Singapura Menunggu Hortikultura Bintan

0
1234
JUAL SAYUR: Petani mengangkat hasil sayurnya ke lori, ketika menjual di grosir Pasar Tani Toapaya, baru-baru ini. F-YENDI/TANJUNGPINANG POS

BINTAN – Tanaman sayuran dan hortikultura sangat tepat dikembangkan di Bintan, terutama sayuran organik tanpa pestisida. Karena pasar Singapura selalu siap menunggu produksi hortikultura dari Bintan dalam jumlah yang cukup besar.

Dahono Kepala Balai Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Kepri mengatakan luas wilayah Bintan yang hanya 4 persen terdiri dari daratan bukan merupakan kendala untuk pengembangan pertanian.

”Kami ada data di Bintan sudah banyak petani cabai. Bahkan ada yang mampu meraup keuntungan sebesar Rp 600 juta setiap musim tanam. Adalagi seperti bawang merah yang tumbuh baik di Toapaya. Ini menunjukkan Bintan cocok untuk sayuran dan holtikultura lainnya,” sebutnya.

Baca Juga :  Lintasan IBM Dipamerkan ke Media Singapura

Disampaikannya, hanya saja tanaman sayuran dan hortikultura di Bintan perlu dikembangkan secara organik, agar pasarnya menjadi lebih luas dan sampai ke kalangan menengah atas.

”Secara geografis, Bintan sangat jauh dari wilayah penghasil sayur besar seperti Jawa dan Sumatera. Namun dekat dengan negara Singapura. Nah peluang ini kan harus dimanfaatkan, dengan mengembangkan pertanian dan mengekspornya ke luar negeri,” ucapnya.

Dikatakannya, untuk itu Balai LPTP akan membina petani dengan melakukan pembinaan melalui teknologi yang tepat guna dan tepat manfaatnya.

Baca Juga :  Bupati Upayakan Tambahan Kuota Solar Nelayan

Mafia Pasar
Petani Bintan merasa bangga jika ada upaya pembinaan dari LPTP, untuk pengembangan pertanian. Selama ini, sayur kualitas ekspor sudah dikembangkan di daerah Wacopek. Tapi, kerja sama ekspor tidak lagi berjalan. Bahkan, Pemkab Bintan sudah mengucurkan dana ratusan juta dari APBD untuk pertanian di Toapaya. Tapi hasilnya tak jelas.

”Ini akibat mafia pasar di Tanjungpinang yang memainkan harga. Pedagang maupun tauke pertanian, tak mau membeli hasil pertanian petani lokal. Karena dianggap merusak harga pasar, untuk kepentingan pedagang. Mau tak mau petani lokal menjual dengan harga murah,” ujar Ison, seorang petani Bintan.(AAN-YENDI)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here