Siapa Merebut Hati Awkarin?

0
1401
Awkarin

SAYA mendapat kabar Awkarin pulang. Tentu bukan ke Jakarta, melainkan ke Tanjungpinang. Si Karin Novilda ini dulu pernah menjadi siswa SMP Negeri ternama di kota ini. Berprestasi pula. Maka, ketika seorang selebgram dengan lebih dari 2,8 juta pengikut ini datang, sudah pasti mesti disambut riang. Bagaimana tidak, lha jumlah pengikutnya saja 10 kali lipat lebih banyak dari total penduduk Tanjungpinang.

Terbayangkan banyak pengikutnya yang mukim di Tanjungpinang siaga di hadapan Snapgram junjungan macam AWK ini. Menanti penuh harap melihat aktivitas idolanya di Bumi Gurindam. Barangkali Awkarin sedang swafoto di Gedung Gonggong atau Patung Seribu. Buru-buru bisa lekas meluncur ke sana. Dapat sejepret atau dua lantas diunggah ke media sosial tentu akan menaikkan martabat seorang pengguna Instagram. Dalam posisi ini, AWK jadi kunci.

Sosoknya yang kontroversial, dalam tataran sedemikian, bisa jadi terabaikan. Nyatanya, walau ia mendaku penuh dosa tak lantas mengurangi jumlah penghasilannya dari kanal Youtube maupun Instagram. Bagaimana pun keberadaan Awkarin yang notabene jebolan sekolah menengah di Tanjungpinang turut melejitkan Kampong Kite ini ke kancah nasional. Sebab setakat ini, (koreksi kalau saya keliru), saya belum melihat anak muda dari Tanjungpinang yang jumlah pengikutnya di media sosial melebih sosok Karin Novilda ini.

Sekali lagi, AWK adalah kunci. Remaja usia 17—21 tahun mengenalnya dengan sangat baik. Dan, jangan pernah lupa, pada Pilkada Tanjungpinang tahun ini, ada 4.337 pemilih pemula yang untuk kali pertama menyalurkan hak pilihnya. Total suara itu sudah mewakili sekitar lima persen dari total pemilih. Ceruk pemilih potensial yang tidak kalah penting disasar masing-masing calon wali kota.

Tengah pekan kemarin, sudah jelas bahwasanya Pilkada kita akan diisi dua pasangan calon saja. Syahrul-Rahma mendapat nomor undi satu, dan nomor undi dua buat Lis-Maya. Hingga tulisan ini dibuat, saya belum melihat gelagat masing-masing tim sukses dari pasangan ini PDKT dengan Awkarin. Memang, agak susah ‘menaklukkan’ hati seorang Selebgram kesohor macam dia. Tapi, bukan tidak mungkin. Percayalah (analisa sembarang saya ini), siapa yang merebut hati Awkarin, akan dengan mudah merangkul pemilih pemula.

Ini mumpung keberadaan AWK belum dimanfaatkan KPU sebagai Duta Pemilih Pemula Pilkada Tanjungpinang, yang membuatnya terjebak pada netralitas dalam bersuara di media sosial. Efektivitas dari kampanye via unggahan Awkarin, bisa jauh lebih efektif ketimbang memasang baliho yang wagu itu dan belum tentu orang (apalagi pemilih pemula) menyukainya. Bayangkan saja dari 2,8 juta pengikutnya, sepaling tidak lebih dari separuhnya akan melihat poster kampanye, beribu-ribu love dan komentar akan berjejalan, lalu tingkat popularitas kandidat akan melejit.

Baik Pak Syahrul atau Bang Lis mesti menyimak wajah Pilkada Jawa Timur. Di provinsi kelahiran saya itu, Gus Ipul emoh kecolongan oleh Khofifah. Seketika usai memantapkan dirinya maju sebagai calon gubernur, ia lekas menggamit Via Vallen dan Nella Kharisma. Tentu bukan tanpa alasan. Baik Via maupun Nella adalah magnit bagi ribuan warga Jawa Timur. Sekali keduanya berdendang dan bergoyang di atas panggung, susah menolak godaan untuk tidak datang. Lalu, bisa saja Via-Nella kemudian menggubah lirik Sayang atau Jaran Goyang itu dengan slogan kampanye Gus Ipul–Puti. Tak terbayangkan jumlah massa yang akan hadir dalam kampanye akbar pasangan ini. Semua tak lebih dan tak bukan karena duo Via-Nella yang tidak terbantahkan.

AWK punya potensi yang sama. Ketika nanti pentas kampanye akbar digelar di Pamedan atau Tepi Laut, ia bisa saja berdiri paling depan dengan mengenakan jaket bomber lengkap dengan emblem berkenaan pasangan yang didukungnya. Setelah melakukan orasi sejalan dengan nge-vlog, ia tentu boleh bernyanyi di sana. Biar lebih aduhai, calon wakil wali kota yang semuanya perempuan, boleh menemaninya bernyanyi. Bu Rahma atau Kak Maya tentu bisa berdandan lebih SWAG dengan langgam streetwear agar sepadan dengan AWK. Dan jangan lupa mengingatkan Awkarin agar ketika kampanye semacam itu, ia menyiarkannya secara langsung di Instagram. Se-Indonesia, bapak-ibu, akan menyaksikan kampanyenya!

Menyenangkan, bukan jika menggaet AWK menjadi jurkam? Tapi asal tahu saja, tidak mudah menggaet remaja ini. Ikatan emosional pernah menempuh studi di Tanjungpinang tidak lantas bisa jadi dalih untuk kerja politik sedemikian. Kemarin saja ia sempat bikin jajak pendapat soal kepulangannya kemari. Karena itu tentu harus ada hitung-hitungannya.

Saya ingin berikan gambaran, dikutip dari tempodotco, jumlah duit yang masuk ke rekening AWK tiap bulan bisa mencapai Rp 70 juta. Itu pun dua tahun lalu, ketika pengikutnya belum mencapai satu juta. Jikalau sekarang, mungkin nilainya bisa sampai dua atau tiga kali lipat yang masuk ke celengannya. Tambahan lagi, itu belum termasuk biaya promosi di akun Youtube-nya yang fenomenal itu. Awkarin sungguh kaya, kita bukan apa-apa di hadapannya.

Karena itu, bagi Pak Syahrul atau Bang Lis yang ingin ‘merebut hati’ Awkarin mesti siap merogoh koceknya dalam-dalam. Toh, dalam politik memang tidak ada makan siang yang benar-benar gratis, bukan?

Jikalau memang tak sanggup menggaet hati seorang Awkarin, bukan masalah. Masih ada banyak stok juru pengaruh (influencer) tempatan yang bisa menjadi daya pikat sendiri untuk masa kampanye nanti. Oke, kalau memang perlu menyebut satu nama, daftar teratas yang saya punya adalah Raja Ali Haji.

Anda tidak salah baca, bapak-bapak ibu-ibu. Sungguh, ketimbang AWK, RAH punya pengaruh yang lebih luas. Amat luas, malahan. Dia adalah sosok yang merawat bahasa Melayu Kampong Kite yang kemudian jadi biang bahasa persatuan kita, bahasa nasional kita. Tanpa jerih payahnya, ketunakannya, kesungguhannya, dalam merawat bahasa Melayu, tak terbayangkan dengan bahasa apa bangsa yang terdiri ratusan suku ini bisa bersatu.

Bayangkan saja, andaikata tidak ada bahasa Indonesia dalam tiga jam saja, niscaya pelayanan di kantor-kantor pemerintahan bisa lumpuh, transaksi di bank bisa tersendat, penjual bilis kewalahan menjelaskan harga, dan percintaaan muda-mudi beda suku juga bisa terganjal. Dan semua ketakutan itu tidak pernah terjadi karena pengaruh seorang Raja Ali Haji. Dialah juru pengaruh sebenarnya!

Tapi untuk dapat memanfaatkannya sebagai ‘alat kampanye’ juga bukan hal yang mudah. Bukan pula urusan jumlah doku di saku. Melainkan mesti dibayar lewat komitmen. Komitmen kelak jika terpilih membuat suatu pekerjaan besar melanjutkan kerja-kerja perawatan dan pemulian bahasa dan bukan cuma menziarahi kuburnya di hari-hari besar belaka. Komitmen mengenalkan sosok pahlawan nasional di bidang bahasa ini kepada generasi muda, dan bukan cuma sibuk menyitir Gurindam Dua Belas-nya pada setiap pembuka pidato saja.

Ketimbang menggandeng AWK yang hanya bisa menyasar empat ribu pemilih pemula, bersama RAH, simpati warga Tanjungpinang, juga Kepulauan Riau, dan bahkan penduduk Indonesia bisa dengan mudah diberi. RAH bukan sekadar simbol dari kejayaan masa silam. Ia abadi lewat senarai jasanya yang tepermanai. Beranikah Pak Syahrul? Maukah Bang Lis?

Saya kira jawabannya, akan seperti ini bunyi frasanya: tepuk dada tanya selera.***

Catatan FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here