Sejak SEA Games 1991, Digaji Negara Rp100 Ribu Per Bulan

0
283
Kas Hartadi bersama keluarga.

MENGENAL KAS HARTADI SI PELATIH TEKNIK PPLPD KEPRI (BAGIAN I)

Kehadiran Kas Hartadi menjadi satu harapan besar bagi kemajuan dan prestasi sepak bola Provinsi Kepri, di level nasional. Kini, Kas Hartadi dikontrak menjadi pelatih kepala PPLPD sepak bola Provinsi Kepri. Siapa sebenarnya sosok yang digaji negara sebesar Rp100 ribu per bulan ini?

BINTAN – COACH Kas, begitu sapaan akrab pria yang satu ini. Kas Hartadi merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya Kasnadi (alm) bukan seorang pemain sepak bola. Tapi, hanya seorang penggemar sepak bola. Ibunya, Suharmi (alm) pun bukan seorang pemain sepak bola putri. Tapi, sang ayah menyuruh anakanaknya bermain sepak bola, tak terkecuali untuk Kas Hartadi.

Dari tujuh bersaudara, lima di antaranya laki-laki. Manut dengan keinginan sang ayah (alm Kasnadi), empat abang kandung dari Kas Hartadi menjadi pemain sepak bola profesional. Sebut saja seperti Trimulyanto (Persis Solo), Triwidodo (Persis Solo), Joko Srihartono (Persis Solo) dan Sri Widadi (Arseto Solo dan Persis Solo).

Kas Hartadi tak mau kalah. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Kas sudah mengikuti latihan sepak bola di klub Adidas Solo. Selama enam tahun, Kas hanya belajar teknik dasar sepak bola saja. Tapi, setelah tamat SMP, Kas direkrut dan masuk Diklat (PPLP) Salatiga cabor sepak bola, Jawa Tengah.

Pria kelahiran Solo 6 Desember 1970 ini, mengikuti Kejurnas antar-PPLP tahun 1985 di Kota Padang, Sumatera Barat. Pada masa itu, Kejurnas antar-PPLP seIndonesia menjadi ajang talent scouting untuk SKO Ragunan, Jakarta. Dan SKO Ragunan merupakan sekolah yang mempersiapkan timnas pelajar Indonesia.

Baca Juga :  SSB PSTS Bisa Gunakan Lapangan Hang Lekir

Kas Hartadi terpilih satu dari sembilan orang, untuk masuk SKO Ragunan. Selama tiga tahun, ia pun menjalani pendidikan dan latihan sepak bola di SMA Ragunan. Sudah pasti, Kas Hartadi merasakan seperti apa menjadi timnas pelajar Indonesia. Mulai dari kompetisi pelajar Asia, Piala Kodak di Qatar, sampai dengan masuk skuat timnas pelajar Indonesia untuk kualifikasi Piala Dunia di Jerman.

Tahun 1987, Kas Hartadi meninggalkan SKO Ragunan. Ia pun direkrut tim Krama Yudha Tiga Berlian Palembang, klub Liga 1 (Galatama Indonesia). Kas sudah menjadi pemain profesional, yang dikontrak empat musim kompetisi. Pada masa ini pula, Kas Hartadi masuk skuat Garuda 2 (timnas U19 Indonesia), untuk praOlimpiade (1989).

Nama Kas Hartadi semakin tenar, ketika ia membela timnas senior Indonesia, di ajang SEA Games tahun 1991, di Manila, Filipina. Selain Kas Hartadi, timnas Indonesia yang menjalani laga final versus Thailand itu adalah Aji Santoso, Bambang Nurdiansyah, Eddy Harto, Erick Ibrahim, Ferryl Raymond Hattu, Hanafing, Heriansyah, Herry Setiawan, Maman Suryaman, Peri Sandria, Rochy Putiray, Robby Darwis, Salahuddin, Sudirman, Toyo Haryono, Widodo Putro dan Yusuf Ekodono.

Baca Juga :  Indra Sakti dan Kelam Pagi Buktikan ’Taji’

Di partai final, Indonesia menang lewat drama adu penalti, setelah bermain imbang 0-0 pada pertandingan normal. Pada babak adu penalti, kiper Edy Harto menggagalkan tendangan pemain Thailand. Sementara, Sudirman sebagai eksekutor terakhir timnas sukses memperdayai kiper Thailand. Indonesia menang 4-3 atas Thailand. Timnas sepak bola Indonesia meraih medali emas di SEA Games 1991.

Setelah menghabiskan kontrak di Krama Yudha Tiga Berlian Palembang, tahun 1992, pemain yang tak kenal lelah dalam berlatih ini, balik kampung. Suami dari Hastuti ini membela klub Arseto Solo di Liga Dunhill (kasta tertinggi Liga Indonesia), pada era tersebut.

Perjalanan karir Kas Hartadi di sepak bola cukup panjang. Winger ini pernah membela klub Gelora Dewata Bali, BPD Jawa Tengah, dan pernah kembali ke Arseto Solo, Persid Jember, Persikabo Bogor sampai dengan mengakhiri menjadi pemain sepak bola di Persisam Samarinda.

Selama menjalani karir sebagai pemain sepak bola profesional dan bersama timnas Indonesia, Kas Hartadi tak pernah melupakan ketika timnas Indonesia meraih medali emas di ajang SEA Games 1991. Karena, sejak tahun 1991 sampai sekarang, sudah mau 29 tahun, timnas senior Indonesia tak pernah lagi meraih medali emas di tingkat Asia.

”Dari SEA Games 1991 itu pula, saya digaji negara (Indonesia) sebesar Rp100 ribu per bulan. Gaji dari negara itu saya terima terus, sampai meninggal dunia (kelak). Ini sangat berkesan bagi saya,” kata Kas Hartadi usai menjalani latihan bersama tim PPLPD Provinsi Kepri, di lapangan Asyura Km 20 Gunung Lengkuas, Kamis (19/3) kemarin.

Baca Juga :  SMPN 4 Bikin Kejutan, SMPN 15 Pesta Gol

Bagi Kas Hartadi, gaji sebagai bonus meraih medali emas di SEA Games 1991, bukan dinilai dari besar uang Rp100 ribu per bulan. Namun, menjadi satu sejarah bangsa (Indonesia). Dan betapa susahnya untuk menjadi seorang pemain sepak bola itu. Harus menjalani latihan sejak dini, dan bekerja keras.

”Siapa bilang untuk bermain sepak bola yang bener itu gampang? Kalau bermain bola itu gampang, banyak pemain timnas kita. Bukan mudah menjadi seorang pemain timnas dan meraih juara di tingkat internasional. Tapi, itu bisa kita raih,” tutur mantan pemain timnas Indonesia ini.

Kini, Kas Hartadi sudah menjadi pelatih sepak bola, setelah mengakhiri sebagai pemain. Ayah dari King Eric Cantona, Luis Figo Madeira dan Frannz Beckenbauer ini ingin memberikan ilmu kepada anak-anak Kepri, di awal tahun 2020.

”Ya, sekarang saya fokus melatih buat anakanak Kepri yang tergabung di PPLPD sepak bola Kepri,” kata Kas Hartadi yang masih menyimpan kisah dan prestasi di sepak bola tanah air ini. (bersambung)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here