Sekolah Swasta Jangan Dilupakan

0
974
TINJAU: Wakil Ketua I DPRD Tanjungpinang, Ade Angga bersama Simon Awantoko melihat plafon SD Swasta O14 GPIB Tanjungpinang yang rusak, Selasa (7/2). f-martunas/tanjungpinang pos

Plafon SD Swasta 014 GPBI Rusak

Tanjungpinang – Sekitar 20 tahun silam, SD swasta 014 GPBI Jalan Gereja merupakan salah satu sekolah favorit di Tanjungpinang. Kini, sekolah itu cuma punya 43 siswa mulai dari Kelas I-VI.

Bahkan, kondisi sekolah tersebut kian memprihatinkan. Hanya ada enam ruangan yang digunakan. Lantainya tidak berkeramik dan atap sekolah ruangan kelas III itu, sudah rusak yang membuat plafon juga ikut rusak.

Guru sekolah mengatakan, saat hujan turun, ruang kelas mereka basah. Ini membuat proses belajar mengajar di kelas menjadi tidak nyaman. Untuk itu, agar terus menghidupkan sekolah tersebut, perlu peran serta dari pemerintah untuk membantu.

Keluhan ini disampaikan Kepala SD Swasta 014 GPBI Tanjungpinang, Kershan kepada Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang, Ade Angga didampingi anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang, Simon Awantoko saat mengunjungi sekolah tersebut, Selasa (7/2).

Ia menuturkan, jumlah siswa menurun setiap tahunnya. Siswa paling banyak di kelas VI dengan jumlah 13 orang termasuk satu siswa berkebutuhan khusus. Untuk kelas V dan IV masing-masing 4 siswa.

Sedangkan untuk kelas III ada sekitar 10 siswa, dan satu diantaranya berkebutuhan khusus juga. Sedangkan kelas 2 dan 1, masing-masing 4 siswa.

”Jumlah siswa sekarang semakin menurun, padahal dulu pernah menjadi sekolah favorit di Tanjungpinang,” ungkapnya yang mengaku baru diangkat menjadi kepala sekolah SD, sekitar satu bulan lalu.

Dulu, GPIB memiliki jenjang pendidikan TK, SMA dan SMP. Namun, seiring berjalannya waktu, tingkat SMA, SMP dan TK tersebut sudah ditutup.

Kini tersisa tingkat SD, dan siswanya semakin sedikit. Ada ke khawatiran nantinya juga ikut tutup, sebelum itu terjadi ia berharap ada peran serta pemerintah membantu sekolah yang berada persis di samping bangunan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang masuk cagar budaya tersebut.

”Berkurangnya siswa, mungkin pengaruh dari pertumbuhan penduduk kini di arah Tanjungpinang Timur. Jadi anak-anak banyak sekolah di kawasan sana. Apalagi ada beberapa sekolah swasta lainnya berdiri,” paparnya.

Saat disinggung jumlah tenaga pengajar, ada 9 orang. Itu sudah termasuk kepala sekolah dan tata usaha. Ia sendiri menjadi wali kelas VI SD tersebut.

Pihak sekolah juga mengharapkan, terkait satu siswa kelas VI berkebutuhan khusus dapat mengikuti ujian. Tetapi bergabung dengan anak lainnya yang juga berkebutuhan khusus.

”Ini sedang kami komunikasikan ke Disdik, masih menunggu konfirmasinya,” ungkapnya kepada Simon Awantoko dan Ade Angga.

Terkait hal ini, Simon Awantoko akan melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan. Sehingga nantinya, ada kejelasan apakah siswa tersebut bisa mengikuti ujian dengan bergabung dengan siswa SLB atau tidaknya.

”Saya akan coba komunikasikan dengan Dinas Pendidikan. Sebab tak mungkin siswa tersebut disamakan dengan yang umum,” paparnya.

Ade Angga, berupaya agar perbaikan sekolah ini terakomodir melalui APBD Pemko. Terkait angkanya, ia belum bisa memastikan, hanya saja dibantu meski bertahap. Minimal bisa memperbaiki plafon dahulu, baru nantinya lantai yang rusak serta butuh dikeramik.

”Sekolah di Tanjungpinang kondisinya harusnya semua bagus. Apalagi sekolah GPIB yang terletak di tengah kota, biar seluruh siswa nyaman. Perlu peran serta pemerintah untuk memajukan sekolah ini kembali,” paparnya.

Terkait kapan akan dibantu masih di upayakan, melalui APBD Perubahan 2017 atau maksimal di Murni 2017.(DESI LIZA PURBA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here