Sayuran dan Cuaca Sumbang Inflasi

0
209
petani sedang melihat tanaman sayur di kebunnya di Toapaya, Bintan. f-adly bara/tanjungpinang pos

BATAM – Wakil Ketua TPID Provinsi Keprpi, Gusti Raizal Eka Putra, memperkirakan September 2019 ini, Provinsi Kepri akan mengalami inflasi. Berbeda dengan Agustus 2018 yang mengalami deflasi.

Indeks harga konsumsi (IHK) akan mengalami inflasi. Dimana, potensi risiko pendorong inflasi di Kepri diantaranya, curah hujan yang tinggi menjelang akhir tahun, diperkirakan dapat mempengaruhi produksi komoditas pertanian seperti bayam, kangkung dan kacang panjang.

Selain itu, TPID Kepri memperkirakan, gelombang laut yang tinggi menjelang akhir tahun diperkirakan dapat mengakibatkan terbatasnya aktivitas nelayan sehingga pasokan ikan segar diperkirakan menurun. Selain itu, keterbatasan pasokan daging ayam ras diperkirakan masih akan berlanjut sehingga harga diperkirakan masih akan tinggi.

”Potensi kenaikan harga beras akibat peningkatan harga gabah di tingkat petani (Gabah Kering Panen) nasional yang meningkat sebesar 3,05% (mtm) pada Agustus 2018,” jelasnya.

Disebutkannya, potensi kenaikan harga cabai merah karena penurunan pasokan seiring berakhirnya masa panen dimana berdasarkan pola historis inflasi komoditas menunjukkan tren meningkat pada September hingga akhir tahun.

”Wacana kenaikan tarif batas bawah angkutan udara oleh pemerintah yang dapat memicu inflasi angkutan udara,” bebernya. Gusti menyebutkan, berdasarkan hasil pantauan harga pada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga cabai merah di Sumatera Barat sebagai salah satu sentra pemasok cabai merah ke Kepri pada Agustus mengalami penurunan sebesar 2,22 persen. Harga itu dibandingkan dengan rata-rata harga cabai merah pada bulan sebelumnya.

”Hal itu didukung oleh hasil pantauan Kementerian Pertanian bahwa selama Agustus stok komoditas cabai merah pada daerah sentra penghasil terpantau melimpah sehingga aliran pasokan ke Kepri dapat terjaga,” jelas dia.

Sementara itu, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan juga tercatat mengalami deflasi sebesar 1,99 persen (mtm) dengan andil -0,40 persen (mtm). Deflasi pada kelompok ini terutama bersumber dari penurunan tarif angkutan udara yang pada Agustus 2018 mencatatkan deflasi 10,16 persen (mtm) dengan andil -0,40 persen (mtm).

”Pengendalian inflasi Agustus difokuskan untuk mitigasi risiko inflasi terutama menjelang akhir tahun. Mengintensifkan kerjasama antar daerah yang telah disepakati serta mendorong KAD baru untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan makanan,” katanya.

Langkah yang membawa kebaikan sebelumnya, diakui karena kelancaran arus bongkar muat dan distribusi angkutan barang komoditas pangan ke Kepri.

Ada pengawasan terhadap ketersediaan pasokan beras dikarenakan terdapat potensi kenaikan harga akibat peningkatan harga gabah di tingkat petani sejak Agustus 2018.

Mengembangkan program urban farming dengan skala yang lebih luas seperti penanaman komoditas sayuran yang menjadi penyumbang inflasi yaitu bayam dan kangkung serta cabai merah.

”Menyelenggarakan pasar murah TPID sebagai pasar penyeimbang yang intensif dan berkesinambungan,” bebernya. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here