Separuh Hati Tertinggal di Bintan

0
92
Foto bersama seluruh penyair FSIGB di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman Tanjungpinang, Sabtu (1/12) malam. f-istimewa/dipa

Pesta Puisi di Malam Penutup FSIGB 2018

TANJUNGPINANG – Pesta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan sudah berakhir, Sabtu (1/12) malam. Para penyair juga sudah pulang ke daerah asal. Tetapi, separuh hatinya tertinggal di Bintan.

Bukan perkara mudah melupakan Bintan. Panoramanya indah. Masyarakatnya ramah. Rasa-rasanya waktu tiga hari tidak akan cukup untuk menikmati Bintan seutuhnya.

Hal ini pula yang dirasakan para penyair dari dalam dan luar negeri yang berpartisipasi pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2018. Berat saja rasanya harus meninggalkan Bintan. Namun, waktu adalah guru paling tepat untuk memberi nilai pada pertemuan dan perpisahan. Tiga hari di Bintan mempertemukan penyair dari berbagai daerah. Tiga hari di Bintan saling bercengkerama. Tiga hari di Bintan waktu terasa lebih cepat dari biasanya.

”Saya senang sekali bisa berpartisipasi pada acara ini. Sungguh berkesan,” ucap Ahmad Md Tahir, penyair dari Singapura.

Siapa memang yang bisa menyangkal. Kesan sudah dihadirkan sejak malam pertama di Kompleks Purna MTQ Bintan. Kata Hasan Aspahani, kurator penerbitan buku antologi puisi Jazirah, akan susah mencari tandingan panggung pembacaan puisi yang lebih besar dari yang pernah ada di Bintan.

”Baik secara ukuran dan juga kesan. Acara-acara sastra di Bintan dan Tanjungpinang memang selalu spesial,” ujar Hasan.

Sehari sesudahnya, daya letupan kesan itu jadi berlipat ganda. Seusai mengikut seminar sastra internasional yang menghadirkan pembicara-pembicara andal, seluruh penyair diajak menikmati senja di kaki gunung Bintan.

Jika pembacaan puisi biasanya berlangsung di gedung-gedung, di sana menggunakan ruang terbuka. Jadi lebih sedap karena berada tepat di samping danau buatan di kompleks D’Bintan Villa. Matahari yang lamat-lamat turun di barat menambah kesan magis suasana pembacaan puisi di sana.

”Bagus banget lokasinya, nggak cukup sekali foto-foto di sini,” kata Ade Novi, penyair perempuan dari Jakarta.

Sabtu adalah hari pungkasan. Agenda sedari pagi sudah dipadatkan. Dimulai dengan ziarah budaya menapaktilasi jejak-jejak Hang Tuah di Bintan Lama.

Lalu berlanjut ke situs-situs sejarah yang ada di Tanjungpinang. Ditutup pula gawai satu ini dengan makan siang berlatarkan jembatan Dompak yang gagah dan ditingkahi pembacaan puisi dari sejumlah penyair.

Bersenang-senang kerap menelan waktu. Tiba-tiba malam. Sambung parade pembacaan puisi di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman. Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Rahma menyambut kedatangan seluruh penyair dengan gegap-gempita. Bahkan, Raham pun untuk kali pertama membaca puisi pada momen ini.

”Saya ragu campur takut. Ini pertama kali saya baca puisi. Dulu waktu SD sudah pernah. Tetapi saya ingin jadi bagian dari festival ini,” kata Rahma.

Penampilan ibu wakil wali kota ini mengundang decak kagum di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman. Jarang, pengakuan sejumlah peserta, ada kepala daerah yang bisa membacakan puisi seperti ini. ”Beruntungnya Tanjungpinang,” begitu yang terdengar dari percakapan mereka.

Momentum spesial FSIGB ini pun melahirkan momentum spesial lain. Dari festival sastra paling akbar di Kepri tahun ini, telah dideklarasikan Perempuan Penyair Indonesia (PPI) di bawah komando Kunni Masrohanti, penyair perempuan dari Riau.

”Kami sangat bangga bisa mendeklarasikan ide yang sudah tercetus sejak lama ini di Tanjungpinang, di bumi Raja Ali Haji,” ucap Kunni.

Waktu deras. Seperti tawa dan keriangan yang tak pungkas-pungkas. Namun, jam di tangan takkan bisa lagi ditahan. Beberapa menit sebelum pukul 12 malam, Sutardji Calzoum Bachri naik ke panggung. Presiden Penyair Indonesia ini menutup FSIGB dengan dua kejutan sekaligus.

Pertama, bila biasanya dalam pembacaan puisi, SCB ditingkahi alunan instrumental langgam lagu-lagu Barat. Tidak halnya di Tanjungpinang. Ia meminta kepada pemain musik untuk membawakan lagu Deen Assalam yang dipopulerkan Sabyan. Sontak gedung kesenian bergemuruh. ”Attahiaaaaah …” semua yang hadir menemani sang presiden membawakan lagu Timur Tengah tersebut.

Kedua, ”Ini puisi yang baru selesai saya tulis,” kata Sutardji.

Bersempena helatan FSIGB, SCB menyempatkan diri menulis puisi di gawainya. Dan di Tanjungpinang pula, puisi tentang Hang Tuah itu untuk kali pertama dibacakan di atas panggung. Sebagian penyair menyaksikan dengan kesungguhan, sebagian lain mengarahkan kamera, merekam momen bersejarah ini.

Sekali lagi, waktu jua yang paling berkuasa di atas kesenangan yang berlangsung selama tiga hari di Bintan.

Matahari yang malu-malu pada Minggu (2/12) pagi yang mendung menjadi menjadi ingatan dari setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Segala yang berkesan-kesan di Bintan mulai disimpan rapi dalam ingatan. Gambar-gambar kebersamaan selama di Bintan masih terus dibagikan.

Dan separuh hati mereka sengaja ditinggalkan di Bintan. Ada harapan, suatu masa nanti ada kesempatan kedua dan ketiga kembali ke Bintan.

”Bila jam 9 tepat saya tak ada di lobi, boleh saya ditinggalkan. Bersebab hati ini masih bingung sejak semalam. Kenapa kaki tak bergegas menuju Batam,” tulis penyair Juhendri Chaniago dari Medan menghitung menit-menit perpisahan. (tih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here