Siapa Berani Lawan Putra Daerah?

0
873
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri, SE, MH
Warga Tanjungpinang

Cobalah sesekali kita bicarakan semangat perkauman seperti seorang gadis cilik yang melumerkan gumpalan coklat di dalam mulutnya, yang terasa hanya kesenangan dan manis semata, kendati pahit juga merupakan kesatuan rasa dan itu tak mengganggunya. Bisa? Rasanya sulit. Bagi penggila coklat dewasa, kebiasaan menikmati coklat apapun variannya dapat menimbulkan banyak tanya dan argumen di kepala; “Sepertinya ini bukan rasa coklat terbaik. Ini terlalu manis ataukah jenis ini memang kuat rasa pahitnya?
Aromanya terasa bagai coklat murahan dan lebih berkelas merk yang satunya,” akhirnya, mereka hanya disibukkan memberi penilaian walaupun sama–sama menikmatinya bersama si gadis cilik. Begitu pula saat muncul ‘kata’ putera daerah yang apabila didengungkan dengan semangat perkauman yang enerjik, banyak pihak merasa tak nyaman didekat pusaran itu.

Baca Juga :  Dinamika Globalisasi Ekonomi di Indonesia

Lalu dipilihlah energi terbarukan yang bernama keberagaman dan ‘pluralisme’ dianggap sebagai proses pembauran urban yang menuju ke jalan yang paling benar, tidak disusupi semangat feodal dan nuansa romantisme masa lalu. Dampaknya, kesetaraan menjadi kultur dan kultus. Ditaruh di tempat tertinggi dan dipandang dari jauh sebagai cita–cita massal nansuci, seperti menikmati puncak gunung es sambil berendam santai di tepi pantai.

Kesetaraan ke luar dari mulut peminum di kedai – kedai kopi, dalam media massa yang penuh kepentingan dan hasil tes instansi – instansi. Putera daerah diminta sadar posisi. Putera daerah harus membaur cantik dalam perbedaan karena puncaknya kini bernama kesetaraan; bagi satu kubu, iya.

Baca Juga :  Memilih yang Terbaik

Tidak di kubu yang kontra. Tanah yang telah dibangun dan telah dijaga oleh para tetuanya dari masa lalu sudah selayaknya diteruskan oleh penerus tempatan. Lalu dimanakah kita bisa duduk bersama sambil tertawa? Hemat penulis, titik temunya bernama pendidikan.
Lazimnya, semakin seseorang berpendidikan benar dan baik, mereka akan tumbuh menjadi individu yang sangat toleran terhadap perbedaan, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Bukan tentang seberapa banyak gelar tersusun; tapi seberapa bijak pemahaman yang mereka dapatkan dalam pembentukan karakter melalui pendidikan, bagi siapapun, terlebih putera tempatan. Mereka harus didukung untuk merantau ke luar menemukan wawasan pembanding, sekolah yang benar plus tinggi, kemudian kembali untuk bersaing dan tidak hanya bertumpu mengatasnamakan welas asih untuk putera tempatan. Tuhan bersama orang–orang yang berani. Mereka yang berpendidikan, kesadarannya cukup tinggi. Masing–masing akan saling menakar diri, pantas atau tidaknya memainkan peran sosial yang akan dituju atau diraihnya.

Baca Juga :  Dampak Permukiman Kumuh Bagi Kesehatan

Toleransi akan menepis kecurigaan. Baik kecurigaan putera daerah yang merasa ‘orang luar’ hanya akan melarikan ‘hasil’ daerahnya semata tanpa pernah serius mengabdi dan berjuang untuk tanah datuk nenek mereka; maupun sebaliknya, para pendatang hanya memperkuat lingkaran serantau, membuat jaringan besar sebab khawatir eksistensinya sebagai individu atau kelompok ditanah rantau tak mengambang. Tak dianggap oleh warga tempatan. Siapa yang salah? Salahkan katak di bawah tempurung. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here