Sayur dan Ikan Bikin Inflasi Naik

0
198
WARGA saat membeli ikan di Pasar Bintancenter Tanjungpinang, belum lama ini. f-andri/tanjungpinang pos

Ketika Cuaca Laut Berbahaya Dan Hujan Rusak Pertanian

Sebagai daerah kepulauan dengan minimnya lahan pertanian, membuat sayuran salah satu penyebab inflasi Kepri Tinggi. Ini masih wajar. Namun, sebagai daerah dengan luas laut 98 persen, ikan harusnya tak memicu naiknya inflasi. Harusnya menaikkan deflasi.

BATAM – PADA November lalu, sayuran dan ikan salah satu pemicu naiknya inflasi Batam terutama sayur bayam hingga bawang merah. Naiknya harga ikan salah satu penyebabnya karena cuaca laut yang kurang bersahabat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada November 2018 mengalami inflasi, sebesar 0,43% (mtm). Inflasi Kepri itu dipengaruhi Kota Batam yang mengalami inflasi. Sementara Tanjungpinang, kondisinya lebih baik, karena mengalami deflasi.

Inflasi Batam meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang disebabkan harga sembako.

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, mengungkapkan kondisi inflasi di Kepri.

Dijelaskannya, inflasi Kepri pada November 2018 terutama bersumber dari kenaikan harga pada kelompok bahan makanan. ”Kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 1,47% (mtm) dengan andil 0,33% (mtm),” kata Gusti.

Komoditas utama penyumbang inflasi di kelompok ini adalah komoditas bayam dan bawang merah. Bayam mengalami inflasi sebesar 25,33% (mtm) dengan andil 0,16% (mtm).

Kenaikan harga bayam diperkirakan sebagai dampak dari musim hujan dengan intensitas yang mulai tinggi sehingga berdampak pada kegagalan panen dan keterbatasan pasokan.

”Bawang merah mengalami inflasi sebesar 9,43% (mtm) dengan andil 0,0500 (mtm),” bebernya.

Diakuinya, kenaikan harga komoditas ini akibat berkurangnya pasokan yang dikirim ke Kepri. Selain itu curah hujan yang tinggi di daerah sentra penghasil seperti Blitar membuat petani kesulitan menjemur bawang sehingga pasokan menjadi berkurang. ”Jadi secara spasial, Batam mengalami inflasi sedangkan Tanjungpinang mengalami deflasi,” imbuhnya.

Batam tercatat mengalami inflasi sebesar 0,51 % (mtm) atau 3,15% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober2018 yang mengalami inflasi sebesar 0,13 (mtm) atau 2,74% (yoy). Tanjungpinang mencatatkan deflasi sebesar 0,1 1% (mtm) atau 2,35% (yoy), dibandingkan bulan lalu yang mengalami inflasi sebesar 0,29% (mtm) atau 2,50% (yoy).

”Komoditas utama penyumbang inflasi di Batam adalah bayam yang mengalami inflasi sebesar 26,99% (mtm) dengan andil 0,17% (mtm),” jelas Gusti.

Selain itu, ada bawang merah dengan inflasi sebesar 10,39% (mtm) dengan andil 0,0500 (mtm). Sementara itu, deflasi di Tanjungpinang dipicu oleh penurunan harga ikan tongkol dan selar yang mengalami deflasi masing-masing sebesar 15,94% (mtm) dan 9,71% (mtm) dengan andil masing-masing -O,16% (mtm) dan -0,14% (mtm).
”Jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya tiga tahun terakhir, inflasi 0,48% (mtm), inflasi Kepri November 2018 tercatat lebih rendah,” katanya.

Secara tahunan, inflasi IHK November 2018 tercatat sebesar 3,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober 2018 sebesar 2,70% (yoy), namun lebih rendah dari inflasi nasional pada November 2018 yang tercatat sebesar 3,23% (yoy).

Dibandingkan dengan ratarata historisnya 3 (tiga) tahun terakhir yaitu 4,66% (yoy), inflasi Kepri November 2018 tercatat lebih rendah. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan November, inflasi Kepri telah mencapai 2,29 % (ytd).

”Mencermati perkembangan inflasi terkini, IHK pada Desember 2018 diperkirakan akan mengalami inflasi,” ujar Gusti memperkirakan.

Perkiraan itu disebutkan curah hujan dan gelombang tinggi yang secara musiman akan berlanjut sampai dengan awal tahun 2019. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara yang secara musiman akan terjadi menjelang Hari Natal dan Tahun Baru serta berpotensi belanjut sampai menjelang lmlek.

”Pengendalian inflasi November difokuskan untuk mitigasi risiko inflasi. Kita akan buat studi kelayakan bisnis pertanian bayam menggunakan greenhouse. Pemantauan pasokan secara berkala, untuk menghindari penimbunan. Bersama dengan BP BPOM melakukan sidak ke pasar dan distributor untuk mencegah peredaran makanan kedaluwarsa,” imbuhnya mengakhiri.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here