Selingkuh, Penyebab Utama Perceraian

0
966
ANTRE: Warga Tanjungpinang saat mengurus perkara cerai di Pengadilan Agama Tanjungpinang, Rabu (17/5). F-Yoan/Tanjunginang Pos

TANJUNGPINANG – Kasus perceraian di Pengadilan Agama Kota Tanjungpinang tahun 2017 meningkat. Sebagian besar perceraian tersebut disebabkan gangguan pihak ketiga atau perselingkuhan. Kemudian disusul faktor ekonomi.

”Ya, kebanyakan pertengkaran disebabkan penelantaran nafkah hidup termasuk akibat perselingkuhan,” kata Panitera Muda Hukum, Muzahar, Sag Kamis (17/5).

Untuk tahun 2017 hingga Mei, tercatat ada sebanyak 243 kasus gugatan cerai yang diajukan oleh para istri terhadap suaminya.
Data di Pengadilan Agama, Januari kasus cerai talak ada 27 perkara, cerai gugat 72 perkara.

Februari, cerai talak 20 perkara, dan cerai gugat 63 perkara. Maret, tercatat cerai talak hanya 12 kasus dibandingkan cerai gugat sebanyak 50 kasus. April, cerai talak hanya 8 kasus sementara cerai gugat 58 kasus.

”Untuk di bulan Mei ini saja hingga hari ini (Kamis,17/5, red) sudah ada 34 perkara baru,” beber Muzahar.

Dari data tersebut, maka Muzafar berani menarik kesimpulan sebanyak 87,5 persen kasus perceraian didominasi gugatan kaum istri. Dan angka penceraian menunjukkan grafik naik dibanding tahun 2016.

”Karena ini baru Mei ya, jadi saya tidak bisa menjamin. Tapi kalau secara sepintas nampak grafik perceraian meningkat,” jelas Muzahar.

Kata dia, dalam hukum Islam, perceraian terbagi dua. Yaitu perceraian Talak yang dilakukan oleh pihak suami, dan perceraian gugat yang dilakukan oleh pihak istri.

”Data ini menunjukkan perceraian gugat yang melesat tajam,” bebernya.

”Kalau saya perhatikan, masalah secara umum itu adalah masalah ekonomi, selebihnya kehadiran orang ketiga yang popular melalui jejaring sosial,” kata dia.

Muzahar kembali menegaskan kepada seluruh pasangan sah di Kota Tanjungpinang agar kembali megang teguh komitmet berumah tangga yang sudah menjadi kesepakatan bersama.
Serta tidak melalaikan hak serta kewajiban antara suami maupun istri.

”Kita misalkan masalah ekonomi, kan sebelum nikah sudah tahu kerjanya apa, pendapatan berapa, harusnya tidak perlu dipermasalahkan, tapi nyatanya grafik masalah ekonomi inilah yang paling tinggi angkanya,” ujarnya.

Selain itu, pihak ketiga yang hadir melalui jejaring sosial juga dianggap sebagai masalah yang masih bisa dicari solusi bersama.

”Itu yang saya bilang, kalau ada komitmen dan memegang teguh komitmen pernikahan. Mustahil diterpa angin cobaan ringan saja sudah goyah, harusnya malah membuat semakin teguh menjaga pondasi rumah tangga,” tegasnya. (cr33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here