Siapa yang Mau Jadi Walikotaku?

0
669
Dian Fadillah, S.Sos

Dian Fadillah, S.Sos
Pengurus gema Kota Tanjungpinang

Siapa yang mau jadi Walikotaku? Itu pertanyaan tantangan yang perlu diucapkan oleh setiap masyarakat di Kota ini Tanjungpinang Bumi Segantang Lada khususnya Bunda tanah melayu. Kota Tanjungpinang sebagai satu kesatuan dengan Kabupaten Bintan tetapi merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dalam kancah politik. Apakah itu dinilai dari Lumbung suara, pengaruh incumbent atau berapa gerakan mesin partai dalam mengejar dan semangat mendekati rakyat. Lebih cepat lebih baik. Cepat merapat ke masyarakat mengisyaratkan nama si kandidat akan terukir dibenak masing masing apalagi memberikan kesan yang permanen dalam hal bantuan yang dirasakan dalam bentuk fasilitas umum (Tolet umum, pos ronda dan perhelatan ditengah masyarakat dalam sumbansih senibudaya local ataupun luar daerah. Konsep pematangan di tengah masyarakat akan mengingat siapa siapa yang peduli rakyat dan bukan hanya sesaat. Muaranya adalah pada saat Pesta Demokrasi disitulah masyarkat bersuaran dan menghasilkan nilai yang terkadang tidak bisa diduga koleh mkompetpetitor atau team survey masing masing.

Pola pola standar yang berkenam dihati rakyat memang keluar dari suatu pencerminan pribadi calon yang ikhlas, sopan dan penuh dengan suasan keakraban yang perlu diciptakan. Apakah itu upaya memenuh undangan hajantan, udnangan sunatan, undangan gotong royong atau skala yang lebih besar dari itu. Bagaimanapun semua itu harus dipastikan Perjuangan baru dimulai. Bulan Juli ke desember 2017 ini merupakan moment cantik untuk mengambil hati. Tingginya kerajinan partai, si calon akan nampak muncul di media massa meskipun ada yang malu malu. Boleh boleh saja startegi yang dibuat untuk mengcounter semua itu akan tetapi kita harus ingat bahwanya gerakan yang dilakukan harus tetap mermberikan ritme yang bagus agar tidak ada kesan dipaksankan untuk muncul. Sudah mulau terlihat Partai memulai membuka pencalonan dengan syarat-syarat tertentu. Ada yang berasala dari orang umum (masyarakat), kalangan rligi, tokoh masyarakat, orang, ormas dan petahana.

Komunikasi saling mengamati dan saling mengawasi gerak masing masing secara bergantian. Petahana ataupun tidak petahana bukanlah hal yang penting di mata masyarakat. Masyarakat juga tidak terlalu paham dengan yang namanya elektabilitas dan popularitas sebagai senjata yang ampuh yang digunakan. Kolarasi 2 tugas besar dalam 1 diri atau kolabraorasi 2 tugas di dua diri setidaknya bisa menjadi suatu jalan keluar untuk mendapatkan pilihan. Tinggal berbagi tugas mana tugas orang no. 1 dan mana tugas orang no. 2 sehingga masing masing saling mengisi kekurangan sehingga dapatlah tercipta hubunan haramonis antara satu denga yang lain. Banyak kisah kolaborasi di Europe dan America dalam kesuksesan duo pendekar untuk satu tujuan. Sukses berbagai maka sukses bekerjasama. Pola Usaha Kegiatan Masyarakat dengan mengupayakan jiwa mandiri di masyarakat merupakan pola yang diterapkan oleh enternprenuer dan pengusahan sukses menjadi pemimpin. Banyak sesuatu yang tidak masuk akal terjadi terwujud diluar pikiran mansusia. Kata dan kalimat yang diucapkan oleh si calon merupakan arah yang jelas menuju pemilihan yang dapat diprediksi sementara ini dengan rangkaian intelektual dan tanggungjawab moral di diri dan masyarakat.

Baca Juga :  Fenomena Perjuangan Kaum Gay

Banyak masyarakat tidak tahu sama sekali tentang politik dan tetek bengeknya dan ada apa yang dikatakan, apa yang dibicarakan belum tentu itu tujuannya karena bagaikan itu adalah sebagai sebuah interupsi yang menjadi tujuan suatu popularitas. Popularitas yang sudah dimiliki pasangan atau figure pribadi dengan seringnya tampil di depan publik dapat meningkatkan/menurunkan elektabilitas yang secara kemajemukan memiliki popularitas dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Begitu juga sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas yang akan menjadi orang yang populer. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa kita tidak tahu kapan Allah swt akan menurunkan tangannya dengan membolik balik hati untuk mengembalikan niat untuk menjadikan Tanjungpinang Kota Kreatif.

Polarisasi sebagai penentu suatu hasil yang maksimal bukanlah suatu pilihan yang absolute dan untuk mengejar popularitas tidak boleh mengabaikan elektabilitas. Banyak hal sudah dibuktikan dari hasil pemilihan. Menuju suatu keadaan dalam persatuan dan kesatuan yang utuh. Sebagai sebuah objek Hot News yang mengejutkan sangat kompleks dijadikan ikon baru sepanjang masa kampanye yang santun kepada semua orang. Orang yang memiliki elektabilitas tinggi seperti adalah orang orang yang dikenal baik secara meluas di tengah masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki cara nbicara yagn baik dan kinerja bagus meskipun memilik jabatab tidak setinggi yang lain tertama hanya memahani sedikit pengalaman dibidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi ada juga yang sudah menjabat sehingga memiliki kekuatan untuk bicara panjang lebar diatambah bukti sehingga dalam debat dapat memperlihatkan kepiawaiannya dengan memperkenalkan kepada audiensi sehingga tidak ada kemungkinan akan menjadi tidak elektabel.

Baca Juga :  Lingga, Permata yang Tersembunyi

Seseorang yang berpendidikan tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena adanya ketepatan yang mempopulerkannya.  Elektabilitas disesuaikan dengan kriteria pilihan bisa diterapkan kepada orang yang memilih menjelang suatu pemilihan dilakukan. Elektabilitas realita partai politik mempunyai tingkat keterpilihan di depan public. Elektabilitas partai memiliki daya pilih yang tinggi Untuk meningkatkan elektabilitas sehingga sebagai sebuah objek elektabilitas setidaknya memenuhi criteria sedangkan disisi lain harus memiliki tingkat keterkenalan di mata public dan layak untuk dipilih atau tidak dipilih. Sekarang itu semua tergantung pada teknik pendekatan kemasyarakatan melalui kunjungan kerja, home visit dengan mendengar keluhan dan keinginan warga serta memecahkan permasalahan di tengah tengah masyarakat untuk 5 tahun ke depan. Apakah itu masalah pengangguran, perumahan, ataupun jalan raya, banjir yang selalu membayangi sebuah ibukota Negara Indonesia.

Dalam masyarakat yang masih belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan akan tetapi yang perlu diingat, tidak semua kata, kalimat dan pembicaraan kita sampaikan ke semua pihak. Ada hal yang menyentuh kepentingan umum tetap menjadi skala priritas daerah. Sementara itu harus dapat disikapi sebuah kampanye penyuaraan makan minum yang berkedok sebagai bantuan kepada masyakat dengan tujuan untuk mempengaruhi pilihan orang lain sehingga berpengaruh kepada keputusan.

Langkah kita sekarang adalah Mari kita lihat hasil pemilihan DKI 1 dan 2 sebagai dasar kita untuk memilih produk yang terbaik? Pasti ada hal yang mendasar yang membuat kandidat itu menjadi pilihan hati untuk hitam putihnya Jakarta. Satu unggulan yang memiliki tingkat keterpilihan tinggi dengan tetap melihat ke popularitasan manusia secara utuh. Semua calon sebenarnya memiliki tingkat kepopuleran yang tidak jauh berbeda. Elektabilitas sosok yang akan dipilih terkadang tidak mementingkan nama partai peserta pemilu yang mengusung. Apakah ada jaminan penentu pilihannya itu berada di kelompok popularitas atau malahan elektabilitas, Ternyata nilai Personality Plus sebagai pribadi masing masing sangat mencuri perhatian pemilih di daerah dari pada partai-partai politik dan tokoh-tokoh yang yang mendukung dibelakang. Alasan dan ulasannya pun muncul sebelum dan sesudah pemilihan nanti. Rakyat tetap menganggap daerahnya sebagai rumah besar kita dengan menunggu sambil berdoa hasil pemilihan ini menjadi tujuan akhir dari suatu perjalanan dan harapan daerah untuk mengharapkan adanya kemajuan. Rakyat kecil perlu gerak cepat dan bukan sekedar popularitas belaka.

Baca Juga :  Tujuan dari Suatu Hukum (Maqoshid Syariah)

Masyrakat hanya ingin bukti, mereka tidak perlu pemimpin nya sering tampil di media massa sehing dikenal tapi melupakan warga yang membutuhkannya Keputusan yang telah menyebabkan beberapa pihak kecewa karena kekalahan satu pihak atau kubu dinilai sebagai suatu langkah standar dalam perkembangan demokrasi sehingga masih dicarikan cara untuk mempercepat keputusan yang mendukung masyrakat. Banyak kegagalan dan kegalauan sebagai suatu keputusan itu dan bukanlah suatu perkara yang mudah. Tentunya proses demi proses akan berjalan harus secara lebih cepat sehingga Pemilukada Tetapi satu hal prinsip yang harus menyenangkan rakyat secara keseluruhan. Anda, saya dan kita semua punya niat baik untuk memajukan Negara ini melebihi apa yang dirasa untuk memberikan kehidupan lebih baik dan menuju standar yang lebih tinggi. Berbagai figure yang sudah bermunculan atau sengaja dimunculkan melalui cara cara tertentu serta sudah diadu domba tanpa peduli akan menghasilkan keburukan apapun akan dapat kembali membaik untuk menghindari ancaman yang lebih besar dalam menjaga keutuhan NKRI sebagaimana yang diharapkan oleh The Founding Father Soekarno-Hatta sehingga Pemerintah sebagai moratorium yang merupakan otorisasi legal untuk menunda suatu kewajiban tertentu selama batas waktu yang ditentukan bahwa moratorium adalah keputusan berdaulat dari sebuah pemerintahan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap kesejahteraan rakyatnya. Menurut Bung Karno “ Memproklamasikan Negara adalah gampang, tetapi menyusun Negara, mempertahankan Negara, memiliki Negara buat selama-lamanya adalah Sukar”. Selamat untuk Anies-Sandi dalam menjadi Gubernur baru DKI Jakarta peiode 2017-2021 bisa menjadi percontohan di seluruh wilayah kedaulatan Indonesia sebagai replica atau cloning pemilihan termasuk untuk pemilihan Walikota Tanjungpinang tahun depan! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here