Selamatkan Generasi Bangsa dari Narkoba

0
2038
Muhammad Febry Alfiandi Muslim

Oleh: Muhammad Febry Alfiandi Muslim
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji

Narkoba menjadi perhatian khusus bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebagai genersi penerus bangsa tentunya memiliki kontribusi dan diharapkan mampu berperan dalam memajukan serta membangun karakter bangsa. Tetapi sangat disayangkan, sebagian generasi muda termasuk di dalamnya para pelajar bahkan mahasiswa sampai hari ini dari mereka terjerat hukum dan terjerumus lantaran narkoba.

Hal itu seolah menambah angka prevalensi pengguna narkoba di Indonesia. Bahayanya tentu yang berdampak pada generasi bangsa di masa mendatang. Saat ini pemerintah tetap konsisten serta serius menghadapi dan menangani persoalan yang telah terjadi belakangan ini.

Terbukti penjatuhan hukuman mati pada gembong nakoba terhadap 8 warga negara asing termasuk 1 di antaranya warga negara Indonesia yang menjadi terpidana narkoba pada 29 April 2015 tetap dilakukan oleh pemerintah indonesia. Bahkan presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia sedang darurat narkoba dan menyatakan perang melawan narkoba.

Jokowi menyampaikan, 50 orang mati setiap hari karena narkoba. “Bayangkan, setiap hari ada hampir 40 sampai 50 generasi bangsa yang meninggal dunia karena narkoba,” ujarnya dalam sambutan Rapat Koordinasi Nasional Gerakan Nasional Penanganan Ancaman Narkoba dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, 2015 silam.

Pada tahun 2016 sebanyak 445 kg sabu, 190 ribu butir ekstasi, 422 ganja kering, dan 323 ribu butir happy five dimusnakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dihadiri langsung oleh Presiden di Lapagan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, 6 Desember.

Upaya pemerintah dalam memberantas narkoba pun terus dilakukan serta mengacu pada Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Bahaya narkoba bagi penggunanya memang sangat mengerikan, apalagi jika penggunanya generasi muda yang merupakan penerus bangsa tentu sangat berdampak pada masa depan suatu bangsa.

Karena penggunaan narkoba sendiri tidak ada perbedaan terhadap penggunanya apakah dia orang tua atau muda, pria maupun wanita yang jelas siapapun penggunanya, apapun pekerjaannya, berapa umurnya tentuakan membawa dampak negatif bagi dirinya baik secara mental maupu fisik hingga parahnya lagi berujung pada kematian.

Hal inilah salah satu yang menyebabkan hancurnya sumber daya manusia Indonesia. Untuk itu perlu diketahui, guna mewujudkan sumber daya manusia Indonesia termasuk generasi muda di dalamnya dari penyalagunaan Narkotika, melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Baca Juga :  Asa untuk Pengganti Jakarta

Memang tidak bisa dianggap sepele dan perlu penanganan serius sampai keakar-akarnya agar negeri in ibenar-benar bersih dari penyalahgunaan narkoba. Namun, yang pasti hingga hari ini pemerintah sangat serius dan terus berupaya menangani serta menindak tegas para pelakunya agar masyarakat indonesia khususnya generasi muda yang akan meneruskan bangsa ini tidak hancur karena narkoba.

Namun menurut data penelitian Badan Narkotika Nasional, jumlah pengguna narkoba di indonesia pada tahun 2015, angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang dan jumlah angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba, setiap hari 40 sampai 50 [orang] generasi muda matikarena mengalami over dosis.

Ditambah lagi total kerugian material diperkirakan kurang lebih Rp 63 triliun, yang menyangkut kerugian akibat belanja narkoba, kerugian akibat biaya pengobatan, kerugian akibat biaya rehabilitasi dan biaya-biaya lainnya. Sedangkan ketentuan pidana berlakudan dapat dijerat dengan Pasal 111 s.d 129 Undang-undang No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ketentuan yang berlaku.

BNN dan jajarannya harus dipastikan bekerja secara profesional dan selektif agar seluruh kasus yang ditangani benar-benar diberi tindakan tegas sesuai hukum. Tidak hanya BNN maupun pejabat yang berwenang, maka peran serta masyarakat dan tanggung jawab juga dibuthkan dalam penanganan tindak pidana Narkotika yang diatur dalam Bab XIII Pasal 104 dan Pasal 105 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta membantu pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Perkursor Narkotika (Pasal 104 UU 35/2009).

Untuk pelajar maupun mahasiswa yang terjerat narkoba apabila masih memenuhi syarat sebaiknya perlu direhabilitasi agar dibimbing kejalan perubahan yang lebih baik, dengan alasan, apabila pengguna baru tertangkap sekali dan dapat membuktikan bahwa hanya pengguna bukan pengedar maka perlu mendapat hukuman rehabilitasi. bagaimana pun juga mereka adalah generasi bangsa ini yang masih menyimpan sejuta mimpi.

Saya yakin tidak semua para pelajar atau mahasiswa yang terciduk aparat karena murni dari unsur kesengajaan menggunakan narkoba, mungkin saja sebagian dari mereka salah pergaulan atau bahkan korban hasil jebakan. Banyak faktor yang membuat mereka masuk ke dalam lingkaran hitam itu. Jadi memang perlu direhabilitasi, “menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan pecandu narkotika”Pasal 4 huruf d UU 35/2009.

Baca Juga :  Pengaruh Medsos Terhadap Pencegahan Penyebaran Pandemik Covid-19

Hal-hal yang dapat dilakukan generasi muda menjahui narkoba.

Pertama, pendekatan agama sebagai suatu hal mutlak karena dengan kita mengingat Tuhan maka kita pasti bisa mengingat diri kita sebagai manusia ciptaan-Nya yang senantiasa berupaya untuk mengatasi segala masalah, kesusahan dan kemalangan kita. Selalu berusaha dan tetap berdo’a untuk dapat keluar dari masalah yang kita hadapi tersebut.

Kedua, fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan awal karakter anak sebagai generasi bangsa perlu dibentuk dari sikap dan perilaku orang tua yang memiliki tanggung jawab terhadap anak dan upaya pencegahan dari awal dan kontrol orang tua dibutuhkan untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya.

Ketiga, peran orang tua sebagai orang yang pertama kali bertanggung jawab terhadap perilaku anak. Jadi orang tua perlu meluangkan waktu bersama anak untuk memberi nasehat, informasi, sharing, atau bagi pengalaman dan tempat curhat ketika anak-anak memiliki masalah dalam kehidupan sehari-harinya.

Keempat, pendidikan usia dini terhadap bahaya narkoba dilakukan sekolah melalui kampanye atau sosialisasi bahaya narkoba dengan melibatkan semua komponen sekolah, pihak berwajib dan masyarakat.

Kelima, para pemuda perlu memilih dan harus selektif terhadap pergaulan atau perkumpulan kaum muda dan pilihlah pergaulan yang sehat antara teman dan melakukan aktivitas yang positif seperti olahraga, seni dan budaya.

Keenam, memiliki niat serta komitmen yang kuat untuk tidak pernah mau mencoba-coba memakai narkoba serta berniat untuk tidak pernah ingin menyalagunakannya, karena dengan niat berarti kita punya kemauan untuk menolak segala godaan narkoba.

Ketujuh, bagi para pelajar dan mahasiswa yang rentan akan bahaya narkoba lebih disarankan untuk fokus terhadap pendidikan saja dan mengalihkan segala perhatian pada hal yang bermanfaat seperti mengikuti pelombaan dibidang akademik maupun non akademik serta melakukan gerakan antisipasi secara swadaya yang dimualai dari lingkungan keluarga, lingkungan RT (Rukun Tetangga), dan RW (Rukun Warga) serta meningkatkan kembali organisasi kemasyarakatan untuk membentengi diri dari masuknya narkoba dilingkungan sekitar.

Baca Juga :  ISTEMI dan Lesunya Ekonomi

Dibutuhkan peran seluruh elemen-elemen masyarakat untuk saling mengingatkan dan kepastian hukum yang lebih berat. Untuk hukuman bagi pelaku yang terjerat hukum bila perlu mereka yang terbukti menggunakan maupun pengedar selain di kenakan pasal dan di kurung di balik jeruji besi, mereka juga wajib dikenakan retribusi atau semacam denda, supaya tidak hanya membuat persoalan baru juga pada lapas yang hanya menyebabkan over kapasitas saja.

Mereka harus menerima resiko ini, terbukti pelakunya sudah melanggar hukum dan merugikan negara. Karena apabila perlu merehabilitasi para narapidanatentu perehabilitasian juga menggunakan anggaran negara.

Jadi, dengan membayar retribusi pada negara telah mengganti dari pengeluaran negara sehingga dapat ditutupi pengeluaran negara. Dengan penambahan beban pada narapidana seperti ini, mereka yang nantinya akan menyalahgunakan narkoba pun dapat beranggapan bahwa selain terjerat kurungan atau bahkan hukuman mati, terlebih dahulu diharuskan membayar retribusi atau semacam denda pada negara.

Dengan penambahan beban ini, diharapkan mereka yang ingin melakukannya merasa lebih terbebani. Apabila mereka ingin melakukan hal yang dilarang itu berarti mereka telah siap menerima konsekuensinya. Semoga dengan adanya langkah ini dapat mengurangi tingkat penurunan penyalahgunaan Narkoba pada generasi bangsa yang nantinya akan membawa dampak yang lebih baik kedepan.

Sebagai generasi penerus bangsa tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini di masa yang akan datang, bukan justru malah merusak repurtasi bangsa. Untuk itu jadilah generasi yang mampu menghindari dan mengawasi penyalahgunaan narkoba terutama yang terkecil yaitu dilingkungan sekitar kita untuk diri kita sendiri maupun orang lain.

Tidak hanya aparat hukum, peran serta masyarakat penting dan diharapkan mampu mendukung kinerja aparat. Dengan ini perilaku penyalahgunaan narkoba khususnya di wilyah Kepri dan umumnya di Indonesia dapat semangkin berkurang. Jauhi narkoba! tangkap dan tindak tegas pelakunya! merekalah penyebab rusaknya generasi bangsa.”Say no to drugs”.Sehingga dapat tercapai cita-cita bangsa serta terwujudnya Zero narkobadi Indonesia.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here