Senyum di Balik Ekspor Valve‎

Gas, Solusi di Pasar Internasional

0
132
Petugas PGN saat mengecek stabilitas gas bumi disela-sela aktivitas karyawan PT Tomoe Valve Batam. f-martua/tanjungpinang pos

”Kami tidak sibuk lagi cari gas jika tabung gas 50 kilogram langka. Biaya kami juga hemat. Biasanya habis 250 tabung gas per bulan atau seharga Rp290 juta. Sekarang dengan gas bumi dari PGN, hanya sekitar Rp100 juta lebih per bulan. Daya saing produk kami di pasar ekspor lebih baik. Benefitnya banyak, ada kepastian harga dan pasokan terjamin,” ujar Herguntata Agus, Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam.

Laporan : MARTUA BUTAR-BUTAR, Batam

Saat mendekat ke kawasan industri Latrade Industrial Park, Tanjunguncang-Batam, deru mesin terdengar dari gedung-gedung industri di kawasan itu.

Di depan gedung-gedung besar berlantai satu itu, terlihat banyak motor dan mobil parkir. Dari luar, tidak terlihat karyawan dari perusahaan-perusahaan di kawasan industri itu. Mereka sibuk bekerja di dalam. Hanya ada beberapa sekuriti yang berjaga di pos pintu masuk kawasan industri tersebut.

Di kawasan industri seluas 60 hektare yang berdiri sejak tahun 2000 itu, sebanyak 26 hektare sudah berdiri kokoh belasan gedung industri.

Bangunan di lokasi ini didominasi pabrik industri dan tidak terlihat ruko atau mal seperti Batamindo Industrial Park (BIP) Mukakuning dan Panbil Industrial Park Mukakuning yang terintegrasi dengan kawasan bisnis. Kondisi kawasan ini sepi saat jam kerja, karena aktivitas berjalan di dalam gedung.

Diantara gedung-gedung pabrik di Latrade Industrial Park, salah satunya ditempati PT Tomoe Valve Batam di Blok F2 yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Saat memasuki gedung dengan pintu terbuka lebar ini, semua kegiatan karyawan terlihat dengan jelas, karena tidak ada sekat atau dinding yang membatasi antar divisi.

Sehingga setiap mesin produksi yang beroperasi di perusahaan investor Jepang ini, terlihat dengan jelas.

Memasuki gedung itu, terlihat karyawan yang merangkai komponen untuk valve atau katup. Tidak jauh dari meja itu, beberapa karyawan menyemprotkan cat untuk mewarnai katup sebelum diekspor ke Jepang, Taiwan, Singapura, Philippina, Thailand, Cina dan Amerika Serikat.

Katup yang tadinya berwarna perak, disemprot cat warna hijau tua dengan mesin painting. Sebagian lain merangkai komponen atau elemen pendukung katup itu. Sekitar tiga orang karyawan lain membersihkan katup yang baru dibentuk, namun belum dicat.

Mereka bekerja dengan tenang diantara katup yang 90 persen diekspor, dengan pasar terbesar ke Jepang. Sementara untuk pasar Indonesia, hanya sekitar 10 persen.

Rupanya selama ini, sudah kebiasaan karyawan mendengar suara melengking agar gas diganti. Sekarang suara-suara itu tidak kedengaran lagi. Kerjanya lebih mudah dan sistematis.

Senyum kebahagiaan datang dari balik masker penutup hidung dan mulut yang digunakan karyawan.

Mereka kini menikmati semburan gas, masuk ke mesin produksi yang mencairkan batangan-batangan timah hingga menjadi valve.

Diantara karyawan itu, empat orang terlihat berjalan berlawanan arah, sambil mendorong keranjang atau troli. Masing-masing mendorong satu troli. Diantaranya ada mendorong valve yang baru diproduksi dan ada yang mendorong troli, berisi batangan timah.

Batangan timah itu dibawa ke mesin produksi di sudut kiri gedung. Di sana timah dilebur melalui die casting dan dimasukkan ke rongga cetakan untuk dibentuk menjadi katup. Katup itu kemudian dikeluarkan ke meja untuk dibersihkan dan dipindahkan ke troli.

”Sekarang energi untuk melebur timah dan mengeringkan katup yang baru dibentuk, sudah pakai gas bumi dari PGN,” ujar Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam, Herguntata Agus mengawali ceritanya, Rabu (17/10/2018).

Sambil memperhatikan aktivitas anak buahnya, Agus menunjuk ke arah dinding dekat mesin die casting. Di dinding itu melekat pipa warna kuning. ”Itu pipa gas bumi-nya. Kami sekarang berlangganan gas dari PGN. Jadi tidak sibuk lagi mengganti tabung gas,” katanya sambil melempar senyum.

Aktivitas mesin produksi berjalan, mengubah batangan timah menjadi cairan putih sebelum berubah wujud jadi valve. Tidak berselang lama, seorang pria berseragam kerja warna oranye, berjalan menuju mesin die casting.

Kemudian menekan tombol manometer atau alat pengukur tekanan gas di tangannya. Dipunggung seragamnya, tertulis PGN solution action for exellence.

”Petugas PGN. Ngecek stabilitas tekanan gas. Kami baru sekitar dua minggu langganan gas bumi dari PGN,” sambung Agus sambil melihat ke arah petugas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Tbk itu.

Pengecekan yang rutin dilakukan petugas PGN untuk mendukung aktivitas produksi PT Tomoe, menambah kenyamanan dan kelancaran produksi.

”Lebih nyaman pakai gas pipa ini. Tak repot dan tak perlu takut tabungnya meledak,” kata seorang karyawan yang masih menggunakan masker sambil berlalu.

Mendengar itu, Agus hanya melemparkan senyumnya. Maklum, sekitar 10 tahun perusahaan yang mempekerjakan sekitar 220 orang karyawan itu, menggunakan elpiji. Setiap minggu, mereka menghabiskan 70 lebih atau sekitar 250 tabung gas elpiji berkapasitas 50 Kg per tabung.

”Perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk elpiji sekitar Rp290 juta per bulan. Per bulan, habis sekitar 250 tabung gas (elpiji). Tapi itu kemarin. Sekarang sudah beda. Kalau dihitung per tahun lumayan besar hematnya,” bebernya.

Selisih pengeluaran perusahaan sangat jauh setelah menggunakan gas bumi. Sekarang perusahaan hanya mengeluarkan sekitar Rp100 juta-an per bulan. Jika dihitung per tahun, efisiensi mereka bisa lebih Rp1 miliar.

”Sekarang hanya 100 jutaan rupiah lebih per bulan. Hemat 100 jutaan per bulan. Hemat sekitar 40 persen dibanding biaya bahan bakar gas tabung,” kata dia.

Pengeluaran perusahaan itu berubah, setelah 1 Oktober 2018 mereka mulai berlangganan gas bumi. Tahun 2017, jaringan pipa gas sudah dipasang di wilayah itu.

Kemudian, manajemen PT Tomoe menandatangani kontrak kerja sama dengan PT PGN. Kesepakatan kerja sama itu terkait pasokan gas bumi sebesar 350 sampai 1.750 MMBtu per bulan.

Pemanfaatan gas bumi itu tidak hanya membuat perusahaan lebih efisien dari biaya. Tapi lebih efektif dari sisi produksi. Karyawan bekerja lebih efektif, karena tidak sibuk mencari gas, terutama saat ada kelangkaan gas. Kondisi yang berbeda dirasakan karyawan dan manajemen, saat pakai elpiji.

PGN lewat gas bumi memberikan kepastian distribusi gas yang konsisten sepanjang waktu mereka membutuhkan. Benefit (manfaat atau keuntungan) ini menambah daya saing PT Tomoe di pasar internasional.

PGN juga memberi jaminan. Selain lebih murah dari harga eceran tinggi (HET) elpiji, harga gas bumi stabil dan tidak terganggu permainan pasar.

”Benefitnya, mulai stabilitas pasokan, tarif kompetitif, serta kepastian harga. Gas bumi membantu kami dari fluktuasi pasar dan mengurangi risiko kelangkaan,” tegasnya.

Karyawan berharap, orderan mitra terhadap produk mereka akan meningkat. Sehingga bisa menambah jam kerja atau over time (OT) karyawan. ”Dampak gas bumi ini tak hanya perusahaan, tapi kesejahteraan karyawan. Kalau orderan nambah, OT tambah, kantong karyawan makin tebal,” ujar Agus.

Gas dari PGN, kini menjadi energi tidak terpisahkan dari PT Tomoe Valve untuk menghasilkan katup rubber lining, double offset dan triple offset, hingga seri unggulan 700G.

Mereka lebih optimis menatap pasar ekspor katup dengan jumlah produksi sekitar 30 ribu unit per bulan yang digunakan industri minyak dan gas, petrokimia, air bersih, perkapalan, bangunan bertingkat dan lainnya di berbagai negara.

Penyumbang devisa untuk Indonesia ini, meyakini gas bumi menambah daya tarik Batam bagi investor. ”Program-program pemerintah seperti energi murah ini, jadi insentif dan daya tarik industri Batam. Ini akan membantu industri berkembang lagi dan devisa negara naik dan harapan kami tentu karyawan makin sejahtera,” harap Agus.

Daya Saing Kawasan Industri
PT Tomoe, hanya satu dari 4.842 pelanggan gas bumi, milik PGN di Batam. Selain perusahaan itu, masih ada 93 perusahaan lain yang menjadi pelanggan industri dan komersil, PGN. Ada juga 29 pelanggan kelompok industri kecil, serta 4.720 pelanggan rumah tangga.

Diantara pelanggan itu, ada kawasan industri seperti Batamindo Industrial Park di Mukakuning, Kawasan Industri Panbil di Mukakuning serta Kawasan Industri Tunas, Batam Centre, Batam.

Kawasan Industri Batamindo yang memiliki pembangkit listrik atau power plant sendiri, menghasilkan daya hingga 125 Mega Watt (MW). Sebagai bahan bakar, mereka gunakan gas bumi (BBG) sekitar 11.800 MMBTU per bulan.

Mereka mengakui efisiensi biaya dengan gas bumi. Kawasan Industri Batamindo merasakan, penggunaan gas bumi untuk listriknya, bagian promosi kawasan industri Batamindo juga.

”Gas bumi PGN ini efisien, ekonomis dan ramah lingkungan,” ungkap Manager General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, pengelola Batamindo Industrial Park, Tjaw Hoeing.

Ditugaskan Bantu Ekonomi Kepri‎
Mencermati perkembangan pengguna gas bumi di Batam,  Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raisal Eka Putra, mengapresiasi. Tidak hanya industri, namun juga apresiasi untuk rumah tangga hingga taksi dan mobil dinas yang menggunakan gas bumi. Direkomendasikan pemanfaatan gas bumi lebih banyak di Provinsi Kepri, terutama Batam.

Diharap gas bumi mengurangi inflasi dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Batam yang sempat naik jadi 4,51 persen (yoy) triwulan II tahun 2018. Terlebih pada triwulan III tahun 2018, ekonomi Kepri turun jadi 3,47 persen. Sementara target tahun 2019, ekonomi Kepri tumbuh jadi 7 persen, seperti tahun 2015.

“Semakin banyak pakai gas bumi, dapat menjaga PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto). Terlebih perusahaan di Batam, merupakan perusahaan berorientasi ekspor,” kata Gusti. ‎

Direkomendasikan juga pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) lebih banyak di Batam. Diingatkan, inflasi yang terjadi tahun 2018 ini, salah satu disumbang harga bahan bakar minyak (BBM). “Hitungan harganya beda. Tapi kalau harga BBM dan BBG per satuan dikonversi, hampir setengah selisih harga. jadi, perlu mendorong kendaraan di Kepri gunakan BBG,” himbaunya.

Harapan dan permintaan juga disampaikan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Gubernur Provinsi Kepri, Nurdin Basirun. Keduanya meminta agar jaringan distribusi gaa bumi diperluas. Diyakini, gas bumi untuk masyarakat, UMKM dan industri, berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Minta agar jaringan gas bumi dari Natuna dipercepat. Itu untuk ekonomi kita,” pesan Amsakar.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang meminta diberikan akses Kepri mendapatkan gas langsung dari Natuna. Sambungan gas melalui pipa West Natuna Transmission System (WNTS)‎ ke Batam, diharap segera terealisasi. Saat ini, walau jarak Pemping ke Batam hanya sekitar 3 km, namun sambungan pipa tidak kunjung terwujud.

“Batam bisa mendongkrak ekonomi Kepri dan Indonesia. Tapi butuh dukungan gas. Harusnya, pasokan gas dari Natuna didukung masuk Batam. Tapi sampai sekarang, hanya melintasi aja,” imbuh Nurdin.‎

Saat tatap muka dengan karyawan atau pegawai PGN di Batam, Kamis (‎8/11), Direktur Utama (Dirut) PGN Tbk, Gigih Prakoso,‎ menilai potensi industri di Batam untuk berlangganan, sangat besar. Tidak hanya industri dan kawasan industri manufaktur yang sudah berlangganan. Namun juga untuk galangan-galangan kapal, sehingga mendorong kapal-kapal yang beroperasi di Selat Malaka, bisa menggunakan gas.‎

“Minta, potensi industri untuk berlanggan, besar. Termaksud untuk konversi BBM ke gas. Kami akan pelajari untuk ditindaklanjati. Ini potensi mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” kata Didik.

‎Menanggapi hal itu, Sales Area Heat Batam, Amin mengatakan, potensi pengembangan pelanggan gas bumi di Batam, sangat besar. Mulai rencana penambahan SPBG di Tanjung Uncang, untuk mengakomodir konsumsi gas bagi kontainer dan angkutan umum. Selain rumah tangga, ada juga 26 kawasan industri aktif yang berpotensi beralih ke gas.

“Tiga kawasan sudah menggunakan gas. Itu belum termaksud area komersial di Batam,” jelas Amin.‎

Diakui, Batam punya tantangan, tapi menarik menjadikannya tetap kompetitif. Tantangan PGN Batam sendiri, membantu meningkatkan daya saing industri Batam dengan negara tetangga. Baik Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. “Sehingga energi yang murah dari PGN, diharap bisa menjaga industri masuk dan bertahan. Menarik untuk menjadikan PGN tetap kompetitif,” kata Amin.‎‎

Dinilai, reaksi industri Batam menggambarkan gas bumi semakin menarik dan dibutuhkan. Pemanfaatan gas, akan semakin signifikan membantu pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal lewat status fre‎e trade zone (FTZ) saja, tidak cukup untuk menopang pertumbuhan industri.

“Perlu jaminan ketersediaan bahan bakar yang murah dan kami akan membantu,” kata Amin.

Dukungan gas bumi semakin besar, karena gas disalurkan dua kali lebih besar dari tahun 2016. Saat ini, PGN mendapatkan pasokan gas melalui Conoco Philips I, II dan IDLP. Dimana, portofolio pengolaan gas PGN untuk area Batam, sebanyak 39 BBTUD atau sebesar 58 persen untuk PLN-IPP Batam. Selain itu, retail- kelistrikan untuk kawasan industri sebesar 16 BBTUD atau 24 persen dan retail-industri sebesar 12 BBTUD atau 18 persen.

“Kami ingin membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Batam, sekaligus mewujudkan green city di Batam. Untuk WNTS, mudah-mudahan segera terwujud,” harap Amin.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here