Shipyard Lesu, Ekonomi Kepri Anjlok

0
1396
PRODUKSI KAPAL: Salah satu galangan kapal di Batam yang masih memproduksi kapal. Mereka tetap memproduksi kapal meski orderan pembuatan kapal menurun. F-martunas/TANJUNGPINANG POS

Setahun 239 Ribu Pekerja Galangan Di-PHK

Banyak hal yang membuat ekonomi Kepri lesu dan melambat. Namun, industri galangan kapal atau shipyard salah satu penyumbang besar perlambatan ekonomi di Kepri.

Dompak – DARI 115 perusahaan di Batam, diperkirakan hanya 30 persen yang masih aktif mengerjakan proyek kapal. Sebagai industri padat karya, penurunan proyek pembuatan kapal menyebabkan anjloknya serapan tenaga kerja.

Berdasarkan dari dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, tahun 2012 tenaga kerja galangan kapal di Batam mencapai 250 ribu orang. Sementara saat ini hanya mencapai 11 ribu orang.

Sekitar 239 ribu orang kehilangan pekerjaan. Memang, pemerintah pusat berusaha membantu galangan kapal di Batam dengan memesan pembuatan sejumlah kapal.

Namun, jumlahnya tidak banyak. Sehingga tidak mendapatkan keuntungan yang signifikan terhadap program penguatan kemaritiman pemerintah.

Faktor yang mempengaruhinya, pajak yang lebih tinggi. Bila produk dijual di pasar domestik, sehingga kurang kompetitif.

Namun, shipyard di Batam masih ada keunggulan yakni, fasilitas Free Trade Zone (FTZ), lahan pantai masih tersedia, biaya tenaga kerja relatif kompetitif.

”Serta letak geografisnya yang strategis,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Saputra saat rapat High Level Meeting Pengendalian Inflasi dan Koordinasi Pengembangan Ekonomi dan Keungan Daerah Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dan Bank Indonesia (BI) di Provinsi Kepri Lantai IV Kantor Gubernur, Dompak, Senin (13/3).

Masih berdasarkan data dari BI, perlambatan ekonomi Kepri juga karena menurunnya hasil perikanan tangkap dan budidaya ikan laut. Harusnya, sektor perikanan ini bisa menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi Kepri.

Namun, hasil perikanan tangkap rata-rata menurun 7,43 persen per tahun kurun waktu 6 tahun belakangan ini.

Hasil pengolahan perikanan masih minim. Sebab, ikan yang ditangkap atau dipanen kebanyakan dijual dalam bentuk ikan segar sekitar 80 persen. Sedangkan sisanya yang diolah, masih bersifat tradisional.

Produktivitas nelayan Kepri masih rendah dibandingkan nelayan lainnya di Sumatera. Kemudian, perikanan budidaya ikan di Kepri belum berkembang.

Persoalannya, gangguan hama penyakit ikan, termasuk mahalnya harga pakan dan belum adanya aturan hukum berupa zona kawasan peruntukan untuk budidaya laut.

Ke depan ada harapan baru bagi Kepri dengan besarnya perhatian pemerintah pusat ke Natuna. Diharapkan, potensi perikanan bisa menopang optimalisasi sektor ini.

Dari data yang sama diperoleh, kinerja pariwisata menurun sejak 2015-2016 tercermin dari penurunan jumlah wisman. Dalam 5 tahun terakhir, persentase wisaman kepri terhadap nasional stagnan pada kisaran 20-22 persen.

Faktor yang mengurangi daya tarik wisman ke Kepri adalah, kurangnya kebersihan transportasi publik, destinasi wisata baru, peta dan minimnya informasi, fasilitas wi-fi. Ini terjadi selama 2015.

Tahun 2016, isu terorisme dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global menjadi faktor turunnya kunjungan wisman. Kemudian, Kepri belum memiliki pelabuhan yacht dan cruise.
Gusti juga mengatakan, perlambatan ekonomi Kepri tahun 2016 didorong kemampuan komsumsi yang masih lemah serta perlambatan realisasi investasi.

Pertumbuhan ekonomi Kepri tahun 2016 sebesar 5,03 persen melambat dibanding tahun 2015 yakni sekitar 6,01 persen.

Lebih lanjut Gusti memberikan gambaran soal penyebab inflasi di Kepri selama tahun 2013 sampai 2016 saat ini.

Salah satu faktornya, suplai barang dari daerah penghasil terbatas dan musiman, faktor cuaca yang menghambat distribusi barang, praktik penimbunan barang, minimnya infrastruktur gudang untuk menjaga stok bahan makanan maupun ikan.

Kelangkaan elpiji, bahan bakar motor, akibatnya biaya logistik yang tinggi ataupun kelangkaan barang. Kenaikan tarif angkutan udara yang bersifat musiman, asimenteri informasi harga barang antara pedagang dengan konsumen.

Produk bahan pangan belum mampu menjadi pemenuhian kebutuhan pangan Kepri, infrastruktur yang belum merata, kurang kerja sama antardaerah, struktur pasar yang masih menganut praktik monopoli dan oligopoli, biaya logistik yang tinggi terutama antar pulau terluar, serta komunikasi yang dilakukan masih belum mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, hanya mencakup Batam dan Tanjungpinang.

”Melambatnya perekonomian ini, perlu kerja keras bersama, koordinasi serta membuat roadmap pengendalian inflasi,” terangnya saat memberikan pemaparan di dalam ruang rapat.

Perekonomian Kepri cenderung melambat dari berbagai sisi antara lain industri, konstruksi perdagangan serta pertambangan.

Melemahnya ekonomi tersebut diukur mulai tahun 2013 sampai tahun 2016. hanya saja, Gusti memprediksi peningkatan ekonomi Kepri tahun 2017 dapat menguat pada kisaran 5,1-5,5 persen, apabila didukung pertumbuhan komoditi ekspor, perbaikan kinerja ekspor dan investasi, serta mampu mendorong investasi pada sektor migas.

Perekonomian Kepri tahun 2017 diprediksi menguat. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik.

Permintaan domestik kisaran 5 persen sampai 5,4 persen, serta harga minyak meningkat karena ada kebijakan pengurangan produksi sumur minyak anggota OPEC.

Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menyampaikan, semua stakeholder harus optimis tahun 2017 ini dan tetap menjaga stabilitas perekonomian yang berkelanjutan.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan serta peningkatan inflasi yang rendah dan stabil.

Hal tersebut harus menjadi perhatian, guna menjaga stabilitas perekonomian daerah hingga beberapa tahun ke depan.

”Tahun 2017 ini kita harus optimis bahwa pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Melalui usaha pengembangan infrastruktur berkualitas dan merata serta konektivitas yang baik,” pinta Nurdin.

Nurdin mengatakan bahwa pengembangan ekonomi perlu difokuskan di beberapa sektor seperti berbasis maritim, pariwisata dan pertanian.

Juga Meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi kegiatan investasi, usaha mirko, kecil dan menengah serta menumbuh kembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Selain itu meneruskan pengembangan ekonomi berbasis industri dan perdaganan dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Faktor pertahanan dan keamanan serta kearifan lokal juga perlu dipertahankan karena kearifan lokal itu merupakan sebuah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari Kepri.

”Kita harus bahu membahu membangun Kepri,” tegasnya demikian.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPRD Provinsi Kepri Jumaga Nadeak, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri H. TS Arif Fadillah, Kapolda Kepri Irjen Budi Sam Budigusdian, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Syahrul, kepala OPD, FKPD serta kanwil dan instansi vertikal.(Shendy)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here