Sebutan Sekolah Kebun Berubah

0
131
SALAH satu orangtua siswa melihat banyak piala yang diraih SMPN 7 Tanjungpinang baik akademik dan nonakademik. F-martunas/TANJUNGPINANG POS

Kedekatan Orangtua Siswa dan Pihak SMPN 7 Cetak Segudang Prestasi

Kerja sama orangtua dan pihak sekolah terbukti lebih cepat memajukan pendidikan. Hal ini sudah dirasakan pihak SMPN 7 Tanjungpinang Timur Batu 10. Istilah sekolah kebun pun berubah menjadi sekolah favorit yang mengukir segudang prestasi baik akademik maupun non akademik. Kini, sekolah itu menjadi pilihan utama bagi masyarakat dan siswa.

TANJUNGPINANG – TAHUN 2018 ini, SMPN 7 bersaing dengan SMPN 1 meraih prestasi akademik dan nonakademik. SMPN 1 nomor 1 untuk akademik dan SMPN 7 nomor 2. Namun, untuk prestasi nonakademik, SMPN 7 nomor 1 dan SMPN 1 nomor 2. Kedua sekolah ini saling kejar-kejaran mengukir prestasi.

”Saya sudah lama guru di sini. Sudah puluhan tahun. Kalau dulu, banyak sebutan untuk sekolah ini. Ada yang bilang sekolah sayur, sekolah kebun, sekolah kampung. Makanya, sejak saya wakil kepala sekolah sudah mulai membuka hubungan yang baik dengan orangtua siswa,” ujar Misnaneli, Kepala SMPN 7 Tanjungpinang kepada Tanjungpinang Pos, Senin (30/7).

Orangtua berperan banyak dalam kemajuan sekolah itu. Misnaneli sendiri sudah merasakannya. Atas hubungan baik yang tercipta dari tahun ke tahun antara orangtua dan pihak sekolah, berbagai prestasi dikumpulkan. Sekolah itu bisa mendapatkan Adiwiyata tingkat nasional tahun 2017 lalu, juga atas kerja sama dengan orangtua siswa. Misnaneli mengatakan, kini, orangtua siswa sudah merasa memiliki sekolah itu. Sehingga, terkadang orangtua datang sendiri menawarkan jasa untuk membenahi sekolah.

Misalnya, seperti yang dilakukan salah satu orangtua siswa yang datang membawa cat ke sekolah dan mencat tembok taman dengan berbagai variasi. ”Kebetulan bapak itu tukang. Ada cat sisa, datang ke sekolah dan kerja sendiri. Kalau ada waktunya kapan-kapan, dilanjutkan lagi pekerjaannya. Kita bangga, orangtua siswa ikut bertanggungjawab. Inilah yang harus terus kita bangun. Kebersamaan itu,” katanya dengan serius.

Senin (30/7) kemarin, salah satu orangtua siswa menghubungi dirinya dan memberitahukan telah mengirimkan tanah hitam ke sekolah itu. Tanah hitam ini bukan atas permintaannya.

Namun, orangtua siswa yang bersangkutan ikut merasakan pentingnya tanah hitam untuk mengembangkan taman di sekolah itu agar terus hijau dan sejuk. ”Ini ada orangtua yang antar tanah hitam. Sudah bisa kita pakai menanam sayuran atau bunga nanti. Kita sangat berterimakasih lah dengan bapak ini,” ungkapnya.

Awalnya, kata dia, dirinya tak kenal dengan orangtua siswa tersebut. Komunikasi mereka bermula saat Misnaneli menghubungi orangtua yang bersangkutan karena anaknya tidak hadir tanpa pemberitahuan selama dua kali.

Seperti biasanya, Misnaneli langsung menelepon orangtua yang bersangkutan dan bertanya kenapa anaknya dua hari tak masuk sekolah, apa kendalanya agar pihak sekolah turut mencari solusinya.

”Bapak itu terharu karena kami sangat perhatian. Sekarang komunikasinya dengan kami sangat baik. Itulah, tiba-tiba sudah antar tanah hitam ke sekolah,” kisahnya lagi. Masing-masing orangtua siswa, kata dia meninggalkan nomor ponsel atau Whatsapp di sekolah itu.

Antara wali murid dengan orangtua siswa komunikasinya juga harus baik. Tidak boleh guru menghindari komunikasi dengan orangtua siswa. Bahkan, saat ini orangtua siswa dilibatkan langsung melihat kondisi ruangan belajar anaknya di sekolah. Orangtua siswa bisa melihat apakah ruang belajar itu layak atau tidak sebagai tempat belajar anaknya. Dan tak jarang orangtua siswa yang membantu membenahi ruang belajar siswa demi kenyamanan anaknya belajar.

Hal seperti ini dibenarkan. Karena UU tentang Pendidikan sudah menyatakan, keterlibatan orangtua siswa dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan.

Saat ini, pola mendidik tidak seperti dulu dimana siswa dipukul atau dimarahi. Sekarang, tidak ada lagi hukuman menghormat bendera atau berdiri di lapangan sambil angkat kaki. Pola didiknya lebih pada pendekatan anak dan orangtua siswa sendiri.

Ia mencontohkan, apabila siswa terlambat, maka diminta membuat surat di selembar kertas yang isinya ‘Saya akan datang lebih awal’. ”Kata-kata yang ditulisnya itu akan teringat dalam ingatannya. Sehingga besok-besoknya, dia akan ingat waktu. Tidak terlambat lagi. Jadi, metode mendidik itu bukan dengan suara keras atau memukul. Anak-anak sekarang sudah beda. Kalau dulu, zaman ibu memang begitu,” katanya sambil tertawa.

Apabila siswa terlambat masuk tiga kali, barulah dipanggil orangtuanya ke sekolah. Namun, tak banyak orangtua siswa yang harus menghadap ke sekolah karena anaknya masuk terlambat.

Dengan kata-kata yang ditulis di kertas itu, siswa sendiri berubah dan bisa bangun cepat berangkat ke sekolah. Siswa tidak diperkenankan membawa motor ke sekolah. Itu sesuai dengan fakta integritas yang diteken siswa dan orangtua saat diterima masuk di sekolah itu.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here