Sibuk dengan Elektabilitas, Debat Jadi Tak Berkualitas

0
122
Muslim Hamdi

Oleh: Muslim Hamdi
Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara, UMRAH Tanjungpinang

Debat merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang bukan sekedar formalitas untuk memenuhi aturan prosedural undang-undang pemilu. Debat capres sangat penting sebagai instrumen dalam menguji kapasitas dan ketajaman visi-misi pasangan calon presiden dalam mengkonstruksi ataupun merekonstruksi bangsa Indonesia ke depan.

Debat juga merupakan sarana pendidikan politik agar masyarakat sebagai pemilih memahami apa visi-misi, program kerja dan strategi yang akan digunakan oleh para kandidat untuk mencapai semua cita-cita dan janji mulia yang ia ucapkan.

Pada debat pertama Pilpres 2019 yang bertema Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme menjadi momentum bagi publik untuk menguji kualitas para calon presiden. Kandidat menyampaikan visi-misinya secara terperinci dan menjelaskannya secara konkret, mulai dari program jangka pendek hingga jangga panjang dan program yang sifatnya berkelanjutan serta bagaimana strategi dalam mengatasi permasalahan terkait hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme.

Namun, yang terjadi tidak sesuai dengan ekpetasi publik. Debat yang dipertontonkan kepada publik yang dipublikasikan oleh mayoritas media nasional seperti sebuah pertunjukan besar yang minim subtansi, kering eksplorasi dan tidak berkualitas. Analisis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto mengatakan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga lebih banyak menjawab pertanyaan debat dalam tataran yang normatif dan umum. Kedua kandidat gagal menjelaskan langkah-langkah implementasi visi-misi dan program kerja secara nyata.

Minimnya penjelasan yang lebih khomperensif mengakibatkan debat perdana tersebut terkesan datar, berjalan monoton tidak ada pembeda dan suatu pembaharuan antara keduanya yang bisa menjadi referensi publik untuk bersimpati pada kedua kandidat. Hal ini jauh dari ekspetasi publik terlebih pemilih yang rasional. Debat yang sebelum hari-H sudah menjadi perbincangan panas media massa justru jauh dari persepsi dan analisis para pengamat politik, akademisi hingga masyarakat awam. Jadi istilahnya panas dari kejauhan, ketika didekati dan disentuh ternyata tidak panas.

Kemudian yang menjadi kekhawatiran dari debat perdana pilpres 2019 tersebut yaitu tidak memberikan pendidikan politik kepada masyarakat untuk memahami visi-misi dan strategi implementasi. Debat tersebut bukan menimbulkan rasa yakin terhadap kualitas calon pemimpinnya, justru menimbulkan rasa ambiguitas publik terhadap masa depan bangsa Indonesia apabila dipimpin oleh salah satu kandidat.

Sangat disayangkan debat yang seharusnya bisa menjadi salah satu tolok ukur dalam memilih calon presiden malah terkesan datar, minim substansi dan solusi dalam menjawab pertanyaan dari berbagai persoalan negara. hal yang menjadi sebab tidak berkualitasnya debat pilpres perdana tersebut yaitu dikarenakan para kandidat dan orang-orang dibelakangnya hanya sibuk bersaing menciptakan isu untuk membentuk opini publik, blusukan untuk ajang pencitraan dalam membentuk citra diri sehingga bisa berpengaruh dalam meningkatkan elektabilitas. Padahal elektabilitas hanyalah sekedar angka statistik yang belum tentu fakta dilapangan menunjukkan angka yang sama.

Seharusnya mereka para kandidat dan orang-orang di belakangnya belajar untuk beradaptasi dengan masyarakat, menggali permasalahan, mencari pertanyaan dan menghimpun keluhan-keluhan masyarakat. Kemudian menggali dan mengkaji apa yang menjadi akar dari permasalahannya, apa solusinya, bagaimana cara menyelesaikannya. Setelah itu mereka konsepkan dalam bentuk visi-misi , program kerja dan strategi yang berkualitas. Kemudian konsep tersebutlah yang seharusnya disampaikan dalam debat yang saling beradu ide dan gagasan untuk membangun Indonesia di masa depan sehingga bisa meyakinkan dan menarik simpati masyarakat. Dalam debat yang berkualitas tersebut barulah bisa meyakinkan publik bahwa kandidat adalan calon pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.

Apa yang terjadi pada debat perdana pilpres 2019 menjadi bahan koreksi dan evaluasi bagi KPU dan kedua kandidat capres-cawapres agar tujuan dari ajang debat bisa tercapai yaitu menggali eksplorasi dan menguji kompetensi sebagai parameter masyarakat dalam memilih pemimpin bangsa dan sarana pendidikan politik agar masyarakat menjadi cerdas untuk menciptakan pemimpin yang berkualitas, pemimpin terbaik yang mampu menjadi nahkoda bagi kapal besar Indonesia mewujudkan mimpi dan cita-cita kemerdekaan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here