Seks Berisiko di Kalangan Remaja

0
616
Miswanto

Oleh : Miswanto
Dosen Sosiologi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Terdapat indikasi pada remaja baik di perkotaan maupun perdesaan menunjukkan meningkatnya perilaku seks pranikah. Padahal kelompok usia remaja merupakan usia yang paling rentan terinfeksi HIV dan AIDS dan Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya.

Bahkan, dalam jangka waktu tertentu, ketika perempuan remaja mengandung, maka kehamilannya dapat mengancam kelangsungan hidup janin/bayinya.

Pada dasarnya, kerentanan perempuan, bukan hanya karena faktor biologisnya, namun juga secara sosial dan kultural kurang berdaya untuk menyuarakan kepentingan/haknya pada pasangan seksualnya demi keamanan, kenyamanan, dan kesehatan dirinya.

Kepasifan dan ketergantungan sebagai karakter feminim yang dilekatkan pada perempuan juga melatari kerentanan tersebut. Faktor ekonomi juga mengkondisikan kerentanan perempuan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkompilasi, masalah kesehatan reproduksi remaja yang terjadi di seluruh dunia yang dapat menjadi bahan pembanding untuk masalah yang sama di Indonesia, atau asumsi kejadian di Indonesia bila belum tersedia datanya.

Apapun yang menjadi indikator untuk masalah kesehatan reproduksi dipresentasikan pada bagian ini. Informasi mengenai masalah kesehatan reproduksi, selain penting diketahui oleh para pemberi pelayanan kesehatan, pembuat keputusan, juga penting untuk para pendidik dan penyelenggara program bagi remaja, agar dapat membantu menurunkan masalah kesehatan reproduksi remaja.

Sekitar 50 Juta Orang (20%) Populasi
Ketidaksiapan diri dan lingkungan berpotensi mendatangkan masalah pada remaja, berbagai perilaku berisiko yang memberi dampak besar pada masa depan di usia remaja, menurut Global Yout Tobacco Survey di Indonesia (2016) 36,2% remaja laki-laki dan 4,3% remaja perempuan berumur 15-20 tahun yang aktif mengonsumsi tembakau dari rokok.

Sebanyak 43,2% remaja merokok di usia 12-13 tahun. Kemudian data yang dikeluarkan BNN (2015) angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang. Sementara angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba mencapai 104.000 yang berkisar umur 15 tahun.

BKKBN juga mengeluarkan data yang berkaitan dengan perilaku seks bebas (2016) 46% remaja usia 15-19 tahun sudah pernah melakukan hubungan seks.

Kemudian kehamilan di usia muda sekitar 500 ribu remaja perempuan mengalami kehamilan beresiko yang mengakibatkan kematian dan 30 % dari 2,4 perempuan yang melakukan aborsi dilakukan remaja.

Sementara HIV dan AIDS ada sekitar 10.376 orang hidup dengan HIV yaitu pada kelompok usia 25-49 tahun mencapai 69,6%, kemudian disusul kelompok umur 20-24 tahun mencapai 17,6% dan kelompok umur 50 tahun mencapai 6,7 %.

Sementara kita juga bisa melihat persentase AIDS tertinggi pada kelompok usia 30-39 tahun yaitu 38,6% dan disusul oleh kelompok usia 20-29 tahun mencapai 29,6% dan kelompok usia 40-49 mencapai 16,5% (Ditjen PP & PL Kemenkes 2017).

Masa remaja merupakan masa peralihan (transisi) dari anak-anak ke masa dewasa. Pada masa transisi, remaja sering menghadapi permasalahan yang sangat kompleks dan sulit ditanggulangi sendiri. Tiga risiko yang sering dihadapi oleh remaja (TRIAD KRR, 2016) yaitu risiko yang berkaitan dengan seksualitas (kehamilan tidak diinginkan, aborsi dan terinfeksi penyakit menular seksual), penyalahgunaan NAPZA, dan HIV dan AIDS.

Masa transisi kehidupan remaja dibagi menjadi lima tahapan (youth fi ve life transitions), yaitu melanjutkan sekolah (continuelearning), mencari pekerjaan (startworking), memulai kehidupan berkeluarga (form families), menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship), dan mempraktikkan hidup sehat (practice healthy life).

Dalam rangka menumbuh kembangkan perilaku hidup sehat bagi remaja, maka perlu kepedulian dalam bentuk pelayanan dan penyediaan informasi yang benar serta kesepahaman bersama akan pentingnya kesehatan reproduksi remaja sehingga dapat membantu mereka dalam menentukan pilihan masa depannya.

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), menurut DITREM-BKKBN adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi (fungsi, komponen dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental dan emosional.

Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah perilaku seks beresiko hingga masalah kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah di luar pernikahan.

Mengapa remaja melakukan hubungan seks? Penyebabnya antara lain tekanan pasangan, merasa sudah siap melakukan hubungan seks, keinginan dicintai, keingintahuan tentang seks, keinginan menjadi popular, tidak ingin diejek “masih perawan”, pengaruh media massa (tayangan TV dan internet) yang memperlihatkan bahwa normal bagi remaja untuk melakukan hubungan seks, serta paksaan dari orang lain untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seks berisiko mengarah pada terjadinya kehamilan tak diinginkan.

Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) terjadi karena beberapa faktor seperti faktor sosiodemografik (kemiskinan, seksualitas aktif dan kegagalan dalam penggunaan kontrasepsi, media massa), karakteristik keluarga yang kurang harmonis (hubungan antarkeluarga), status perkembangan (kurang pemikiran tentang masa depan, ingin mencoba-coba, kebutuhan akan perhatian), penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan.

Selain itu kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar tentang proses terjadinya kehamilan dan metode pencegahannya, kegagalan alat kontrasepsi, serta dapat juga terjadi akibat terjadi tindak perkosaan. KTD berdampak bukan hanya secara fisik, psikis namun juga sosial.

Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkan respon dari dua pihak. Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadi kehamilan pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolah meresponnya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya siswi tersebut dari sekolah.

Remaja menjadi putus sekolah, kehilangan kesempatan bekerja dan berkarya dengan menjadi orang tua tunggal dan menjalani pernikahan dini yang tidak terencana.

Kedua yaitu dari lingkungan tempat remaja tinggal, lingkungan akan cenderung mencemooh dan “mengucilkan” remaja tersebut. Hal tersebut terjadi karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita.

Akibatnya remaja akan kesulitan beradaptasi secara psikologis, kesulitan berperan sebagai orang tua (tidak bisa mengurus kehamilan dan bayinya), akhirnya berujung pada stress dan konflik, aborsi ilegal yang lebih lanjut berisiko mengakibatkan kematian pada ibu dan bayi.

Paling tidak ada beberapa penyebab rentannya remaja terhadap HIV dan AIDS diantaranya adalah 1). Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang aman dan upaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan kaum muda.
2). Perubahan fisik dan emosional pada remaja yang mempengaruhi dorongan seksual dan mencoba-coba sesuatu yang baru, termasuk melakukan hubungan seks dan penggunaan narkoba.
3). Adanya informasi yang menyuguhkan kenikmatan hidup yang diperoleh melalui seks, alkohol, narkoba, dan sebagainya yang disampaikan melalui berbagai media cetak atau elektronik, yang begitu mudahnya di akses oleh siapa pun.
4). Adanya tekanan dari teman sebaya untuk melakukan hubungan seks, misalnya untuk membuktikan bahwa mereka adalah jantan,
5). Risiko HIV dan AIDS sukar dimengerti oleh remaja, karena HIV dan AIDS mempunyai periode inkubasi yang panjang, gejala awalnya tidak segera terlihat.
6). Informasi mengenai penularan dan pencegahan HIV dan AIDS rupanya juga belum cukup menyebar di kalangan remaja sehingga banyak remaja masih mempunyai pandangan yang salah mengenai HIV dan AIDS.
7). Remaja pada umumnya kurang mempunyai akses ke tempat pelayanan kesehatan reproduksi dibanding orang dewasa sehingga banyak remaja yang terkena HIV dan AIDS tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, kemudian menyebar ke remaja lain, sehingga sulit dikontrol.

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja di atas memerlukan suatu upaya pengembangan program pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang dapat mencakup penyediaan pelayanan klinis, pemberian informasi akurat, mempertimbangkan kemampuan dan sisi kehidupan remaja, menjamin program yang cocok atau relevan dengan remaja serta mendapat dukungan masyarakat.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) berbasis sekolah merupakan salah satu alternatif strategi yang tepat karena bisa mencakup semua tantangan di atas.

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang dilakukan oleh sekolah merupakan salah satu upaya untuk membimbing remaja mengatasi konflik seksualnya. Oleh berbagai pihak, sekolah dan guru dianggap sebagai pihak yang layak memberikan pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ini.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) untuk memberikan bekal pengetahuan kepada remaja mengenai anatomi dan fisiologi reproduksi, proses perkembangan janin, dan berbagai permasalahan reproduksi seperti kehamilan, PMS, HIV dan AIDS, KTD dan dampaknya, serta pengembangan perilaku reproduksi sehat untuk menyiapkan diri melaksanakan fungsi reproduksi yang sehat (fisik, mental, ekonomi, spiritual).

Pendidikan KRR dapat diwujudkan dalam penyuluhan, bimbingan dan konseling, pencegahan, penanganan masalah yang berkaitan dengan KRR termasuk upaya mencegah masalah perenatal yang dapat dialami oleh ibu dan anak yang dapat berdampak pada anggota keluarga lainnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here