Sekolah Swasta Diharapkan Bentuk Wadah Persatuan

0
607
SISWA SDIT As-Sakinah makan di kantin saat jam istirahat bersama teman-temannya, belum lama ini. F-martunas/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Hingga saat ini, belum ada satu wadah atau organisasi sekolah-sekolah swasta di Kota Tanjungpinang. Ini dianggap satu kelemahan menghadapi kondisi yang makin sulit saat ini.

Anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang yang membidangi pendidikan, Petrus M Sitohang mengatakan, wadah ini harusnya cepat terbentuk sehingga ada tempat pertemuan para pengurus sekolah swasta.

Di kota-kota lainnya, kata Petrus, ada Majelis Pendidikan Swasta. Dimana sekolah-sekolah swasta bersatu membentuk satu majelis atau organisasi. Melalui organisasi ini mereka makin kuat.

Melalui organisasi ini juga mereka bisa menyampaikan aspirasinya kepada kepala daerah, kepada Dinas Pendidikan maupun ke DPRD sebagai wakil rakyat. ”Ini yang saya sayangkan kenapa belum ada organisasi sekolah swasta di Tanjungpinang,” ujar Petrus via ponselnya kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (14/8).

Baca Juga :  Pemerintah Jamin Pendidikan Seluruh Anak di Lingga

Dijelaskannya, beban swasta makin berat dan persaingannya dengan sekolah negeri cukup sulit. Apalagi undang-undang menyatakan anggaran 20 persen untuk pendidikan. Melalui anggaran yang cukup besar itu, maka fasilitas sekolah negeri bisa dilengkapi satu per satu secara perlahan-lahan. Sementara sekolah swasta harus mandiri.

Untuk melengkapi infrastruktur sekolah harus mencari anggaran sendiri. Lama-lama, swasta bisa ketinggalan. Karena itu, seluruh pengurus sekolah swasta harus bersatu. Mereka bisa mengadakan audensi dengan kepala daerah termasuk dewan akan kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat ini dan jangan berlama-lama.

Petrus dengan tegas mengatakan, dirinya sudah bertanya kepada beberapa pengurus sekolah swasta dan selalu mengaku belum ada organisasi sekolah swasta di Tanjungpinang.

Apabila pemerintah atau dewan ingin memanggil mereka, maka undangan harus disebar satu per satu dan ini cukup merepotkan. Karena itu, jika bicara sekolah swasta maka harus sekaligus diundang melalui organisasinya.

Baca Juga :  Weni: Jangan Pilih-pilih Sekolah Lanjutan

Kemudian, manfaat lain organisasi ini adalah untuk memudahkan menyampaikan kesulitan-kesulitan yang mereka alami. Karena cukup disampaikan melalui ketua organisasinya saja dan sudah mewakili sekolah-sekolah lainnya.

”Kalau bicara satu per satu nanti dibilang pula untuk kepentingan pribadi. Atau malah sungkan untuk bicara jika satu per satu. Tapi, kalau sudah ada organisasinya maka satu yang bicara sudah mewakili semuanya dan pemerintah pun tidak hanya memikirkan satu atau dua sekolah saja. Tapi keseluruhan,” ungkapnya lebih jauh.

Saat ini, kata Petrus, banyak sekolah swasta yang mengeluh karena jumlah siswanya sedikit. Hal ini dipicu sekolah negeri yang menerima siswa sebanyak-banyaknya. Dan kebijakan Dinas Pendidikan pun tidak mendukung nasib swasta karena menambah rombongan belajar di beberapa sekolah. Jadinya, siswa yang mendaftar ke sekolah swasta sepi.

Baca Juga :  Hore, Jurusan Perhotelan SMKN 1 Binut Dibuka lagi

Hanya saja, meski hal sedemikian ini sudah dialami sekolah swasta sejak beberapa tahun ini, namun mereka tidak angkat bicara. Mungkin, ada yang sungkan takut dicap sebagai pengurus yang gagal.

”Kalau melalui organisasi, berarti itu suara bersama, bukan atas kepentingan pribadi. Apalagi kita tahu, bukan satu dua sekolah swasta yang hampir kolaps di Tanjungpinang ini,” ungkapnya lagi.

Sekolah Bintan, kata dia, rupanya dulu merupakan sekolah favorit. ”Saya baru tahu itu. Sekarang siswanya sepi,” katanya. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here