru kurang perhatian terhadap perilaku murid-muridnya. Ini situasi yang sudah pasti terjadi kalau persoalan jumlah murid per kelas di sekolah-sekolah negeri tidak dibatasi.

”Makanya akar persoalannya ada di jumlah murid per kelas yang terlalu banyak. Sehingga guru sulit mengawasinya,” jelasnya, kemarin.

”Peristiwa ini sangat memprihatinkan di tengah-tengah upaya kita meningkatkan mutu pendidikan dan menjadikan Tanjungpinang kota pendidikan. Saya khawatir ini bukan satu-satunya kasus yang terjadi,” tambahnya.(DESI-RAYMON-TUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here