Semua Berhak Mencintai Puisi

0
242
Malam helatan pembacaan puisi. F-fatih/tanjungpinang pos

Komunitas Malam Puisi Tanjungpinang

KESESATAN pertama yang dilawan adalah puisi milik penyair semata. Padahal, dalam cakupan yang lebih luas, puisi bisa menjadi milik siapa saja. Tanpa terkecuali. Siapa yang menggemari sekaligus percaya pada kata-kata berhak mencintai puisi. Seutuhnya. Semaunya.

Komunitas Malam Puisi Tanjungpinang hadir untuk itu. Para pegiatnya ingin meyakinkan khalayak, bahwasanya puisi adalah milik kita semua. Tanpa puisi di muka bumi, kehidupan jadi sedemikian tidak menarik untuk tidak dijalani.

“Tidak percaya,” kata Herima, “coba saja bayangkan, cowok menembak gebetannya dan garing belaka, seperti ‘yuk pacaran’ atau ‘aku mau jadi pacar kamu’, kan nggak asyik.”

Herima Hendrawan adalah pegiat Komunitas Malam Puisi Tanjungpinang. Sejak komunitas ini terbentuk empat tahun lalu, ia selalu meyakinkan kepada pemirsanya bahwasanya puisi milik siapa saja. Herima sendiri mengaku bukan seorang penyair.

“Tapi saya suka puisi dari dulu,” ungkapnya.

Semangat suka ini yang lantas mempertemukan Herima dengan rekan-rekan sejawat yang sama-sama percaya pada kekuatan dan keindahan puisi. Merujuk pada komunitas yang tersebar di seantero kota di Indonesia, ada slogan menarik yang memacu kebenaran bahwa siapa saja berhak mencintai puisi.

Datang, dengar, dan bacakan puisimu. Slogan ini menyahihkam betapa puisi bukan kapling barisan penyair. Puisi itu justru mengada dari kalam-kalam penyair yang dipersembahkan buat para pembacanya. Dan di sini, Komunitas Malam Puisi menjadi jembatan yang mempertemukan baris indah puisi kepada para pembacanya.

“Kalau memang tak ada puisi karya sendiri, juga boleh kok baca puisi temannya, atau puisi penyair siapa saja. Bebas sebebas-bebasnya,” terang Herima.

Pada helat pembacaan puisi 17 Februari lalu di Rumah Nenek Cafe, hal itu terejawantahkan dengan nyata. Sebagian para pegiat ada yang membacakan puisi karyanya sendiri. Tidak sedikit pula yang memilih membacakan puisi karya penyair masyhur. Apa pun puisinya yang dibacakan memang bukan persoalan. Sebab tujuan utama adalah mengajak kembali kawula muda mencintai puisi. Sebab, tak ditampik dan sama diyakini, puisi yang membuat kehidupan ini jadi menarik dijalani.

Hal ini diamini Irma Sari. Gadis berjilbab ini mengaku tidak mahir menulis puisi. Ia hanya menulis puisi jika sedang mau-maunya. Kendati begitu, cintanya pada puisi tidak pernah pudar walau sekali. Sebab itu pula, sebisa mungkin pada tiap malam helatan pembacaan puisi, Irma selalu menyempatkan diri ambil bagian.

“Modalnya cuma satu: saya suka puisi. Itu saja. Dan selalu senang bisa kumpul sama teman-teman yang suka puisi. Kan tidak banyak yang begini,” ujarnya.

Bagi Irma, Komunitas Malam Puisi punya tempat tersendiri di hatinya. Komunitas ini, kata dia, berbeda dengan komunitas lain. Tidak banyak — atau malah tidak ada, komunitas sastra lain yang seterbuka Komunitas Malam Puisi. Yakni, dengan menerima siapa saja bisa tergabung di dalamnya.

Ada memang, kata dia, yang tergabung di komunitas ini sebagai penyair, tapi tidak sedikit pula yang memang cuma bermodalkan kesukaan atas puisi semacam dirinya. Dan suasana yang terjalin selama helat pembacaan tidak pernah ada pembeda-bedaan. Semua, sambung Irma, punya kesempatan yang sama untuk membacakan puisi karyanya atau puisi kesukaannya.

“Malah kepada teman-teman yang penyair, kami jadi bisa ikut belajar bagaimana menulis puisi yang asyik itu,” aku Irma.

Lain bagi Zainal Takdir. Penyair 25 tahun ini mengaku juga amat senang bisa tergabung dalam Komunitas Malam Puisi Tanjungpinang. Menurutnya, ada energi yang bisa diserap setiap kali bersua muka dengan para penyula puisi. Energi ini, kata dia, menambah semangatnya dalam berkarya.

“Kami jadi semakin percaya bahwa puisi tidak pernah tertinggal apalagi ditinggalkan,” ungkapnya.

Kelak, agar suasana semakin semangat dan antusias, Zainal akan mengajak rekanan berkeseniannya. Ia ingin komunitas ini menjadi sebuah ruang tempat belajar. Baik itu bagi penyair dalam memahami pembacanya, serta bagi pembaca dalam mengenali puisi langsung dari penyairnya. Hal ini, kata dia, yang sudah lama tidak hadir dalam lingkup kesusastraan di Tanjungpinang.

“Saya yakin komunitas ini akan menjadi titik temu yang tepat antara penyair dan pembaca. Jarak yang sudah lama membentang harus segera dipangkas. Karena jika tidak, akan semakin melebar dan menjauhkan puisi dari pembacanya. Sungguh itu mimpi buruk bagi penyair,” pungkasnya. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here