Siapkan Diri Sambut Ramadan

0
84
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Sekretaris Wilayah Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Kepulauan Riau

Alhamdulillah bulan Ramadan yang sudah lama kita nanti segera tiba. Apakah kita gembira? Tentu ya, namun sejauh mana kita mempersiapkannya dan bagaimana kita menyikapi bulan yang sangat mulia dan ditunggu oleh setiap orang-orang yang beriman. Untuk itu kita pun dua bulan sebelumnya terus berdoa , “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan.” Kita sangat menantinya dan kita harapkan Ramadan tahun ini merupakan bulan kemanusiaan dan meningkatkan solidaritas kita sebagai umat.

Ada empat persiapan yang menurut penulis penting kita lakukan dalam menghadapinya. Pertama, Niat yang sungguh-sungguh. Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, sekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula (www.sarkub.com).

Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

Kedua, bertaubat dengan sungguh-sunguh. “Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah. Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya.

Ketiga, mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain. “Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut.

Keempat, persiapan fisik dan jasmani. Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih).

Memaknai Ramadan
Kita tentu tidak ingin bulan Ramadan kita dari tahun ke tahun terlewatkan tanpa kesan dan tentunya kita menginginkan Ramadan ini adalah Ramadan terbaik karena belum tentu kita akan melewatinya kembali dengan dianugrahi umur yang panjang. Dengan demikian, Ramadan tahun ini harusnya memberikan kontribusi bagi pengokohan keimanan kita, kebangsaan dan rasa kemanusiaan.

Dalam hal ini, ada tiga ibadah yang begitu lazim kita lakukan pada bulan Ramadan yaitu puasa, membaca Alquran dan zakat. Ketiga ibadah ini menurut hemat penulis merupakan upaya dalam meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dalam konteks hubungan kepada Tuhan dan meningkatkan rasa kemanusiaan kita agar lebih berempati atau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Defenisi puasa yakni menahan diri dari hawa nafsu berupa lapar, haus, syahwat kepada wanita dan sebagainya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan ikhlas karena mengharapkan keridhoan Allah semata. Sehingga kita mengetahui bahwa tujuan puasa adalah meningkatkan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT. “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah:183).

Puasa adalah bukti bahwa kita adalah orang-orang yang beriman sesuai dengan ayat diatas. Dalam konteks kebangsaan, ternyata Ramadan juga merupakan bulan perjuangan, kemerdekaan negeri ini dan sejarah peperangan juga banyak didapatkan kemenangan-kemenangan yang Allah SWT tunjukkan. Nah, di bulan yang mulia ini juga ada ibadah zakat. Zakat merupakan sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh pemeluk agama Islam untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima, seperti fakir miskin dan semacamnya, sesuai dengan yang ditetapkan oleh syariah.

Zakat mengingatkan kita terhadap golongan-golongan yang belum beruntung untuk disantuni. Dibarengi dengan zakat ada infak dan sedekah. Melalui zakat, infak dan sedekah inilah rasa kemanusiaan kita muncul. Saat ini, kita cukup beruntung bisa menjalankan ibadah dengan tenang dibandingkan umat Islam di Palestina dan beberapa daerah bencana lainnya. Mari kita sadarkan hati syukuri dengan memberikan donasi terbaik melalui lembaga-lembaga terpercaya karena Ramadan inilah momentum pengokohan dan bukti keberimanan kita kepada Allah SWT. Tanpa kepedulian kita tentu bulan Ramadan yang kita harapkan ganjaran pahala dari-Nya tidak berarti apa-apa karena kita mengabaikan prinsip kebersamaan atau kemanusiaan. Semoga kita tersadarkan akan hal ini.

Mengakhiri tulisan ini mari kita bersama berdoa, “Ya Allah bulan Ramadan telah hadir dan menaungi kami, jadikanlah dia kepada kami dan serahkanlah kami kepadanya. Anugrahkanlah kepada kami kesanggupan untuk berpuasa selama sebulan penuh, menegakkan ibadah selama malam-malamnya dan karuniakanlah kebahagiaan, kesejahteraan dan kebahagiaan kepada kami ,” Amin YRA. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here