Senyum Turis Itu Sudah Mengembang

0
82
Wako Batan HM Rudi beserta wakilnya, Amsakar, Sekda Jefridin dan Kadis DBMSDA Batam, Yumasnur meninjau jalan di Batam Centre sebelum pengerjaan pelebaran jalan. F-MARTUA/TANUNGPINANG POS

Saat Aksesibilitas Batam Beri Kenyamanan

“Aksesibilitas, salah satu kunci memajukan pariwisata. Mempermudah pengunjung menuju objek-objek pariwisata. Bila jalan lebar, mereka nyaman karena tak macet. Pedisterian juga biar leluasa ke luar dan masuk toko dengan jalan kaki,” ujar Wali Kota Batam HM Rudi.

BATAM – Wacana pembatasan mobil di Batam, pernah menjadi opsi mengatasi problem kemacetan di jalan, sebelum masa pemerintahan Wali Kota Batam, HM Rudi dan Wakilnya

Dee, Amsakar Achmad. Kebijakan itu disiapkan untuk mengurai kemacetan, berdasarkan tahun mobil atau sistem one in, one out (tiap satu unit mobil masuk, satu unit mobil keluar).‎

Sesuai data, jumlah mobil dan panjang ruas jalan dinilai tidak seimbang, hingga mengurangi minat wistawan mancanegara (wisman), wisatawan domestik berkunjung ke Batam. Ini juga menurunkan daya saing Batam. Meski demikian, rencana pembatasan impor mobil itu tidak terealisasi, hingga kemudian, HM Rudi mengambil keputusan di luar rencana yang menimbulkan perdebatan di masyarakat serta pengusaha dibidang transportasi. Rudi memilih melebarkan jalan, membenahi drainase, hingga membangun pedisterian.

Joas (34), supir taksi di Batam, menikmati perjalanan dari restoran seafood Love di Tanjungpiayu bersama penumpang yang merupakan turis (wisatawan) asal Singapura. Mereka tiba dari Pelabuhan Internasional, Batam Centre. Setelah itu, mereka melihat pemandangan di Sei Beduk, menuju Nagoya, Lubuk Baja, melewati Simpang Kabil melalaui fly over. Perjalanan mereka lancar hingga menuju simpang traffic light Indo Mobil, kemudian Pelita, sebelum tiba di Nagoya Hill.

“Sekarang sudah lancar, jalan lebar. Cuma di Simpang Kabil yang macet.‎ Tamu seperti dari Singapura tadi, senang,” cerita Joas.

Tidak hanya tamu, sebagai supir, juga menurutnya merasa nyaman melewati jalan yang sudah lebar. Termaksud di depan Panbil Mal, yang dulu sering macet. Hal yang sama juga dirasakan kalau ada pesanan mengantar penumpang dari Nagoya, ke Pelabuhan Internasional Batam Centre atau sebaliknya. Demikian dari Bandara Hang Nadim ke Nagoya.

“Dulu, kalau bawa keluarga turis dari Nagoya mau makan ke Piayu, hanya baru masuk mobil saja senyum. Mulai ditengah jalan sudah diam dan menggerutu. Kadang kalau ada turis cewek, mukanya cemberut,” cerita Joas.

Penggalan pengalaman Joas, menggambarkan perasaan pengguna jalan di Batam, mulai warga lokal dan wisatawan. Perubahan terjadi membuat respon baik dari pengguna jalan di Batam, dimasa HM Rudi dan Amsakar Achmad, dilantik tahun 2016 lalu.

Nama Rudi melekat dan dianggap sukses penanganan kemacetan.
Selain itu, Ham Rudi bersama Amsakar, dinilai kerap berkeliling memantau kondisi jalan dan proses pengerjaan.

Program yang dimulai tahun 2016, kemudian tahun 2017 dilanjutkan dan kembali 2018 saat ini. Sehingga tidak jarang, Rudi bersama Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM SDA), Yumasnur, terlihat dipinggir jalan bersama pejabat Pemko yang lain. Awal tahun, Januari 2018 di Simpang Tiga Pelita, Rudi terlihat. Sesekali terlihat bicara kearah Yumasnur dan mengangkat tangan kiri serta menunjuk ke arah lain. Sekitar lima menit kemudian, Amsakar tiba di lokasi lain. Mereka terlibat perbincangan terkait jalan.

“Ini row jalan yang mau dilebarkan kan? Ini saja dimulai baru yang sana. Biar tidak terlalu macet saat pengerjaan. Setelah ini baru lanjutan di sana,” kata Rudi disela-sela aktivitasnya meninjau jalan di Pelita.

Para pejabat Pemko Batam yang datang bersama rombongan Satpol PP, berdiri dekat Rudi. Terlihat mengangguk tanda setuju, termaksuk Amsakar, dengan pernyataan Rudi. Sesekali Amsakar juga menambahkan untuk mendukung hasrat Rudi, membangun pariwisata, diawali pengembangan infrastruktur jalan, drainase dan untuk pedestrian.

Tidak lama kemudian, rombongan Satpol PP dan pejabat Pemko Batam lainnya tiba ke arah SPBU Pelita. Tahun ini, Pemko melanjutkan pelebaran jalan dan pedistrian di daerah Kecamatan Lubuk Baja. Di Pelita, Rudi sempat mengingatkan pemilik SPBU agar memindahkan beton tulisan nama SPBU, karena berada di row jalan.

“Ini kita lebarkan, bunga-bunga dan nama SPBU ini dipindah ya Pak. Ini row jalan. Kita mau pakai,” kata Rudi yang disanggupi pengelola SPBU itu.

Kemudian, Rudi bersama rombongan memasuki kendaraan masing-masing. Mereka melaju menuju Simpang BNI Sei Panas. Rombongan termaksuk Yumasnur, ikut serta. Mereka berjalan kearah gedung Oxley Convention City. Peninjauan ke lokasi ini tergolong menarik, karena milik investor Singapura.

Gedung itu milik pengembang Batam’s First Integrated Premier Development in the City, PT Karya Indo Batam. Mereka kemudian menemui petugas di sana. Rudi mengingatkan agar bangunan miliaran rupiah yang berdiri di row jalan itu, dipindahkan. ‎

“Penertiban akan dilakukan karena bangunan itu diatas pedestrian dan buffer zone. Peringatan sudah dikirim kan? Mana pak Gustian Riau,” kata Rudi, yang kemudian dibenarkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Batam, Gustian Riau.

Peringatan itu yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembongkaran bangunan beberapa minggu kemudian. Demikian dengan pemilik taman dan kios-kios di depan ruko yang berjejer dekat Gedung Oxley, yang juga mendapat peringatan sebelum dibongkar.

Usai meninjau dan memberikan peringatan bagi pemilik taman hingga bangunan di row jalan, Rudi dan rombongan memilih sarapan di ruko, seberang Oxley. Usai sarapan, mereka kemudian menggelar rapat mendadak yang dipimpin ia sendiri. Tidak diketahui secara pasti, materi rapat mereka namun aktivitas rapat mendadak sudah beberapa kali dilakukan Rudi bersama jajarannya sejak program pelebaran jalan itu. Saat ditanya agenda dan hasil rapat mendadak, dijawab singkat terkait lanjutan pelebaran jalan.

Setelah itu, dua minggu kemudian, tim terpadu turun ke lokasi, melakukan pembongkaran bangunan kantor Oxley. Amsakar juga ditugaskan Rudi memantau kegiatan itu. Tidak ada perlawanan dari pemilik gedung dan pegawainya, karena pendekatan lewat sosialisasi, hingga peringatan sudah dilayangkan.

Walau peninjauan yang dilakukan pagi atau sore, menarik perhatian pengguna jalan, namun tidak sampai menggangu arus lalu lintas dikawasan itu. Pengguna jalan seperti terbiasa melihat Rudi, Amsakar, Sekretaris Daerah (Sekda) Batam, Jefridin dan pejabat lain secara bersama-sama berdiri dan berjalan dipinggir jalan.

Dari hasil peninjauan jalan dan arus lalu lintas ini juga, yang menginspirasi Rudi dan jajarannya, menentukan kebijakan. Mereka semakin bersemangat, setelah Pemko, berhasil mendapat status pinjam pakai row jalan dari Badan Pengusahaan (BP) Batam.

MoU antara Rudi sebagai Wali Kota dan Lukita sebagai Kepala BP Batam, terwujud 21 Maret 2018. MoU ditandatangani untuk pinjam pakai 669 ruas jalan di Batam dalam jangka waktu lima tahun. “Dengan MoU itu, Pemko akan mudah melakukan pelebaran jalan, karena sudah ada kesepakatan untuk menggunakan row jalan,” kata Rudi.

Perjuangan itu seperti dipahami masyarakat, hingga selama pelebaran jalan, tergolong berjalan lancar. Tidak terjadi reaksi berlebihan, saat penertiban bangunan di row jalan dilakukan. Rudi dan jajarannya berhasil mengajak pengusaha, warga hingga pedagang yang menggunakan row jalan untuk pindah atau dipindahkan.

Termaksud pemindahan pedagang di simpang rujak, tahun-tahun sebelumnya. Pada hal, pedagang rujak disimpang itu, biasanya menolak di relokasi. Rudi dan jajarannya berhasil melakukan pendekatan hingga relokasi tidak menimbulkan reaksi berbeda. Pemilik gedung di kawasan jalan yang dilebarkan diyakinkan manfaat jalan. Sekaligus dijelaskan jika lahan yang hendak digunakan, merupakan row jalan dan bukan milik warga.

Langkah itu yang terus dijalankan dan akan berlanjut tahun 2019 mendatang. Termaksuk dalam kelanjutan pengembangan jalan yang diikuti pembangunan pedistarian di Batam Centre dan Lubuk Baja. Seperti dari Apartemen Harmoni ke 21 lama, lanjut ke depan Polsek Lubuk Baja. Termasuk juga jalan dari RS Elisabeth Batam Center ke Simpang KDA, Simpang Baloi ke arah menuju Sekupang. ada yang dilebarkan menjadi empat hingga enam lajur.

Untuk diketahui, pelebaran jalan yang sudah sampai ke arah Kecamatan Bengkong. Dumana, pelebaran diawali dari Sei Panas. Dimana, untuk pembangunan itu, Pemko dengan persetujuan DPRD Batam, mengalokasikan dana peningkatan dan pembangunan jalan di Bengkong-Batuampar, senilai Rp8,9 miliar. Simpang Kuda-Bengkong, Rp7,2 miliar, Batam Kota 15,3 miliar serta Lubuk Baja sekitar 108 miliar. Anggaran itu belum termaksud untuk lampu penerangan jalan, biaya operasional alat berat Dinas BMSDA.

– Akses Tentukan Pilihan Wisman
Anggaran yang cukup besar, diperkirakan, masih akan tetap dialokasikan. Sejalan dengan target pelebaran jalan di Batam, hingga tahun 2024. Diyakini, jalan macet membuat wisman malas keluar hotel untuk belanja. Termaksud malas berjalan kaki, walau tempat belanja dekat dari hotel dan restoran di kota MICE (meeting, incentive, conference and exhibtieon) Batam.

“Ibarat rumah, jika didandani tentu orang rajin datang. Kalau kota cantik orang akan datang, datang bukan hanya karena event tapi karena melihat keindahan kota,” kata Rudi optimis.

Kini, sebagian besar ruas jalan yang sudah selesai, termaksud pedestriannya, ditanam pohon, untuk penghijauan. Namun wisatawan belum bisa menikmati untuk tempat berteduh, karena masih kecil-kecil. Wisatawan yang akan menikmati pedistrian jalan yang teduh dengan pohon rindang nantu, sambil keluar masuk toko dan mal untuk berbelanja. Namun ditegaskan, akses jalan hanya satu faktor pendukung. Walau bukan utama, tapi penting dan menentukan.

“Kalau sudah besar, itu akan dinimati wisatawan. Bisa berjalan dan berteduh dibawahnya,” harap Rudi.

Setiap kesempatan meninjau rencana pelebaran hingga proses pengerjaan pelebaran jalan, Rudi selalu mengatakan, untuk mendorong perekonomian bangkit lewat sektor parawisata. Saat ini, ekonomi tumbuh 3 persen lebih. Selanjutnya, untuk ekonomi bisa tumbuh 5 persen diakhir tahun dan 7 persen tahun 2019, Rudi meyakini sektor pariwisata sebagai pilarnya.

“Di pariwisata perputaran uang yang besar. Saat ini pariwisata Batam sudah berkembang,” beber Rudi.

Diyakini, sumbangan kunjungan wisman di Batam, untuk pariwisata Indonesia, terus meningkat. Bahkan Batam diyakini Rudi, bisa menjadi nomor dua penyumbang wisman, diatas Jakarta tahun 2030. Optimisne dan harapan Rudi itu juga diyakini, Plt Kadis Parawisata dan kebudayaan Batam, Ardiwinata. Hingga pelaku usaha kepariwisataan, juga didorong berbenah dan memaksimalkan peran. Meningkatkan promosi, diskon sebagai insentif ke wisman. Meningkatkan pelayanan dan menggelar kegiatan dikawasan usahanya untuk menarik wisman lebih banyak.

Sisa waktu tahun 2018 ini, Ardi optimis, bisa mewujudkan target kunjungan wisman, 1,8 juta. Pihaknya bahkan berupaya diatas itu, hingga bisa diangka 2 juta orang. Kunjungan wisman sendiri hingga Agustus 2018, sekitar 1.203.527 orang. “Masih ada agenda parawisata yang disejalankan dengan HUT Batam, hingga momen akhir tahun,” jelasnya.

Optimisme itu juga didukung Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kepri, Andika. Andika juga mendukung langkah Pemko Batam mengembangkan parawisata, sangat tepat, dengan membangun akses jalan. Dimana, Kecamatan Batam Kota, Lubuk Baja dinilai sebagai daerah MICE di Batam.

“Pembangunan jalan untuk pariwisata, sudah tepat. Tapi kita harapkan juga insentif untuk pelaku usaha kepariwisataan, untuk mendongkrak kunjungan wisman,” harap Andika.

‎- Sesuaikan Produk UMKM dan Selera Wisman
Optimisme Pemko Batam disektor parawisata, juga disambut Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri, Gusti Raizal Eka Putra. Saat bertemu dengan para agen travel, Gusti juga menyentil langkah mereka selama ini. Dengan mimik muka serius, Gusti menilai agen travel di Batam malah lebih banyak mempromosikan wisata ke Singapura dan Malaysia. Bukan malah sebaliknya. Mengajak wisman masuk Batam.

Tindakan para agen travel itu diketahui dari wisatawan domestik yang berkunjung ke Batam. Para agen travel di Batam menawarkan paket-paket wisata di Singapura dan Malaysia. “Jadi banyak juga yang bukan mempromosikan Kepri, tapi malah mempromosikan ke Malaysia dan ke Singapura,” kata Gusti.

Penting fokus membantu mendatangkan wisman, karena Bidang parawisata juga diakui akan cepat membantu peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya lebih cepat teras untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Di parawisata, transaksi ekonomi dan berdampak ke pajak daerah juga langsung dirasakan.

Diminta agar pembangunan parawisata, diikuti dengan program pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM). UMKM menjadi pendukung keberadaan wisman dan membantu perekonomian masyarakat. “Dampak langsung dirasakan masyarakat, melalui UMKM,” harap Gustian.

Gusti membeberkan terkait UMKM saat ini di Provinsi Kepri, termaksud di Batam. Perkembangan UMKM triwulan III tahun 2018, bisa dilihat dari penyaluran kredit UMKM. Triwulan III, UMKM mengalami‎ perlambatan pertumbuhan menjadi ‎sebesar 4,88 persen (yoy). Ini melanjutkan tren ‎perlambatan pada triwulan sebelumnya, walau tercatat tumbuh sebesar 5,37 persen‎ (yoy),” jelasnya.

Harapan itu yang kemudian direspon Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Pemko diakui terus mendorong UMKM dan terlibat aktif membantu. Mulai kredit, dana bergulir hingga membantu lewat pelatihan. Bahkan, membantu menyediakan sentra UMKM di Bengkong. Sehingga, UMKM lebih mudah menyiapkan produknya, sesuai dengan yang diinginkan wisatawan.‎

“Dukungan UMKM sangat penting, karena bisa menyiapkan apa yang diinginkan oleh wisatawan. Baik itu kuliner, oleh-oleh, kerajinan tangan, dan sebagainya,” kata Amsakar‎

Selain itu pengemasan produk pun harus menarik dan mudah dibawa. Melalui wisman, diyakini produk UMKM Batam, akan lebih mudah memasuki pasar ASEAN. “Peluang ini harus bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM di Kota Batam,” saran Amsakar.‎(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here