Selambe Kepri; Merentas Jalan Sejarah

0
421
Naskarwandi, ST

Oleh : Naskarwandi, ST
Litbang DPP Selambe Kepri

Pemuda adalah nafas zaman, kelompok idaman ummat dan bangsa yang kaya akan kritik, imajinasi, serta dalam setiap peristiwa yang terjadi ditengah perubahan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri pemuda memegang peranan penting dalam hampir setiap tranformasi sosial dan perjuangan meraih cita–cita.

Di Rusia, Revolusi Bolsevik (Oktober 1917) menandai jatuhnya Dinasti Romanov dengan nahkodanya Tsar Nicholas II, diiringi cucuran darah 15 juta orang tewas selama revolusi, pun digerakkan oleh kaum muda. Adalah Karl Marx (1818 – 1883), Lenin (1870 – 1924), Leon Trotsky dan Plekhanov. Karl Heinrich Marx dengan bukunya Das Kapital sebagai pencipta dan pemikir komunisme, sedangkan pemuda Lenin adalah orang pertama yang dianggap mewujudkan konsep–konsep Marx dalam masyarakat. Bahkan Gorby Muda (Michael Gorbacev) ketika berusia 18 tahun menulis “ Lenin adalah ayahku, guruku, dan tuhanku.”

Begitu pula sejarah transformasi sosial (dakwah Islam) pemuda memegang peran dominan. Rasulullah Muhammad Ketika diangkat berumur empat puluh tahun. Berkata Ibnu Abbas r.a, “ Tak ada seorang nabipun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni 30 – 40 tahun). Begitu pula tidak seorang alim pun yang diberi Ilmu, melainkan ia dari kalangan pemuda”.

Pengikut Rasulullah SAW yang merupakan generasi pertama kebanyakan dari kalangan pemuda bahkan sebagian masih anak – anak. Mereka mendapatkan transfer pemikiran (tsaqofah) Islam dari Rasulullah SAW diantaranya Ali Bin Abi Thalib dan Zubaer bin Awwam (8 tahun), thaihah (11 tahun), Ar – Arqam (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud (14 tahun), Saad bin Abi Waqqas (17), Ja’far bin Abi Thalib (18), Zaid bin Harifsah (20), Ustman (20), Mushab bin Umair (24), Umar bin Kattab (27), Billal bin Rabah (30), Abu Bakar (27) dll.

Dari sini terbentuk cikal bakal (embrio) generasi terbaik yang berhasil membongkar struktur paganis dan stagnasi pemikiran, kebodohan (adat jahil) yang telah mengakar di Jazirah Arab. Selanjutnya risalah Islam dengan pemikirannya (Islamic though) dan metode penerapannya (Islam Method) berhasil menjadikan Jazirah Arab yang terlupakan, menjadi pusat peradaban dunia dan berhasil menempatkan ummat Islam, diposisi puncak peradaban selama berabad – abad lamanya.

Merentas Jalan Kebangkitan
Kondisi faktual kaum muslimin yang diliputi sekian jenis permasalahan berupa keterbelakangan, kemiskinan, diskriminasi terhadap kaum wanita dan kerusakan akhlak adalah sekedar gejala. Penyakit sesungguhnya adalah tidak establishnya system kehidupan Islam.

Selama Islam tidak dijalankan sebagai sebuah ideologi dan system kehidupan, sepanjang itu pula berbagai masalah akan terus diproduksi di tengah–tengah ummat, baik permasalahan internal yang berasal dari tubuh ummat maupun yang datang dari luar. Atas dasar itu, solusi gamblangnya adalah mencabut system kufur, baik Kapitalisme – sekuler maupun Sosialisme – Komunis, hingga ke akar – akarnya, dan mewujudkan sebuah tatanan kehidupan Islam.

Permasalahan seperti yang diuraikan diatas harus segera disikapi. Karena jika dibiarkan berlarut – larut, permasalahan umat yang multikompleks sekarang akan semakin bertumpuk lagi. Semakin banyak masalah sama dengan semakin berat beban yang dipikul umat.

Di sinilah peranan generasi muda, terutama dari kalangan cendekiawan Islam sangat dibutuhkan. Seperti dikatakan pendiri Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al Banna atau yang lebih dikenal dengan Hasan Al Banna, sejak dahulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya, dalam setip fikrah (pemikiran) pemuda adalah panji – panjinya.

Kalimat yang diucapkan pembaharu Islam tersebut secara jelas menegaskan kepada kita betapa signifikannya peran pemuda dalam kehidupan umat. Pemuda selalu menjadi pioner dalam berbagai pergerakan dimanapun.

Cendekiawan Muslim Muda, tiga kata kunci yang sarat makna dan menuntut peran nyata bagi yang menyandangnya. Kata cendekiawan yang dalam Al-Qur’an yang disebut Ulul Albab adalah perwujudan aktifitas akal dan hati. Akallah yang telah membuktikan kebenaran Islam dan setelah terbukti hati akan meyakini, selanjutnya mendorong setiap muslim yang memahami dan meyakininya untuk bergerak, menjadi agen – agen perubah ditengah – tengah masyarakat.

Kata kunci muslim menunjukkan bahwa berislamnya seseorang menuntut adanya totalitas. Karakter Islam yang syumul mewarnai seluruh aspek kehidupan sehingga pola pikir, emosi, perasaan dan juga fisik terwarnai dengan Islam. Kata muda menunjukkan sosok yang produktif, progresif, kreatif serta inovatif, yang menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab.

Saatnya kini lahir gerakan besar kebangkitan ummat yang dilandasi kesadaran dan keyakinan yang dipelopori kaum muda. Pemuda yang membekali diri dengan pemahaman Islam yang jernih secara mendalam sehingga mampu menampilkan Islam sebagai system yang komprehensif. Pemuda yang siap menyongsong peradaban masa depan, yang disebut futurology Alvin Toffler sebagai peradaban gelombang ketiga, peradaban yang telah mengutamakan pelipatgandaan kekuatan pikir manusia. Abad dimana akselerasi perubahan dan kemajuan semakin tinggi dan insten seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ummat Islam harus memiliki kembali pemikiran Islam yang utuh dan menyeluruh serta jelas tentang gambaran kehidupan Islam dimasa depan serta memahami fakta – fakta yang sedang terjadi sekarang sehingga menemukan strategi dan taktik implementasi konsepsi mereka dalam realitas kehidupan.

Penguasaan khazanah pemikiran Islam dan kebiasaan berpikir menghubungkan pemikiran tersebut dalam realitas kehidupan akan membentuk kepakaran dan keahlian (experties) ummat dalam mewujudkan visi dan misi kehidupan mereka.

Sebab, tradisi menghubungkan informasi maupun konsep pemikiran dengan realitas akan membentuk metode berpikir yang produktif dalam diri ummat ini dan mereka akan menjadi ummat yang bertradisi berfikir, ummah mufakkirah, ummat yang mampu bangkit meniti jalur kehidupan yang luhur.

Di sinilah pentingnya kepedulian dan peran cendekiawan muda untuk pandai – pandai membaca realitas sosial sehari – hari, menangkap dan memahaminya secara cerdas dan bertanggung jawab, mencari solusi atas berbagai problematika ummat dengan menjadikan Islam sebagai poros rujukan. Kiranya sosok pemuda yang diimpikan Alquran yang berilmu dan berhikmah menjadi sumber inspirasi kaum muda cendekiawan muslim dan sumber inspirasi untuk hari ini dan esok, sehingga dapat memberikan kontribusi yang terbaik untuk ummat, bangsa dan Negara.

Impian Masyarakat Madani
Ikatan Cendekiawan Muslim Muda yang merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan lahir pada deklarasi pada tanggal 19 september 2005 dan di sah pada muktamar I pada tanggal 23 – 25 Juli 2006 di makasar.

Eksistensi organisasi ini memainkan peran yang sangat penting dalam upaya untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang maju, adil dan sejahtera lewat berbagai macam kegiatan seperti pemberdayaan ekonomi rakyat, pendidikan, budaya, sosial dan politik dengan basis penyangga pada peningkatan kualitas iman,pikir, karya, kerja dan hidup.

Atau dengan kata lain, kehadiran ICMI Muda ditengah terbukanya ruang public yang sarat dengan berbagai perubahan yang berlangsung begitu cepat dinilai sebagai suatu kebutuhan yang didasari oleh adanya komitmen moral yang luhur untuk mengembangkan kualitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik itu dalam konteks hubungan antar sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Ditengah semakin luasnya wilayah permasalahan rakyat dan umat yang sangat kompleks, maka peranan kaum cendekiawan sangat diperlukan dalam mengolah kepentingan, aspirasi dan dinamika kehidupan masyarakat yang mosaik masalahnya begitu ruwet.

Dalam hal ini, kelompok cendekiawan dapat menawarkan gagasan serta memiliki komitmen moral yang sangat kuat untuk melibatkan diri dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan Negara dengan tetap berpegang prinsip dan sikap yang sifatnya terbuka, kritis, objektif, kreatif dan analitis.

Tentu saja, tugas yang diemban dan dilakukan oleh cendekiawan yang tergabung dalam satu wadah atau forum yang dapat menampung pikiran dan tenaga mereka yang dalam hal ini organisasi ICMI Muda, yaitu bertujuan untuk menciptakan insfrastruktur kekuatan masyarakat, memberdayakan dan menumbuhkan kekuatan rakyat. Untuk melasanakan tugas tersebut, maka kelompok cendekiawan senantiasa diharapkan dapat menempatkan diri pada posisi yang strategis.

Artinya, posisinya harus mandiri, bebas berpikir, berani dan objektif dalam menyampaikan gagasan demi untuk membela kebenaran, serta tidak terikat pada suatu komunitas sosial politik tertentu.

Dan dengan posisi seperti itu, mereka benar – benar dapat menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, memberi teladan dan menyampaikan kepada masyarakat tentang kebaikan serta cara untuk menciptakan suatu kehidupan yang aman dan damai, melindungi yang lemah, memerangi segala bentuk kejahatan dan penyakit masyarakat.

Dengan kata lain, kelompok cendekiawan senantiasa menginginkan agar supaya mereka yang dengan segala potensi, ketrampilan dan pengetahuannya selalu merasa terpanggil dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara.

Seiring dengan tingginya antusiasme yang dinampakkan oleh semua elemen masyarakat untuk menegakkan masyarakat madani yang kuat, maka diharapkan ICMI Muda yang merupakan organisasi voluntir yang mandiri, transparan dan prodemokrasi serta bergerak di luar orbit negara atau pemerintahan dapat memainkan peran korektif terhadap perjalanan kehidupan bangsa dibawah kendali negara dan bahkan kalau perlu memposisikan dirinya berhadapan dengan hegemoni Negara atau system politik yang represif dan otoriter (civil society vis a vis state) demi untuk terwujudnya masyarakat madani yaitu suatu model masyarakat yang seringkali dicirikan antara lain,

Pertama, masyarakat yang memiliki kesadaran hukum yang tinggi sehingga seluruh system hokum dan perundang – undangan yang dibuat dan dilaksanakan.

Kedua, masyarakat yang mandiri, terbuka, modern, menjunjung tinggi HAM, kesetaraan, kemajemukan dan demokratis. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan politik dan normatif prinsip demokrasi seperti bebas dari kekerasan dan tindakan sewenang – wenang Negara, menjamin rasa keadilan, persamaan, keamanan materil dan membebaskan rakyat dari segala bentuk ketertinggalan pembangunan ekonomi dan sosial, maka posisi civil society harus diperkuat.

Dan ketiga, masyarakat yang menjunjung tinggi kesejahteraan, perdamain, kebersamaan, kesetaraan antara hak dan kewajiban, kebebasan yang bertanggung jawab, rasa keadilan, menenggang adanya perbedaan serta mendorong terbukanya wilayah public sebagai sarana untuk mengekspresikan aspirasi dan kepentingan rakyat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here