Sektor Pariwisata, Kuda Hitam Pembangkit Perekonomian Kepri

0
1181
Agus Muslim

Oleh : Agus Muslim
ASN di BPS Provinsi Kepri/Mahasiswa Tugas Belajar di IPB Bogor

Beberapa waktu yang lalu, aktor terkenal yang juga mantan Gubernur California, Arnold Schwarzenegger menghebohkan jagad sosial media setelah mengunggah foto dirinya yang sedang tidur di jalan di bawah patung perunggu dirinya di luar suatu hotel, dan menulis dengan sedih, ‘How times changed’ (“Bagaimana waktu berubah”). Seperti dilansir Trends Gulte (22/8/2017), alasan dia menuliskan kalimat tersebut bukan karena dia tua, tapi karena ketika dia jadi Gubernur California, beliau meresmikan hotel tersebut dengan patung perunggu dirinya di depan hotel, pihak hotel menyampaikan ke Arnold “Setiap saat Anda boleh datang, ada kamar untuk Anda yang selalu tersedia”. Namun ketika Arnold sudah tidak menjabat gubernur lagi dan datang ke hotel tersebut, pihak hotel menolaknya dengan alasan bahwa kamar hotel sudah penuh.

Melalui foto tersebut, dia menyampaikan sebuah pesan bahwa penghormatan orang terhadap Anda berubah seiring berjalannya waktu. Apa yang dialami oleh Arnold Schwarzenegger, identik dengan yang dialami Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat ini. Kepri dengan Batamnya, dulu disanjungpuja karena pertumbuhan ekonominya yang selalu di atas pertumbuhan ekonomi nasional dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi, di saat pertumbuhan ekonomi melemah, kritikan pedas namun konstruktif juga bermunculan baik dari kalangan legislatif maupun berbagai lapisan masyarakat.

Pemprov Kepri menargetkan pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,85 persen, tetapi pada semester pertama 2017 pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri hanya 1,52 persen. Hal ini merefleksikan kondisi ekonomi Kepri sedang “meriang”. Penulis sangat tertarik dengan tulisan dari Kepala BPS Provinsi Kepulauan Riau yang dimuat dalam Harian ini yang berjudul “Saatnya Mendiversifikasi Kekuatan ekonomi Kepri Ke Non Manufaktur”, karena diversifikasi bisa dijadikan salah satu solusi untuk mempercepat kembali laju pertumbuhan ekonomi Kepri.

Dugaan sementara melemahnya perekonomian Kepri di antaranya disebabkan oleh tutupnya beberapa kegiatan industri besar di Kota Batam. Fenomena ini tidak terlalu mengejutkan bila dikaitkan dengan apa yang pernah ditulisoleh Leo van Grunsven dan Francis E. Hutchinson pada tahun 2015 dalam suatu jurnal ilmiah yang menyebutkan bahwa industri di Batam, tidak dalam keadaan kuat (robust). Hal ini dikarenakan rendahnya inovasi, tidak ada lagi infrastruktur, pendidikan dan teknologi, dan kurangnya modal manusia yang terampil, sehingga industri di Batam belum mencapai tingkat ketahanan yang signifikan. Dalam kondisi seperti ini, “kesehatan” industri manufaktur akan rentan dan mudah jatuh “sakit”. Maka tepat apa yang disarankan oleh Kepala BPS Provinsi Kepri itu karena hasil-hasil penelitian menyimpulkan bahwa diversifikasi sektor ekonomi mampu menjadi pembangkit keterpurukan ekonomi di suatu wilayah. Melalui diversifikasi tersebut, terutama melalui investasi di sektor baru, akan lebih mudah dan lebih menguntungkan daripada meningkatkan dan memperdalam kemampuan ekonomi di sektor yang sudah ada.

Baca Juga :  Kepri Berjalan dengan Kaki Satu yang Korengan

Diversifikasi ke Sektor Pariwisata
Proses menuju diversifikasi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus ditunjang dengan berbagai literatur dan penelitian sehingga diversifikasi tidak salah arah.Yang menjadi pertanyaan adalah agar perekonomian Kepri bangkit kembali, apabila ingin melakukan diversifikasi, makake sektor apa? Penulis sependapat dengan tulisan kepala BPS Kepri tempo hari, salah satu nya yaitu diversifikasi kesektor pariwisata. Kenapa harus kesektor pariwisata???

Sektor pariwisata merupakan salah satu industri terbesar dan merupakan sektor jasa dengan tingkat pertumbuhan paling pesat di dunia saat ini. Dengan dukungan industri teknologi dan informasi, sektor pariwisata diperkirakan mampu menjadi prime mover perekonomian abad 21.

Posisi Kepri yangberbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, merupakan modal strategis untuk menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Kepri yang notabenememiliki potensi wisata yang sangat besar, terutama wisata bahari, wisata belanja dan wisata budaya. Kepri telah memenuhi semua kriteria 3A untuk sebuah destinasi wisata, yaitu: Attractiveness (daya tarik), Amenities (fasilitas pendukung/akomodasi) dan Acces (Aksess) (Bank Indonesia, 2017).

Potensi pariwisata Kepri yang bisa dijadikan sebagai tempat tujuan wisata sangatlah luar biasa.Selain Batam, Pulau penyengat,Lagoi dan tempat wisata yang lain, spotwisata Pulau Bawah di Anambasmerupakan salah satu pulau terindah se-Asia sebagaimanadinobatkanCNN pada tahun 2013. Pada tahun yang sama, dalam Anugerah Pariwisata Indonesia (API) Pulau Bawah masuk menjadi salah satu nominator dalam kategori Tempat Menyelam Terpopuler (Most Popular Diving Spot).

Baca Juga :  Bongkar Pasang Ekonomi Batam

Alasan yang lainkenapa harus diversifikasi ke Sektor pariwisata yaitu potensi Wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri sangat banyak sekali. Pada tahun 2016 banyaknya perjalanan yang dilakukan penduduk Indonesia yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau yaitu sekitar 3.077.543 dansekitar 58,02 persenmelakukanperjalanandengantujuanuntukberlibur/rekreasi. Sedangkan, jumlahpenduduk Indonesia yangmelakukan perjalanandengantujuan utama keProvinsi Kepri,adasekitar 2.891.123 orang, dan sekitar 59,73 persen datang ke Kepri untuk berlibur/rekreasi (Kementrian Pariwisata RI, 2016).Sementara itu,jumlah wisatawan mancanegara selama periode januari-Desember 2016 yang datang ke Kepri ada sekitar 1.920.232 orang atau 16,67 persen terhadap total wisman nasional (BPS Kepri,2017). Hal tersebutmerupakanpotensi yang sangat luar biasa,karena kedatangan wisatawan jelas akanmenjadi sumber pendapatan bagi Kepri dan mampu menggeliatkan berbagai kegiatan ekonomi sektor-sektor ikutannya.

Penelitian mengenai seberapa besar dampak sektor pariwisata terhadap ekonomi Kepri memang tidak begitu banyak, salah satunya yaitu Analisis Neraca Satelit Sektor Pariwisata tahun 2013.

Analisis Neraca Satelit Sektor Pariwisata
Berdasarkan analisis neraca satelit pada tahun 2013, stimulus perekonomian Kepri yang diciptakan olehsektor Pariwisata sebesar Rp.8,73 triliun. Angka ini diperolehdari pengeluaran WismanRp.6,23 triliun, Wisnus dari Luar Provinsi Rp.926,26 milyar, wisatawan Kepulauan Riau yang melakukan perjalanan ke luar provinsi (pre+post) Rp.782,99 milyar, Wisnus Lokal Rp.479,20 milyar, wisatawan Kepulauan Riau yang melakukan perjalanan ke luar negeri (pre+post) Rp.241,60 milyar, dan pengeluaran anggaran Pemerintah Daerah untuk promosi pariwisata Rp65,69 miliar. Jumlah ini belum termasuk pengeluaran investasi, serta promosi yang dilakukan dunia usaha untuk keperluan pariwisata dan pemerintah pusat, karena datanya belum tersedia.

Dengan mempertimbangkan besarnya potensi dan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Kepri, maka pengembangan sektor pariwisata untuk masa mendatang harus mendapat prioritas terlebih dengan potensi yang dimiliki oleh wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Baca Juga :  Dinamika Kenakalan Remaja sebagai Permasalahan Sosial

Apa yang perlu dilakukan agar sektor wisata menjadi salah satu sektor yang mampu diandalkan untuk mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi kepri? Beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya pelaksanaan event-event pariwisata.

Event pariwisata dan Kunjungan Wisatawan
Ada beberapa event pariwisata di Kepri pada tahun 2017, di antaranya yaitu pada Maret 2017, diadakan Tour De Bintan, berdasarkan rilis perkembangan pariwisata oleh BPS Kepulauan Riau, pada bulan tersebut di Kabupaten Bintan wisatawan manca negara (wisman) naik dari 21.664 orang pada Februari 2017 menjadi 25.198 orang pada Maret 2017 (naik sekitar 16,31 persen).

Pada Juli 2017, di Tanjungpinang dilaksanakan Festival Pulau Penyengat, ternyata wisman yang datang ke Tanjungpinang pada Juli 2017 meningkat dari 8.666 wisatawan menjadi 9.762 orang (meningkat 12,65 %). Dari keterangan tersebut, terlihat jelas bahwa event pariwisata mempunyai korelasi yang positif terhadap kunjungan wisatawan ke daerah tersebut, dan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, hal ini akan menghasilkan efek multiplier terhadap sektor ikutannya.

Sektor pariwisata melibatkan hampir semua sektor ekonomi baik yang tergolong tourism characteristic industry seperti hotel dan restoran maupun tourism connected industry yaitu industri yang sepintas tak berkaitan dengan industri pariwisata namun sebagian demand nya berasal dari pariwisata. Dengan kata lain,sektor yang terkait dan menerima dampak multiplier dari pariwisata sungguh tak terbilang dan apabila dikelola dengan baik, jelas akan mampu mengangkat kembali pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau.

Mari bersinergi untuk meningkatkan kembali perekonomian Kepri, Persiapkan proses diversifikasi yang ditunjang dengan berbagai kajian pendukungnya dan dengan melihat potensi yang ada. Dengan demikian, sektor Pariwisata akan dapat menjadi Kuda Hitam Pembangkit Perekonomian Kepri untuk mendongkrak perekonomian kepri dari keterpurukan.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here