Secercah Harapan Pada Data Pertanian

0
356

Oleh : Yohanes Eki Apriliawan
Staf BPS Kabupaten Kepulauan Anambas

Kegaduhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu akibat melonjaknya harga komoditas terutama beras menyebabkan banyak pihak bertanya-tanya, apa yang menyebabkan harga beras tiba-tiba melonjak tinggi atau bagaimana bisa pemerintah salah mengantisipasi kenaikan harga beras yang merupakan salah satu komoditas utama yang dikonsumsi masyarakat.

Kegaduhan yang disertai dengan perdebatan tersebut akhirnya sampai pada tudingan bahwa data yang digunakan pemerintah tidaklah sepenuhnya akurat. Akibatnya Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penghasil datalah yang disalahkan.

Tudingan itu memang tidak sepenuhnya salah. Untuk menghitung produksi padi, BPS membutuhkan setidaknya dua variabel, yakni data produktivitas padi yang diukur dengan menggunakan Survei Ubinan Tanaman Pangan dan data luas panen yang diukur oleh KCD/Mantri Tani dengan menggunakan metode picingan mata. Metode ini sangatlah subyektif dan tidak ilmiah sehingga keakuratannya dipertanyakan. Data luas panen yang dihasilkan dengan metode ini cenderung lebih besar dari kenyataan, sehingga data produksi beras yang dihasilkan akan menjadi overestimate. Hal inilah yang sepertinya membuat pemerintah salah mengantisipasi ketika pada kenyataannya produksi padi tidak sebesar data yang dihasilkan.

Maka dari itu, untuk menjawab keraguan masyarakat terhadap data produksi padi yang dihasilkan, BPS bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang menerapkan metode penghitungan yang lebih ilmiah dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang bernama Kerangka Sampel Area (KSA). Metode ini menghitung luas panen dengan cara mengambil beberapa titik sampel dan melakukan pengamatan fase pertumbuhan padinya.

Sebelum melakukan kegiatan ini, persiapan yang dilakukan BPS pun tidaklah main-main. Selama tahun 2016 dan 2017 telah dilakukan serangkaian uji coba di beberapa daerah di Pulau Jawa. Selain itu telah dilakukan pula kegiatan groundcheck lahan sawah untuk memastikan benar atau tidaknya suatu lahan merupakan lahan sawah. Kegiatan Kerangka Sampel Area ini sendiri secara efektif dilaksanakan mulai Januari 2018 dan hasilnya baru bisa dipublikasikan setelah kegiatan berjalan satu tahun. Dengan dimulainya penggunaan metode ini, diharapkan harapan masyarakat akan adanya data produksi padi yang akurat sebagai penunjang pembuatan kebijakan yang tepat akan dapat terpenuhi. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here