Semua Layanan Terintegrasi

0
306
SEKJEN Kemenag RI Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A saat me-launching aplikasi SILEBAH setelah mengisi kuliah umum di Kampus STAIN-SAR Kepri, kemarin. f-istimewa

Sekjen Kemenag RI Launching Aplikasi Silebah STAIN-SAR Kepri

Layanan di Kampus Agama Islam Sultan Abdurrahman (STAIN-SAR) Kepulauan Riau (Kepri), Kabupaten Bintan, kini sudah terintegrasi.

BINTAN – APLIKASI yang telah dibuat yakni Sistem Layanan Terintegrasi Berbasis Aplikasi Handal (Silebah) untuk kampus itu pun sudah di-launching Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A di kampus itu, Kamis (10/10).

Selain itu, Nur Kholis juga memberi kuliah umum di kampus tersebut dengan tema, ‘Penguatan Peran PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) dalam Moderasi Beragama dan Literasi di Era 4.0’.

Saat launching aplikasi tersebut, Nur Kholis didampingi Ketua STAIN-SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, MA. Hadir pada kegiatan itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi KepriDatok Huzrin Hood serta seluruh civitas akademika.

Silebah merupakan aplikasi yang mengintegrasikan seluruh layanan yang ada di kampus STAIN-SAR Kepri dalam mempermudah layanan bagi mahasiswa.

Nur Kholis Setiawan disambut segenap civitas akademika STAIN-SAR saat tiba dan langsung mengenakan tanjak yang diberikan oleh Ketua STAIN-SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, MA.

Sebelum kuliah umum itu dimulai, pertama kali dibuka oleh Ketua STAIN-SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, MA.

M Faisal menyampaikan sambutannya, bahwasanya kampus STAIN-SAR sangat senang dikunjungi Sekjen Kemenag RI.

Selain itu, ia mengatakan, bahwa Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A seorang ilmuan dan guru besar tentunya sangat bermanfaat untuk didengar pengalamannya kepada mahasiswa-mahasiswi STAIN-SAR.

SEKJEN Kemenag RI Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A saat mengampaikan materi kuliah umum dihadapan mahasiswa/i kampus STAIN-SAR Kepri. F-ISTIMEWA/STAIN-SAR Kepri

Untuk itu, pihaknya menyambut hangat kedatangan Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A untuk mengisi kuliah umum di STAIN-SAR Kepri.

Setelah resmi dibuka, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan M.A lebih dulu menyampaikan materi kuliah umum yang dimulai dari perjalanan revolusi industri 4.0.

Ia mengatakan, sebelum angka 4 maka dimulai pada angka 1.0 yang mana pada masa itu tenaga manusia dan hewan yang menjalankan mesin.

Contohnya, seperti mesin tenun yang pengoperasiannya secara konvensional.

Berikutnya, pada era 2.0 tenaga manusia akhirnya digantikan oleh mesin dan seterusnya masuk pada angka 3.0 dimana internet sudah mengubah surat yang ditulis oleh tangan oleh electronic mail.

”Nah, pada era 4.0 semua telah berubah. Saat ini sudah berkonsep Internet of Think. Karena segala sesuatunya menggunakan internet dengan berbagai aplikasi kemudahan, kecepatan akses memperoleh informasi dengan mudah. Seperti diketahui, saat ini apa pun kebutuhan manusia hanya melalui aplikasi. Untuk memperoleh jasa yang diinginkan, seperti halnya transportasi Grab dan Gojek. Di era inilah anda-anda mahasiswa-mahasiswi berada. Tatanan peradaban manusia telah berubah,” sebut Nur Kholis Setiawan.

Namun ia juga menegaskan, pada era 4.0 pentinya memperkuat literasi keagamaan khususnya terkait tema moderasi beragama.

Pendekatan Islami ini, lanjut dia, sangat penting dilakukan oleh para mahasiswa-mahasiswi agar bisa bertahan di era revolusi industri 4.0 tersebut. Terutama dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi, namun juga memiliki pola pikir dan sudut pandang cara pandang agama yang moderat.

”Moderat adalah, yang sesuai dengan esensi dari agama itu sendiri. Untuk itu, diera 4.0 harus diperkuat dengan literasi sebagai modal utama,” terang Nur kholis Setiawan.

Untuk itu, tenaga pengajar seperti dosen harus mampu menghadirkan literasi-literasi kepada mahasiswa/i nya.

”Sehebat apa pun kita, menguasai ilmu pengetahuan, jika tidak memiliki cara pandang agama yang moderat, maka akan terpapar pola pikir ekstrem. Khususnya umat Islam, sudah berhadapan dengan berbagai paham ekstrem. Tentunya, untuk menyikapi ini membutuhkan moderasi beragama,” sebutnya. (ADLY ‘BARA’ HANANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here