SD Suku Laut Masih Beratap Rumbia

0
407
SEJUMLAH anak-anak Pulau Mensemut berfoto di SD Kelas Jauh sebelum ambruk dan kini mereka belajar di musala. f-istimewa

Kondisi sarana dan prasarana pendidikan bagi anak-anak suku laut di Sekolah Dasar (SD) di Pulau Mensemut, Desa Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga sangat memprihatinkan karena ambruk dan butuh perbaikan. Kondisi itu bertolak belakang, dengan rencana Pemkab Lingga yang lebih konsen untuk mempersiapkan kedatangan Presiden Joko Widodo untuk membuka KTT Hari Kelapa Dunia.

LINGGA – Warga suku laut meminta agar kelas jauh tersebut diperbaiki dan layak untuk belajar bagi murid-murid.

Di pulau itu, hanya berdiri bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kelas. Bangunan sederhana berdinding kajang, yang terbuat dari daun nipah yang dianyam itu kini jauh dari pantauan aparat pemerintah.

Terlebih, Kabupaten Lingga tengah bersiap mengundang Presiden Joko Widodo untuk membuka KTT Hari Kepala Dunia. Sehingga, sangat disayangkan Pemerintah Kabupaten Lingga tidak memperhatikan kondisi ruang belajar yang kurang layak untuk anak-anak suku laut itu.

”Sekolah berlantaikan tanah dan beratapkan daun rumbia, dan awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat karena peduli terhadap pendidikan anak mereka. Namun, sayangnya kini bangunan yang menjadi tempat generasi muda penerus bangsa itu menuntut ilmu ambruk tertimpa pohon hingga hancur. Bangunan itu tidak bisa dijadikan sebagai tempat belajar lagi,” kata aktivis sekaligus pengiat pendidikan orang suku laut, Densy Diaz, kemarin.

Wanita yang mendapatkan penghargaan pendidikan dari Pemkab Lingga ini menambahkan, anak-anak suku laut di Desa Mensemut sebenarnya punya keinginan yang kuat untuk sekolah.

Namun keinginan ini, terhambat dengan saranan dan prasaranan pendidikan yang minim.
Sementara, status sekolah yang menjadi sekolah kelas jauh dengan sekolah induk yang berada di Desa Penaah menjadi salah satu alasan sulitnya membangun fasilitas dan sarana di sekolah tersebut.

“Ambruknya bangunan sederhana yang berdiri di atas pulau kecil di tengah laut lepas itu terjadi tepat pada 17 Agustus lalu. Kondisi itu pun sudah dilaporkan kepada kepala dusun setempat, tetapi belum ada respon,” ungkapnya.

Akubat ambruknya bangunan kelas sekolah ini, anak-anak yang menempuh pendidikan di daerah ini sementara belajar dibangunan musala. ”Saya dapat infonya dari istri ketua RT setempat. Saya juga kaget, kenapa baru sekarang dikasih tahu, ternyata mereka ini masih menunggu inisiatif dari desa,” ujarnya.

Ia berharap Dinas Pendidikan (Disdik) Lingga dapat segera mengambil langkah terkait kondisi bangunan SDN 022 Senayang kelas jauh itu bisa dimanfaatkan anak-anak suku laut asli menuntut ilmu.(TENGKU IRWANSYAH)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here